Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 31/XXXI/30 September - 06 Oktober 2002
   
Buku

Radikalisme Keagamaan: Dibubarkan atau Dibiarkan?

Gerakan radikalisme Islam lagi marak di mana-mana. Bagaimana menyikapinya: membubarkannya atau membiarkannya dengan suatu pendekatan?

Radikalisme Keagamaan dan Perubahan Sosial
Penulis : Zainuddin Fananie, Atiqa Sabardila, Dwi Purnanto
Penerbit : UMS dan The Asia Foundation, Mei 2002
Tebal : vii + 245 halaman

MARAKNYA gerakan radikalisme keagamaan akhir-akhir ini sering dilihat sebagai ancaman menakutkan. Soalnya, gerakan ini acap beraksi dengan kekerasan. Labelisasi oleh Orde Baru bahwa mereka organisasi terlarang dan idem dengan komunis kian mengentalkan stereotipenya.

Buku Radilalisme Keagamaan dan Perubahan Sosial ini—merupakan hasil penelitian dan pustaka selama dua tahun pasca-kejatuhan Soeharto (1999-2001)—berusaha menguak makna sejati radikalisme keagamaan. Terbebas dari rezim penindas, gerakan radikalisme keagamaan pun bermunculan bak cendawan di musim hujan.

Sasaran penelitian adalah Kota Surakarta karena ia dianggap menduduki peringkat nomor satu dalam perjudian dan kejahatan sosial se-Kepolisian Wilayah Jawa Tengah, serta—terutama—sebagai markas kelompok radikalisasi keagamaan. Kota ini korban huru-hara 1998 paling parah, setelah Jakarta.

Sembilan organisasi yang diidentifikasi adalah Majlis Taklim Al-Ishlah, Front Pembela Islam Surakarta (FPIS), Barisan Bismillah, KAMMI, Brigade Hizbullah, Gerakan Pemuda Ka'bah (GPK), Laskar Hizbullah Sunan Bonang, Jundullah, dan Laskar Jihad Ahlusunnah Wal Jama'ah. Penelitian difokuskan pada visi-misi organisasi, sikap terhadap kasus-kasus, penerimaan masyarakat, dan dampak perubahan sosial yang diakibatkannya.

Tujuan awal radikalisme keagamaan adalah gerakan protes sekelompok orang yang ingin mengubah tatanan sosial secara cepat dan mendasar (hlm. 1). Mereka tampil karena lemahnya penegakan hukum, maraknya pelanggaran norma agama dan sosial, konflik sosial dan politik, serta impitan krisis. Apalagi organisasi politik dan agama tak mampu berbuat banyak. Meskipun terkesan ingin mengubahnya lewat kekerasan fisik, mereka ternyata melakukannya juga dengan pendekatan ideologi dan perilaku. Toh, yang lebih terlihat, memang, strategi mereka kurang terbuka, agak bergaya militer, dan kadang diikuti kekerasan (hlm. 7). Ini yang paling ditakutkan masyarakat, sehingga simpati khalayak kepada mereka berkurang.

Buku ini merujuk pada kasus-kasus Ahmad Wilson yang melecehkan Islam, jihad ke Ambon, sweeping terhadap tempat hiburan dan warga AS, dan demonstrasi anti-pemerintahan Gus Dur. Tidak semuanya menekankan kekerasan, malah mendahulukan dakwah yang persuasif. Bahkan, untuk kasus sweeping atas warga AS dan pengiriman pasukan jihad ke Ambon—yang banyak menimbulkan perbedaan pendapat—rata-rata justru menghindari sikap konfrontatif yang dibenci masyarakat.

Meski tujuannya mulia, kehadiran kelompok radikalisasi keagamaan ternyata kurang membawa perubahan penting seperti yang mereka inginkan. Sebelum dan sesudah maraknya gerakan ini, perjudian dan kriminalitas di Surakarta tidak mengalami penurunan berarti. Bahkan, berdasarkan pernyatan Sri Mulyani dari kepolisian wilayah, yang justru tampak adalah peningkatan kejahatan. Namun. tetap diakui bahwa kehadiran kelompok ini agak membantu petugas keamanan (hlm. 137).

Mengharapkan kelompok radikalisasi keagamaan membubarkan diri, selain tidak bijaksana, juga tak mudah. Sebab, kemunculan mereka dilandasi keyakinan dan pemahaman agama. Visi dan misi mereka hampir seluruhnya bertujuan menciptakan negara adil dan damai berdasarkan syariat Islam. Karena itu, dialog yang konstruktif dan pembinaan yang sabar adalah jalan yang harus diagendakan.

Minus pengulangan pokok bahasan yang agak mengganggu, buku ini layak dibaca untuk memperoleh gambaran yang adil tentang kelompok radikalisasi keagamaan. Wallahualam.

Ahmad Fuad Fanani (Alumnui Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data