Situs Berita tanpa Wartawan Situs pencari terbesar, Google, menyediakan layanan baru: berita. Kualitasnya diragukan. |
DIA tak punya wartawan ataupun redaktur. Nyaris tak memerlukan seorang manusia pun. Semuanya dikerjakan oleh mesin dan mesin, mulai dari mencari, menuliskan, sampai memublikasi berita-beritanya. Itulah Google News, layanan situs berita terbaru dari Google yang resmi keluar pertama kali Senin pekan lalu.
Google (google.com) merupakan situs pencari informasi terbesar. Didirikan oleh Larry Page dan Sergey Brin, dua sekawan lulusan Ilmu Komputer Universitas Stanford, pada 1998, nama situs ini sejatinya pelesetan dari kata "googol", suatu istilah dalam matematika, melambangkan angka 1 yang diikuti 100 angka nol. Istilah tersebut diciptakan oleh Milton Sirotta, keponakan matematikawan terkemuka di Amerika, Edward Kasner.
Sebagai mesin pencari, Google melayani tak kurang dari setengah miliar permintaan informasi setiap hari. Hebatnya, situs ini nyaris selalu mampu menjawab pertanyaan tentang suatu topik atau kata kunci yang diketikkan pengakses. Kemampuan menampilkan jawaban pun luar biasa. Jutaan halaman informasi bisa muncul dalam waktu setengah detik.
Google News (news.google.com) juga tergolong besar. Setiap hari situs ini menampung laporan dari 4.000 situs berita di seluruh dunia. Semua informasi dimasukkan dalam beberapa kategori seperti world, business, entertainment, technology, dan sports. Pengakses yang membutuhkan berita terakhir tentang rencana serangan Amerika ke Irak, tragedi penyerangan kuil Hindu di India, atau hasil pertandingan Manchester United di Liga Champions, silakan berkelana ke situ.
Sebelum Google, ada Newsnow dan Moreover, yang lebih dulu menyediakan layanan sejenis, yakni sebagai pengumpul berita. Tapi keduanya tak sesukses Google dalam menjaring pengakses.
Sebagai mesin berita, Google News berbeda dengan situs berita seperti tempo.co.id, bbc.co.uk, atau usatoday.com, yang memanfaatkan peran seorang redaktur sebagai penyeleksi dan penulis berita. Situs ini melulu mengandalkan komputer (mesin) sebagai pengumpul berita. Perusahaan yang bermarkas di California itu bahkan tak mempekerjakan seorang jurnalis pun.
Pusat komputer Google bekerja otomatis, mengambil berita yang ada di berbagai situs di seluruh pelosok jagat maya, lalu menampilkannya dalam bentuk pranala (link). Peminat yang ingin membaca bisa langsung mengeklik pranala tersebut untuk dibawa ke tempat asal berita itu berada, misalnya tempo.co.id.
Komputer pencari berita bekerja dengan sistem pemeringkatan. Setiap berita diberi peringkat berdasarkan aktualitasnya. Berita terbaru ditaruh paling atas, diikuti judul berita yang sudah lebih dulu muncul. Dan setiap judul berita biasanya diikuti keterangan waktu, misalnya 45 menit yang lalu. Ini berarti berita tersebut pertama kali muncul di situs aslinya 45 menit yang lalu. Dengan demikian, pembaca selalu bisa mendapatkan berita yang terkini dari seluruh penjuru jagat. "Isi halaman depannya tak jauh berbeda dengan apa yang terpampang di situs kami," kata Douglas Feaver, Redaktur Eksekutif washingtonpost.com.
Toh, beberapa analis meragukan nilai layanan baru itu. Alasan mereka, Google gagal menjenjang kabar berdasarkan kualitasnya. Berita yang dimunculkan melulu berdasarkan kebaruan berita dan bukan kelayakannya. Akibatnya, berita yang oleh kebanyakan media dianggap layak menjadi berita utama oleh Google justru ditempatkan di bagian paling bawah hanya karena sudah kedaluwarsa beberapa jam.
Selain itu, Google bisa terpeleset menghadirkan berbagai cerita yang tak lazim, di luar konteks, dan kadang berlawanan dengan berita yang tengah jadi sorotan di mana-mana.
Bukan cuma itu. Google News kadang membawa pembaca berkelana terlalu jauh dari tempat kejadian. Cerita tentang ledakan bom di Kota Basque, Bilbao, misalnya, kalau diklik akan mengarahkan pembaca ke situs koran South China Morning Post di Hong Kong. Kabar tentang merosotnya popularitas Perdana Menteri Inggris Tony Blair gara-gara sikapnya terhadap rencana penyerangan Amerika ke Irak membawa pengakses internet ke situs Times di India. Dua berita itu sama-sama bersumber dari satu kantor berita, Agence-France Presse, yang kemudian dikutip oleh pelbagai media. Tak ada gading yang tak retak, memang.
Wicaksono
|