|
Patriotisme, tulis Hemingway dalam sepucuk surat di awal tahun 1936, "buruk bagi prosa..."
Di hadapan rak toko-toko buku Amerika hari-hari ini, kita akan bertemu dengan sejumlah patriot dan apa yang terjadi dengan prosa negeri itu. Baca My America, yang disusun oleh Hugh Downs dari tulisan pendek orang-orang terkenal (antara lain Alan Alda dan Barbara Walters). Kata pengantar buku ini antara lain menegaskan bahwa Amerika "punya kualitas yang membuatnya unggul dari negara mana pun dari pandangan nilai-nilai". Karena itu, kata Downs, "Kita punya semacam kewajiban untuk menawarkan struktur dan filsafat kita kepada kebudayaan-kebudayaan lain."
Atau baca What's So Great about America, ditulis oleh Dinesh D'Souza. Di dalamnya bisa ditemukan kalimat-kalimat yang, setelah mengecam sikap kritis orang Prancis terhadap Amerika, mengemukakan dengan cemooh mengapa kebanyakan orang Amerika sulit menganggap serius kritik orang Prancis. Sebab, "Toh itu datang dari kaum pria yang menenteng tas tangan." Di bagian lain segaris keyakinan: "Orang Amerika tak perlu meminta maaf karena negeri mereka bertindak sesuatu di negeri lain dalam cara yang dianggap baik bagi mereka."
Prosa menjadi buruk ketika ia tak punya tanda tanya, koma, dan tanda kurung. Yang terbangun bukan saja monotoni, tapi kemandekan. Itu akan berlangung terus selama di dalamnya tidak ada orang lain yang dibiarkan menghadapi sang penulis, dengan kukuh dan cerdas. Dengan kata lain, tak ada sisi lain yang menghentikan percakapan, atau mempersoalkan pendapat, atau memberikan kemungkinan lain. Kata pengantar Hugh Downs dalam My America tidak pernah terbentur dengan argumen yang, misalnya, mengatakan bahwa "kebudayaan-kebudayaan lain" itu sebenarnya tidak sepenuhnya berada di wilayah "bukan-Amerika". Yang ingin menghajar sifat sekuler masyarakat Amerika bukan saja orang luar, tapi juga sejumlah kaum Kristen kanan yang militan, yang oleh seorang Nicholas D. Kristoff dalam The New York Times disebut "All American Osamas" (Usamah-Usamah Amerika Tulen).
Patriotisme bisa mendapatkan artikulasinya dengan gelora hati, dan gelora hati memang sering mendorong muncul kalimat-kalimat yang menggetarkan. Tapi patriotisme juga punya satu momen yang menyebabkan seorang penulis terdorong masuk ke lembah kalimat-kalimat yang mencapekkan. Saya kira momen seperti itu terjadi ketika satu perasaan patriotik tidak punya lagi kepedihan. What's So Great about America adalah contoh patriotisme tanpa kepedihan, begitu pula My America: keduanya yakin bahwa "Amerika-ku" adalah negeri yang "hebat"; keduanya adalah narsisme yang memasang cermin besar, tepuk tangan yang tak henti-hentinya untuk diri sendiri; keduanya meniadakan Amerika yang beragam dan mengandung konflik, Amerika yang pernah ragu dalam kesalahan dan waswas tentang apa arti dirinya.
What's So Great about America tak bisa lain hanya bisa menjadi prosa yang buruk, karena patriotismenya mengambil jalan yang ringkas dan lurus: teramat mudah untuk mencintai sebuah negeri yang "so great". Yang tak mudah adalah mencintai sebuah negeri yang genting, dengan kegundahan—sebuah ikatan cinta yang rumit yang terkadang terancam, terkadang putus asa, tapi terasa terus, tanpa harapan.
Dalam dan dengan itu, patriotisme akan merupakan perasaan mencintai yang mengerti apa artinya luka—dan apa artinya bila sejumlah orang, yang berada dalam sebuah kebersamaan, dilukai. Karena itu patriotisme dengan kepedihan tak berangkat ke dunia dengan agresif. Dari penderitaan dan penghinaan yang menyakitkan India, Mahatma Gandhi muncul. Ia menunjukkan bahwa mencintai negeri dan bangsa sendiri tak menghentikannya untuk mencintai orang lain di luar perbatasan.
Kenapa Amerika Serikat tidak melahirkan seorang Gandhi setelah Teror "11/9", melainkan berpuluh-puluh prosa buruk? Mungkin karena teror itu tidak menorehkan rasa sakit yang dalam dan meluas, hanya rasa tersinggung, terancam, marah. Bahkan ada yang justru seakan-akan mendapat pencerahan. Di sebuah pidato di depan Council on Foreign Relations bulan Februari yang lalu, Wakil Presiden Cheney mengakui bahwa, sebelum 11 September 2001, ia bingung siapa musuh Amerika sebenarnya. Musuh besar Amerika telah hilang mendadak setelah Uni Soviet ambruk. "Tak ada ancaman global, langsung, tunggal," katanya, seakan-akan masygul. Tapi Teror "11/9" menggebrak, dan yang tak ada pun jadi ada. "Ancaman itu kini diketahui dan peran kita kini jelas."
Dengan kata lain, jerit sekitar 3.000 nyawa di Manhattan pun berubah jadi teriakan "eureka!" Dan seperti dalam setiap prosa buruk, tak seorang pun menggugat: musuhkah yang melahirkan patriotisme, atau patriotismekah yang melahirkan musuh?
Bila Anda seorang pengikut Carl Schmitt, pemikir politik anggota Partai Nazi, Anda akan mengatakan bahwa dalam das Politische, musuh adalah keniscayaan. Kelanjutan hidup sebuah bangunan politik ditentukan dari permusuhan itu. Negara diatur oleh kemungkinan konflik yang tak pernah hilang dan selamanya berada di tengah ketidakpastian. "Tantangan kita," tulis Menteri Pertahanan Rumsfeld dalam majalah Foreign Affairs, "adalah untuk mempertahankan bangsa kita menghadapi yang tak diketahui, yang tak pasti, tak terlihat dan tak terduga-duga."
Catatan buat Hemingway: patriotisme ternyata bukan saja membuat prosa jadi buruk, tapi juga paranoia.
Goenawan Mohamad
|