|
Islam Kiri Melawan Kapitalisme Modal: Dari Wacana Menuju Gerakan
Penulis : Eko Prasetyo
Penerbit : Pustaka Pelajar dan Insist Press, Agustus 2002
Boleh jadi, banyak orang mengira—khususnya Islam dalam kacamata kaum liberal—bahwa rombengnya wajah agama dipahami sebagai sekadar soal interpretasi teologis. Atas dasar paham seperti itu, mereka kemudian menyodorkan pelbagai proposal perayaan "penyadaran wacana": menyerukan toleransi atau mengutuk ekspresi keberagamaan yang beringas. Kendati patut dihargai, upaya-upaya ini kerap berakhir dengan sia-sia.
Tampaknya, hal ini mendorong Eko Prasetyo, seorang aktivis muslim asal Yogya, menulis Islam Kiri Melawan Kapitalisme Modal—sebuah buku dengan judul yang menggigit. Menurut Eko, Islam jenis liberal—dan juga Islam revivalis, yang hanya sibuk berdebat perihal halal-haram, potong tangan, dan pemberlakuan syariat Islam—tumpul dan tampak lugu serta dungu ketika berhadapan dengan realitas sosial yang harus dihadapi umat: rendahnya upah buruh dan redistribusi tanah yang tidak merata, meluasnya lembaga pelayanan publik yang berwatak komersial, utang luar negeri yang membubung.
Bagi Eko, perjuangan demokrasi, toleransi, atau apa pun tak bisa berhenti pada "kesadaran wacana". Hal ini perlu dibumikan dengan menggali akar tunjang "kesadaran praksis" (practical consciousness)—agar penalaran dapat berkelindan dengan tindakan.
Istilah "Islam kiri" mengingatkan kita pada intelektual liberal-kritis asal Mesir, Hassan Hanafi. Dialah yang pertama kali mengemukakan istilah "Islam kiri". Tapi penulis buku ini sengaja tak menyebut Hanafi karena wacana Islam kiri Hanafi, menurut Eko, miskin agenda tentang "apa yang mesti dilakukan umat" melawan imperialisme modal.
Padahal, menurut Eko, bangkrutnya pelbagai gerakan Islam dan buntunya mereka dalam "membaca" sistem kerja modal internasional, yang selama ini menindas dan membuat wajah umat rombeng, disebabkan oleh kesibukan (sebagian besar) umat Islam yang hanya mengurusi soal wacana dan teologi hukum Islam klasik. Eko, sebaliknya, mengemukakan pertautan langsung antara keimanan dan kondisi nyata dari umat. Dengan lain kata, rakyat tertindas harus diletakkan sebagai pihak utama yang mesti dibela dan dilindungi.
Muhidin M. Dahlan, pengamat pustaka
|