Mari Mengejek CIA Film spionase yang ringan dan menyindir cara kerja dinas intelijen Amerika Serikat. |
The Bourne Identity
Sutradara : Doug Liman
Skenario : Tony Gilroy, William Blake Herron
Pemain : Matt Damon, Franka Potente
Produksi : Universal Pictures
LAUT Mediterania bergemuruh malam itu. Ombak menderu. Badai menampar. Segerombol nelayan Italia takjub akan temuan mereka: sesosok pria yang nyaris tewas dengan peluru terbenam di pinggulnya. Dia menceracau dalam aneka bahasa, mahir bela diri, dan fasih menggunakan senjata. Repotnya, ia tak tahu siapa dirinya. Dia menderita amnesia.
Satu-satunya petunjuk adalah nomor rekening sebuah bank di Swiss yang terdapat di dalam peluru. Maka bertolaklah ia menelusuri identitas dirinya. Pemimpin bank menyorongkan sebuah kotak simpanan dengan nama Jason Bourne (Matt Damon, Good Will Hunting, The Talented Mr. Ripley). Dalam kotak itu ada sejumlah paspor berbagai negara dengan foto dirinya dalam nama yang berbeda-beda, tumpukan uang tunai, dan seperangkat senjata. Orang macam apa yang hidup dengan barang-barang seperti itu? Teroris? Mata-mata? Pembobol bank? Bourne kian pening dan bergidik.
Sementara itu, di belahan dunia yang lain—tepatnya di markas CIA di Langley, Virginia—para bos juga didera kepanikan. Seorang agen yang terlibat dalam operasi rahasia Treadstone gagal melaksanakan tugasnya membunuh Nykwana Wombosi, seorang pemimpin di Afrika. Tak cuma itu, si agen menguap entah ke mana. Kehebohan pun meruap. Sebuah target operasi pun dicanangkan: Bourne, agen yang hilang, harus mati dalam waktu singkat.
Dan film ini kemudian menuturkan dua kepentingan yang bertabrakan. Bourne terbang ke berbagai negara untuk mencari identitas dirinya. CIA memasang radar di seluruh dunia untuk menghabisi nyawa agen yang gagal itu. Siapa pun dan apa pun yang pernah berhubungan dengan Bourne—sekadar pernah disinggahi, ditelepon, atau sekadar tertempel sidik jarinya—tak luput menjadi sasaran intelijen Amerika Serikat ini.
Korban CIA itu tak mengecualikan Marie Kreutz (Franka Potente, Run Lola Run), pengelana kelahiran Jerman, yang mobilnya ditumpangi Bourne sampai ke Paris. Hidup Marie jadi kacau-balau gara-gara masuk pantauan CIA. Rumah kakaknya diobrak-abrik, nomor telepon neneknya diawasi setiap saat, dan gambarnya disebar ke seluruh penjuru dunia. Setiap kali pindah kota, Marie harus berganti penampilan supaya keberadaannya tak kentara. Begitu juga Bourne. Ia bahkan tak boleh sembarang menyentuh barang agar tak meninggalkan jejak.
Nah, dalam masa pelarian itu, penonton akan berwisata mata ke kota-kota terindah di Eropa: Paris, Roma, Praha, Zurich. Adegan uber-uberan berlatar belakang obyek turisme sungguh membuat penonton lebih merasa sebagai turis ketimbang tengah menonton film spionase. Tak usah terlalu mengharapkan tontonan penuh baku hantam dan tembak. Sebab, meskipun ada, fungsinya lebih sebagai pantas-pantasnya sebuah film laga saja.
Namun ini bagian yang menarik. Film ini berhasil "memanusiakan" kehidupan seorang agen rahasia. Semakin dalam Bourne menemukan identitasnya, dia semakin tak memahami kehidupannya. Ketika menjelujuri kisah hidupnya selama ini, Bourne sadar dirinya cuma mesin pembunuh yang hidup hanya untuk menuruti perintah atasan. Dia tak bisa menolak, membantah, apalagi membangkang.
Figur Matt Damon yang tak terlalu garang membantu penonton membayangkan sisi kemanusiaan seorang agen rahasia. Sementara novelnya lebih menonjolkan detail peristiwa, filmnya lebih memunculkan karakter Bourne sebagai tokoh utama dan Marie Kreutz sebagai pasangannya. Berbagai pertanyaan yang mengusik Bourne sebetulnya patut direnungkan siapa saja. Betulkah kita—yang bukan agen CIA—bisa memilih jalan hidup kita sendiri? Jangan-jangan kita malah lebih terpenjara ketimbang Bourne.
Film ini diangkat dari novel Robert Ludlum yang diterbitkan pada 1980, saat CIA tengah berkuasa dan bisa berbuat apa saja. Seperti novelnya, tayangan ini memang sarat dengan sindiran atas cara kerja CIA yang kerap merasa menguasai kebenaran di muka bumi. Tingkah polah dinas intelijen itu menjadi sangat kontekstual buat penonton di sini. Maklum, pasca-tragedi 11 September, CIA menjadi agen penebar jaringan tuduhan ke berbagai penjuru, termasuk ke Indonesia. Film ini, meski hanya film, menjadi sebuah media olok-olok bagi lembaga intelijen itu.
Andari Karina Anom
|