|
PEREKONOMIAN Asia tak selamanya kelam. Paling tidak, di mata Dana Moneter Internasional (IMF), yang Rabu pekan lalu mengeluarkan ramalan tentang pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut. Dalam World Economic Outlook, IMF merevisi ramalan mereka sebelumnya yang suram. Katanya, perekonomian empat negara—Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Filipina—tahun ini akan tumbuh 3,6 persen alias lebih tinggi 0,3 persen daripada ramalan IMF April silam. IMF juga mengubah prediksi pertumbuhan ekonomi tahun ini untuk Cina, dari 7,0 persen menjadi 7,5 persen.
Sebaliknya IMF meramalkan perekonomian Amerika dan Eropa—di luar Inggris dan Kanada—bakal lebih jelek dibandingkan dengan yang diperkirakan sebelumnya. Pada triwulan pertama, ekonomi AS tumbuh 5,8 persen, tapi tiga bulan berikutnya turun menjadi hanya 1 persen.
Dalam penjelasannya, IMF mengatakan bahwa koreksi angka pertumbuhan itu dilakukan karena kelima negara tersebut mampu menaikkan produksi dan ekspornya seiring dengan membaiknya perekonomian Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang. Namun IMF memperingatkan bahwa ketergantungan perekonomian negara Asia terhadap negara maju masih tinggi sehingga ekonomi mereka akan guncang jika laju perekonomian negara seperti Amerika Serikat atau Jepang menurun.
Ketergantungan ini harus diwaspadai oleh Indonesia. Meskipun tahun ini perekonomian Indonesia akan tumbuh lebih baik dari yang diperkirakan—data Indef: dari 2,86 persen menjadi 3,48 persen—tren ekspor mengkhawatirkan. Sampai Juli lalu, laju ekspor nonmigas menurun dan diikuti oleh laju impor yang juga turun lebih cepat. Diperkirakan, penurunan impor ini akan mempengaruhi volume ekspor dalam tiga bulan mendatang. Karena itu, Indonesia sebaiknya memang mencari pasar baru agar ketergantungan pada negara maju bisa dikurangi.
|