Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 31/XXXI/30 September - 06 Oktober 2002
   
Buku

Itikad Memahami Pesan Tuhan

Hermeneutika Qur'ani: Antara Teks, Konteks, dan Kontekstualisasi
Penulis : Fakhruddin Faiz
Penerbit : Qalam, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, April 2002
Tebal : ix + 147 halaman

Diturunkan 15 abad yang lalu, Al-Quran diyakini umat Islam sebagai sumber utama, tempat semua masalah hidup disandarkan. Zaman terus berlalu. Islam berkembang ke wilayah-wilayah yang memiliki perbedaan dengan kondisi sosial-historis di saat Al-Quran diturunkan. Akselerasi zaman ini melahirkan pula berbagai masalah kontemporer yang membutuhkan jawaban. Untuk itu, diperlukan interpretasi atau penafsiran Al-Quran secara kontekstual.

Fakhruddin Faiz, staf pengajar Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, mencoba menelaah karya Rasyid Ridha dan Abduh (dalam tafsir Al-Manar) serta Hamka (dalam tafsir Al-Azhar) untuk menyusuri seberapa jauh metode interpretasi dari kedua tafsir itu memuat unsur-unsur hermeneutika.

Pelacakan Faiz menemukan bahwa kedua tafsir tersebut cukup kuat dalam melakukan penafsiran dengan cara hermeneutika. Dengan mengolah teks, misalnya, baik Ridha, Abduh, maupun Hamka telah berupaya menggali makna Al-Quran secara operatif fungsional. Mereka berupaya agar Al-Quran itu dapat dijadikan petunjuk nyata bagi kehidupan umat Islam.

Ada sikap rasional dalam mengolah teks dari ketiga penulis di atas—walau bukan tanpa kelemahan. Menurut Faiz, mereka lebih menekankan aspek langue (bahasa) daripada aspek parole (kata-kata). Dalam tafsir Al-Manar, misalnya, Abduh berusaha mengubah pandangan orang karena ia menolak poligami (An-Nisa': 3), yang dia nilai tidak adil terhadap perempuan. Sementara itu, Hamka, dalam menafsirkan surat Muhammad: 4, tampak teguh berpendapat bahwa Nabi pernah pula memberikan hukuman kepada tawanannya, meski ia memiliki sifat welas asih.

Penelusuran penulis buku ini sampai pada kesimpulan bahwa kedua tafsir tersebut bercorak hermeneutik. Faiz melihat aspek teks, konteks, dan kontekstualisasi dari kedua tafsir tersebut amatlah kental. Namun, tak dapat diingkari bahwa ketiga aspek itu masih jarang bisa berjalan secara bersama-sama. Kendati demikian, upaya Ridha, Abduh, dan Hamka dalam menggali makna teks untuk memahami pesan Tuhan itu setidaknya merupakan satu itikad yang patut dihargai.

Nur Mursidi, Peneliti Lembaga Pantheon, Yogyakarta


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data