Mimpi Sumatera Incorporated Pertemuan sembilan gubernur digelar guna membahas sejumlah proyek bisnis lintas Sumatera. Proyek terobosan atau mimpi? |
PEKAN-PEKAN ini Gubernur Jambi Zulkifli Nurdin luar biasa repot. Minggu lalu ia terbang ke Jakarta bertemu dengan Presiden Megawati. Tiap hari jadwalnya penuh dengan rapat ini dan itu. Ada apa gerangan? Zulkifli rupanya sedang lintang-pukang menyiapkan sebuah hajatan besar yang bakal digelar di provinsinya. Itulah forum gubernur se-Sumatera ketiga yang sedianya dibuka Presiden Megawati pekan ini. Dua sebelumnya diadakan di Riau dan Medan pada tahun 2000 dan 2001 lalu.
Menurut Sirwan Tan, Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Jambi, acara akbar ini bakal dihadiri sedikitnya empat menteri, para gubernur, dan ketua dewan perwakilan dari 9 provinsi, plus 200-an bupati, wali kota, dan pejabat teras pemerintah daerah lainnya. Untuk menyambut para tamu istimewa itu, 400 kamar hotel berbintang telah dikosongkan, termasuk di Hotel Novotel, tempat acara berlangsung. Buat selingan, sebuah turnamen golf pun tak lupa diadakan. Istimewanya, tak cuma melepas penat, Pak Gubernur bisa mengayun stik sambil memburu hadiah sebuah kendaraan luks seharga Rp 300 juta.
Di luar urusan golf, acara ini mengusung sebuah mimpi besar: pengembangan konsorsium bisnis pemerintah provinsi se-Sumatera di empat bidang, yaitu pelayaran Sumatera Shipping Lines yang dimotori pemerintah Jambi, penerbangan regional Sumatera Airlines (Sumatera Selatan), Pusat Promosi Sumatera (Riau), dan Sistem Informasi Terpadu Sumatera (Sumatera Utara). Keempatnya direncanakan menjadi bisnis berskala besar yang didirikan dengan menggandeng swasta setempat.
Suara optimistis telah bertaburan. Dalam soal Shipping Lines, misalnya, menurut Sirwan, perusahaan ini akan berkongsi dengan Bumi Laut Group, pemain lokal di sektor pelayaran milik Jaka Singgih, anggota parlemen asal Jambi dari PDI Perjuangan. Pada tahap pertama, Bumi Laut menyetor modal Rp 6,5 miliar, sedangkan sembilan provinsi masing-masing mengucurkan Rp 100 juta dari anggaran daerahnya. Sirwan yakin terobosan ini akan menangguk sukses. Peluang begitu terbuka. Selama ini, 90 persen pengangkutan komoditi ekspor semacam kayu lapis, bubur kertas, dan minyak kelapa sawit dari "Swarnadwipa" ke Eropa dan Jepang dikangkangi maskapai asing. Sisanya baru diangkut Pelni, perusahaan milik negara.
Gubernur Sumatera Selatan Rosihan Arsyad, yang kebagian merintis penerbangan, pun sudah bungah. Usaha yang akan diluncurkan tahun depan ini, menurut Arsyad, berdasar pada hasil studi kelayakan yang menunjukkan Sumatera Airlines layak diteruskan karena prospeknya bagus dan "akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Sumatera." Selain telah memiliki bandar udara, rata-rata kota besar di Sumatera menjadi rute antarprovinsi dan negara tetangga. Dana pun tak jadi soal. Banyak yang telah menawarkan bantuan modal dan manajemen, antara lain pemerintah Spanyol, yang siap mengucurkan US$ 77 juta, dan Techno Ukraina dari Rusia, yang menawarkan Antonov M-28, pesawat berkapasitas 26 penumpang.
Lantas bagaimana nasib maskapai lokal seperti Seulawah NAD Air di Aceh, Sriwijaya Air di Sumatera Selatan, atau Riau Airlines? Bukan masalah, kata M. Yusuf, Direktur PD Prodexim, pengelola Sriwijaya Air. Bahkan, katanya lagi, karena setiap perusahaan telah memiliki pesawat—Sriwijaya misalnya punya dua Cassa—itu justru merupakan kekuatan yang tinggal disinergikan.
Para pejabat itu boleh berbunga-bunga, tapi lain pendapat Bernadette, doktor ekonomi dari Universitas Sriwijaya, Palembang. Rencana ini, katanya, salah-salah bisa menjadi mimpi di siang bolong. Kans Sumatera Airlines, misalnya, menurut dia masih tak jelas. Pasar sudah demikian sempit. Di Sumatera cuma ada beberapa jalur yang tergolong gemuk: Medan, Batam, dan Riau. Itu pun sudah dikuasai pemain lama semacam Garuda, Merpati, dan Bouraq. Selebihnya rute kurus kering. Prospek muram itu terlihat dari maskapai lokal yang tak jelas peruntungannya. Belum lagi soal sumber daya manusia, ego sektoral setiap daerah, dan cekaknya anggaran. "Jangan-jangan," ujar Bernadette berseloroh, "Nanti cuma pejabat daerah yang naik Sumatera Airlines."
Karaniya D., M.D. Asnadi, Arif Ardiansyah (Palembang)
|