Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 31/XXXI/30 September - 06 Oktober 2002
   
Gaya Hidup

Di Atas Sadel Motor Lawas

Sepeda motor antik dikoleksi sebagai gaya hidup. Agar motor tampil seperti aslinya, para kolektor terpaksa memburu suku cadang sampai ke negeri asalnya.

Kesibukan lewat tengah malam Rabu pekan lalu masih berlangsung di depan garasi sebuah rumah di bilangan Depok, Jawa Barat. Potongan mesin, aneka sekrup dan kunci pas berserakan di lantai. Empat orang asyik mengerumuni sepeda motor yang perutnya tengah dibongkar. Lampu yang bulat besar anggun tampak di kepala motor yang bercat hitam. Motor itu bermerek Ariel, produksi Inggris tahun 1941, milik Lusimin S. Putranto, 60 tahun, sang empunya rumah.

Inikah bengkel yang buka 24 jam? Inilah sekretariat penggemar motor antik Depok Oud Motorklub (DOM), yang dipimpin Lusimin. Di garasi dan halaman depan berjajar 17 motor tua berbagai merek dan tahun pembuatan. Sebagian masih antre untuk diutak-atik. Kegiatan memang meningkat sebagai persiapan DOM mengikuti acara kumpul motor antik Sunset Blues di Sanur, Bali, pada 5-6 Oktober pekan depan.

Motor lawas memang memikat. Usianya cukup tua, sekitar 50 tahun, tapi rata-rata sosoknya seksi. Banyak lekukan membulat, lampu-lampunya unik, sadel besar dari kulit, rangka bodi kadang rumit berpadu knalpot yang bersuara besar sangat khas. Jauh berbeda dibandingkan dengan umumnya sepeda motor masa kini yang berbentuk lancip dan statis.

Sebagai barang langka, motor-motor antik dan orisinal hanya muncul pada acara tertentu. Misalnya parade ulang tahun Motor Antique Club Indonesia (MACI) di Solo akhir Mei lalu. Juga Borobudur Bike Week 2002 di Yogyakarta pertengahan Agustus silam. Puluhan motor lawas dari berbagai daerah di Indonesia mejeng bersama ratusan motor besar Harley Davidson.

Motor tua juga unik, dan riwayatnya seru. Misalnya motor BSA Sloper yang dikoleksi Hoentoro Hadiwidjojo, pengusaha yang tinggal di bilangan Perumahan Permata Hijau, Jakarta Selatan, yang diproduksi tahun 1928. Isi perut motor bermesin 493 cc ini tampak telanjang pada komponen stut atau batang penekan katup. Kemudian lampunya harus dinyalakan dengan bahan bakar karbit. Terakhir, transmisinya juga masih menempel di tangki.

Motor BSA itu komponennya didatangkan dari Australia. Awalnya kondisinya persis bangkai dengan sasis dan bodinya saja yang berbentuk. Kemudian dibangun dan dibeli oleh kolektor. Tak jelas riwayatnya, tahu-tahu sudah nongkrong di garasi Gunawan Linardi alias Ayen. Dari Ayen inilah motor berpindah ke Hoentoro. Motor yang berdaya 19 tenaga kuda itu masih bisa diajak jalan-jalan sore di sekitar Permata Hijau.

Lebih gila apa yang dilakukan Juned, 43 tahun, yang juga Ketua Motor Antique Club Indonesia Jakarta. ”Dokter” motor lawas yang tinggal di Cawang, Jakarta Timur, ini bulan April lalu memboyong dari Semarang sebuah motor klasik yang diperkirakan produksi di bawah tahun 1912. Pemilik motor lawas jenis DKW tahun 1957 dan BSA M-20 tahun 1948 tersebut langsung kesengsem padahal kondisinya mirip bangkai karatan teronggok tanpa roda. ”Saya kagum dan langsung membelinya,” kata Juned, yang merogoh kocek hingga Rp 20 juta.

Ketertarikan Juned karena bodi dan rangkanya utuh. Juga mesin 700 cc dan starter engkol, walaupun tak bisa dinyalakan. Selain itu, lampu depannya eksotis. Terbuat dari logam kuningan, lampu berbahan karbit (asetilen) itu mirip lampu delman. Dalam pengamatan TEMPO, wujud motor uzur itu sangat sederhana, mirip gambaran sepeda di Eropa pada abad ke-17. Penggerak rodanya tanpa rantai. Konon, motor itu bekas milik pengusaha Nitisemito, perintis rokok kretek di Kudus era penjajahan Belanda.

Lucunya, motor tanpa identitas itu sekarang hanya disimpan di gudang. Bujangan asal Kediri itu tampak santai ketika membangunnya kembali. Semula ia sudah pusing tujuh keliling mencari informasi suku cadangnya. Berdasarkan pengalaman 15 tahun menggeluti motor lawas serta riset di internet, Juned menduga mereknya Zenith, produksi 1912. Mesinnya sama persis, bertitel JAP dari London, Inggris. ”Pabrik itu hanya membuat mesin. Pada tahun 1940 JAP bangkrut. Berarti memang setengah mati mencari suku cadang aslinya,” kata Juned tergelak.

Kesulitan pernah pula menerpa Wariyok Amak, 67 tahun, saat membangun Norton T-18 produksi 1922. Sesepuh klub Penggemar Montor Udhug Surabaya ini mendapatkannya tahun 1992 di Kertosono, Jawa Timur, dalam keadaan memelas. Harganya Rp 15 juta. Dua tahun dibangun dengan memburu onderdil asli, akhirnya bisa jalan. Namun baru tiga pekan lalu pensiunan pegawai perusahaan bongkar muat itu memperoleh onderdil asli untuk tabung tempat karbit dan airnya nun di Solo.

Amak lupa berapa uang yang sudah dikeluarkan untuk membangun dan merawat Norton-nya sehingga laik jalan. ”Wah, kalau jumlah dana yang tersedot saya tidak ingat,” kata Amak, yang menolak menjualnya walaupun ditawar Rp 60 juta. Kini, sebagai klangenan, Norton antik itu sering dipakai oleh arek Suroboyo yang punya empat motor antik lain ini buat jalan-jalan di Surabaya tiap akhir pekan bersama istri dan ketiga anaknya.

Jalan lebih berliku sempat dilakoni Lusimin saat membangun Sunbeam S-8 produksi 1952. Setelah menebusnya dari rekannya pada 1994, karyawan Astra Honda Motor tersebut seketika kebingungan karena mesin dan sistem listriknya rusak. Apalagi catnya terkelupas karena teronggok delapan tahun lebih.

Lusimin terpaksa membeli setengah mesin motor sejenis untuk dikanibal. Dirinya sempat mengubek-ubek Jakarta dan Jawa Barat, akhirnya ketemu di Cirebon. Lebih dari itu, onderdilnya harus pesan langsung ke klub Sunbeam di Inggris lewat internet. Persyaratannya ketat. Dirinya harus mengirimkan dulu suku cadang yang rusak. Setelah transfer uang lewat kartu kredit, pesanan suku cadang hasil buatan tangan tersebut dikirimkan. ”Untuk karburator saja, harganya US$ 1.000. Totalnya selama 1994-1995 menghabiskan Rp 23 juta,” tuturnya.

Kini Sunbeam warna hijau yang kinclong tersebut menjadi kebanggaan Lusimin, yang beristri mantan crosser wanita Solo. ”Saya sering mengelus Sunbeam ini, di samping motor lain, yang membuat hati ayem, sebagai obat stres kerja. Yang paling menyenangkan waktu jalan-jalan diundang ke berbagai kota,” tutur bapak dua anak asal Gombong, Jawa Tengah ini.

Kontes atau pameran motor antik menjadi ajang pembuktian bahwa menggemari dan memburu motor gaek untuk koleksi bisa bernilai tinggi. Motor misterius milik Juned contohnya. Buatan Inggris di bawah tahun 1912 tersebut mungkin tinggal satu-satunya karena sudah punah. Sangat layak masuk museum sebagai saksi sejarah transportasi di Tanah Air. Menurut catatan sejarah, pada 1909 populasi motor di Indonesia hanya 20 biji. Bruum… bruum….

Dwi Arjanto dan Sunudyantoro (Tempo News Room)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Podolski Membuktikan Diri - 07 Sep 2008 | 09:40 WIB
Hasil Penyisihan Piala Dunia Eropa - 07 Sep 2008 | 09:40 WIB
Makanan Pasar di Balikpapan Memakai Pewarna Tekstil - 07 Sep 2008 | 09:25 WIB
Danamon Cairkan Rp 3,2 Triliun Kredit Masyarakat Kalimantan - 07 Sep 2008 | 09:14 WIB
Portugal Optimistis Kalahkan Denmark - 07 Sep 2008 | 09:11 WIB
Pemerintah AS Ambil Alih Manajemen Fannie Mae dan Freddie Mac - 07 Sep 2008 | 08:52 WIB
Capello Belum Puas dengan Cole - 07 Sep 2008 | 08:42 WIB
Daya Beli Petani Nusa Tenggara Barat Anjlok - 07 Sep 2008 | 08:30 WIB
Paraguay Kokoh di Puncak, Argentina Puas - 07 Sep 2008 | 08:07 WIB
Gempa 5,3 SR Landa Laut Maluku   - 07 Sep 2008 | 08:05 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data