Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 31/XXXI/30 September - 06 Oktober 2002
   
Indonesiana

'Drakula' Pensiunan

MENJADI pensiunan serba tidak enak. Ini juga dialami Djanoto, pensiunan polisi di Banyuwangi, Jawa Timur. Gara-gara salah memilih hobi, dia diusir tetangganya. Lelaki 70 tahun ini juga mesti berurusan dengan aparat polisi, yang beberapa di antaranya mungkin bekas anak buahnya.

Kegemaran Djanoto memang aneh. Saat awal-awal menempati rumah kontrakannya di Perumahan Giri Mulya, Banyuwangi, dia langsung memborong 20 ekor ayam. Buat pesta? Bukan. Tanpa disembelih dulu, sebagian ayam itu langsung digunduli bulunya. Lalu, seperti drakula, dia menggigit leher ayam itu sampai tewas. Bangkainya dibuang begitu saja.

Baru sepekan dia tinggal di kompleks itu, ulahnya segera membuat gerah para tetangganya. Soalnya, setiap pagi selalu ditemukan bangkai ayam tanpa darah di jalan atau di halaman rumah Djanoto. "Mungkin darahnya diminum," kata seorang tetangganya.

Warga setempat lalu menelisik asal-usul lelaki tanpa anak dan istri ini. Ternyata, ketika tinggal di Rogojampi, Banyuwangi, dia punya kebiasaan yang sama. Karena diusir penduduk di situ, Djanoto mencoba tinggal di Giri Mulya.

Setelah mengetahui belangnya, warga di Kompleks Giri Mulya buru-buru menghubungi polisi. "Jadi, polisi yang menyuruh Djanoto pergi," kata aparat desa setempat. Bekas Kepala Seksi Sabhara Kepolisian Sektor Rogojampi itu akhirnya angkat kaki dengan membawa semua perabot rumahnya plus 10 ekor ayam.

Diduga, dia tengah mempelajari ilmu santet. Untuk mendapatkan ilmu ini, menurut paranormal Permadi, jalannya beragam. Kebiasaan yang dilakukan Djanoto memang mencurigakan. Anggota parlemen itu khawatir jika suatu saat ayam tak terbeli lagi. "Jangan-jangan darah orang yang diminum," kata Permadi.

Komentar Djanoto? Dia tak sudi disebut sebagai dukun santet. "Buktikan kalau memang ada yang saya santet," ujarnya menantang. Bahkan lelaki ini siap disumpah pocong. Dia juga mengelak dianggap melanggar "hak asasi ayam". "Mau saya gunduli atau saya sembelih, terserah saya. Wong itu ayam saya sendiri," ujarnya jengkel.

gung Rulianto, Kukuh Wibowo (Sumenep), Bibin (Banyuwangi)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data