|
SEMUA orang tahu, kepala pusing atau badan lemas bukanlah penyakit menular. Tapi, di SMU Negeri 1 Sumenep, Madura, Kamis dua pekan silam, kedua penyakit ini bisa merambat dengan cepat dan membuat pingsan belasan siswi.
Mula-mula Ika, siswa kelas 3 IPA, yang pusing-pusing, lalu jatuh pingsan di kelasnya. Lalu beberapa temannya terkena gejala yang sama dan kemudian ikut ambruk. Kontan kelas pun gaduh. Sejumlah anak sampai menjerit karena ketakutan.
Tak lama berselang, penyakit aneh ini juga menimpa Risma, di kelas 3 IPS, yang cukup jauh dari kelas Ika. "Saya mendengar jeritan anak-anak IPA itu. Kepala saya lalu pusing, badan lemas, dan tiba-tiba semuanya menjadi gelap," kata Risma.
Saat itu Risma langsung digotong teman-temannya ke ruang kesehatan. Anehnya, korban baru terus berjatuhan. Tubuh Roslina, siswi di kelas lain, langsung menggigil dan dia jatuh pingsan ketika melihat rombongan yang menggotong Risma melintas. Wabah ini terus menyebar hingga total korbannya mencapai 17 siswi.
Kejadian itu bukan pertama kalinya. Mei lalu, pagebluk yang sama telah menimpa sekolah itu. Malah korbannya lebih banyak, mencapai 75 anak. Seperti pada kejadian kedua, semuanya anak perempuan.
Roslina termasuk yang menjadi korban dua kejadian itu. Peristiwa Mei, kata dia, berlangsung tak lama setelah sejumlah murid laki-laki bermain jelangkung di sekolah. Roslina, yang hanya menonton "permainan roh" itu, langsung merasakan jiwanya melayang. Bahkan saat itu dia bisa melihat tubuhnya sendiri yang sedang duduk. "Setelah itu, saya pingsan," ujarnya.
Pergunjingan adanya setan, jin, gondoruwo, dan sejenisnya di sekolah itu segera menyebar. Para siswi itu diduga kesurupan alias disusupi roh yang gentayangan. Seorang kiai yang datang ke tempat kejadian juga membenarkan adanya jin penunggu sekolah. Menurut sang Kiai, jin itu marah karena tidak pernah ada yang mendoakannya. Tapi dia tidak menjelaskan kenapa jin memilih anak perempuan sebagai korbannya.
Hanya, Dokter Sri Agustina, yang menolong para korban, punya teori lain. Kata dia, para korban menunjukkan tanda-tanda kurang gizi. Akibatnya, penyakit asli mereka seperti mag, asma, dan stres karena menghadapi ujian gampang kambuh. "Kalau perut kosong, halusinasi atau ilusi gampang menyerang," kata Bu Dokter.
Disebut kurang gizi, Roslina dan keluarganya jelas tersinggung. TEMPO menemui putri Mochamad Ruslan, pejabat di Sumenep, ini di rumahnya, yang memiliki parabola tertancap di atas genteng. "Sejak kecil, makan saya teratur dengan gizi yang cukup," kata Roslina kesal.
Tapi Kepala SMU Negeri 1 Sumenep, Nursahid Sani, tetap lebih percaya kepada Bu Dokter. "Lebih baik saya berpikir ilmiah daripada terjebak syirik," katanya. Kini dia menyarankan agar siswanya selalu sarapan dan membawa permen ke sekolah supaya tidak gampang pingsan.
gung Rulianto, Kukuh Wibowo (Sumenep), Bibin (Banyuwangi)
|