Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 30/XXXI/23 - 29 September 2002
   
Nasional

Mahfudz Djaelani: "Saya Dimintai Rp 200 juta"

Jika saja terpilih menjadi Gubernur Jakarta, Mahfudz Djaelani mungkin akan menjadi gubernur yang paling murah senyum. Tawanya lebar, suaranya besar menggaung. Jika bicara, senyumnya selalu mengembang. Caranya bercakap-cakap selalu mengingatkan orang pada gaya bicara seniman lenong Betawi: keras, blak-blakan, dan jenaka.

Tapi, di balik keramahannya itu, Bang Mahfudz—begitu orang biasa menyapanya—hampir saja menabuh genderang perang. Salah seorang calon gubernur yang gagal terpilih dalam voting DPRD pada 11 September lalu itu mengaku pemilihan Gubernur DKI sarat permainan politik uang. Tak hanya menuduh, ia bahkan menyatakan telah membayar Rp 200 juta untuk 40 anggota DPR Jakarta agar menang. Tapi alih-alih terpilih, ia malah terpental.

Semula banyak orang berharap, Mahfudz bisa menjadi pembuka jalan bagi terkuaknya praktek suap di gedung parlemen Jakarta. Tapi hanya beberapa hari, lalu ia meralat ucapannya. Katanya, ia tidak menyuap melainkan hanya melobi anggota dewan dengan mentraktir makan.

Tak jelas mengapa ia mencabut ucapannya. Mungkin ia tahu pernyataannya bisa memancing polemik yang tak menguntungkan dirinya sendiri. Apalagi, meski punya massa pendukung, ia tidak punya partai. Mahfudz adalah salah satu calon yang tidak berasal dari partai politik.

Mahfudz memang pengusaha tulen. Lahir di Kampung Bali, Jakarta, 57 tahun silam, ia adalah pemilik biro perjalan haji, usaha penyalur tenaga kerja, dan pemilik tempat penukaran uang. Sebagai pengusaha, ia tak bisa dikatakan melarat. Rumah gedongan, mobilnya mengkilat. Keempat anaknya ia sekolahkan di Amerika dan Australia. Karena itu, "Jadi gubernur bagi saya hanya sarana untuk berbuat lebih banyak," katanya kepada Endah W.S., Arif Zulkifli, dan Nugroho Dewanto dari TEMPO. Berikut petikan wawancara dengannya.


--------------------------------------------------------------------------------

Anda pernah mengatakan telah membayar uang Rp 200 juta untuk 40 anggota DPRD agar memilih Anda menjadi gubernur. Belakangan Anda mencabut pernyataan ini. Apa sebenarnya yang terjadi?

Saya tidak membayar anggota DPRD. Saya mengeluarkan uang itu untuk mengundang makan anggota Dewan. Biasa kan orang melobi? Dua setengah tahun saya melakukan itu. You bayangin deh, duit yang saya keluarkan.

Selama dua setengah tahun Anda mencatat semua pengeluaran itu?

Ya, mau nggak mau. Sebagai pengusaha, saya kan harus punya catatan.

Mengapa Anda mati-matian melobi? Anda tidak percaya diri?

Saya kan bukan orang partai, jadi saya harus melobi. Ibarat dalam sebuah pertandingan sepak bola, saya kan harus pemanasan dan latihan. Jangan sampai bola harus ditendang ke kanan tapi saya tendang ke kiri. Saya bisa ditertawai penonton.

Di restoran mana Anda biasa kumpul-kumpul dengan anggota Dewan?

Pindah-pindah. Kadang di Hotel Hyatt, Century Park, Sari Pan Pacific, Santika, Sahid. Pokoknya semua restoran di hotel berbintang. Masa, mereka saya undang makan di warteg. Gengsi, dong.

Tidak susah mengundang mereka?

Nggak. Mungkin karena awalnya saya nggak kenal mereka. Jadi nggak ada prasangka. Sama seperti orang pacaran. Mula-mula berpikir, wah cakep nih. Lalu tanya, boleh nggak kasih kartu nama. Kalau dia belum punya pacar, boleh dong penjajakan. Ngundang makan, lalu datang ke rumah. Dalam kasus saya, begitu mau ke pelaminan, eh ternyata dia sudah ada pendampingnya. Sebagai manusia, dongkol dong saya.

Fraksi mana saja yang Anda undang?

Hampir semua fraksi. Tapi Golkar menolak karena mereka sudah punya calon, yakni pasangan Sutiyoso dan Fauzi Bowo.

Apa yang Anda sampaikan dalam lobi-lobi itu?

Saya hanya menyampaikan visi-misi saya. Mereka menambahkan soal penanganan masalah kemiskinan serta narkotik dan obat terlarang. Fraksi PDIP meminta saya menekankan masalah wong cilik. Saya ingin pada waktu saya menyampaikan visi dan misi saya di DPRD, mereka tidak mempermasalahkannya. Hasilnya bagus: saya mendapat nilai delapan.

Apa yang Anda tawarkan kepada mereka?

Saya menawarkan jabatan deputi gubernur. Saya akan memberi kesempatan kepada mereka untuk menjadi wakil saya. Saya minta mereka mencalonkan putra terbaik mereka.

Mereka meminta uang kepada Anda ketika itu?

Ada, tapi baru belakangan melalui pendukung-pendukung saya di Badan Musyawarah Betawi. Anak buah saya bilang, Pak Mahfudz bagimana nih ada yang minta "dilamar". Saya bilang, sudahlah, nggak usah.

Dalam pertemuan lobi, mereka tidak minta uang?

Nggak. Dalam pertemuan, kata-kata saya semua disetujui saja.

Apakah ada yang menawari Anda uang agar mundur dari pencalonan?

Pernah ada yang mengirim SMS kepada saya. Pesannya, "Sudah, mundur saja, nanti gua kasih duit." Saya bilang nggak, ah.

Siapa yang mengirim pesan itu?

Ya, saya tahulah siapa yang mengirim: sponsor salah satu calon. Tapi saya nggak mau. Saya tidak mau mengkhianati orang Betawi.

Sebelum pemilihan, bagaimana Anda menghitung suara DPRD?

Waktu itu umumnya tiap fraksi belum punya calon. PDIP pecah, PAN pecah, PPP pecah. Sebagai pengusaha, saya meneropong agar bisa masuk.

Anda sempat dimintai uang berapa?

Sekitar Rp 200 juta. Saya bilang nggak.

Misalnya Anda membayar uang suap itu, bagaimana sih
memastikan mereka pasti memilih Anda?


Ya, hanya jaminan moral.

Kalau harga pasarnya sebesar itu, berarti calon gubernur lain mungkin keluar duit banyak, ya?

Iya. Tapi yang bayar kan orang lain. Ada sponsor. Ada cukong. Kalau nggak, dari mana duitnya? Makanya saya bilang, waktu mau mencalonkan diri, mestinya Sutiyoso demisioner dulu. Sekarang kan ramai isu politik uang. Tapi susah menghadapi anggota DPRD itu. Mereka bolot semua.

Apakah ada cukong Sutiyoso?

Saya nggak tahu. Tapi yang jelas, kita bisa melihat anggota tim sukses Sutiyoso sekarang ke mana-mana pakai mobil Mercy New Eyes baru. Dari mana mereka mendapat itu? Bisnis kan lagi sepi.

Ngomong-ngomong, bagaimana ceritanya sehingga Anda berani mencalonkan diri sebagai Guber-nur DKI?

Saya dicalonkan oleh Badan Musyawarah Betawi pada November 1999. Badan ini mencalonkan delapan nama. Setelah 56 tahun merdeka, sudah saatnya orang Betawi menjadi tuan rumah di kampungnya sendiri. Setelah melalui beberapa seleksi di Dewan, akhirnya yang lolos tinggal saya.

Elemen apa saja yang bergabung di Badan Musyawarah?

Badan Musyawarah terdiri dari 69 organisasi masyarakat Betawi. Ada Forum Orang Betawi, Forkabi, Jampang Pitung. Pokoknya macam-macam.

Dalam bentuk apa Badan Musyawarah mendukung Anda?

Mereka mendukung secara moral. Mereka mengirim surat dukungan kepada DPRD dan mendatangi fraksi-fraksi.

Apa tanggapan anggota Dewan?

Mereka mendukung orang Betawi jadi gubernur.

Meski didukung Badan Musyawarah, nyatanya Anda tidak terpilih?

Itulah. Padahal massa mendukung saya. Lihat demonstrasi pada hari pemilihan itu. Mereka begitu banyak, kayak air bah. Mereka mendukung putra Betawi menjadi gubernur. Saya terharu. Saya menangis. Ketika itu saya di kantor karena saya mau ke DPRD tapi tidak bisa masuk.

Anda yakin itu semua massa Anda? Banyak demonstran yang ternyata dari Partai Keadilan?

Bukan. Buktinya, pukul tiga sore, ada SMS buat saya. Pesannya, "Pak Mahfudz, bagaimana selanjutnya? Apa harus kita hancurkan, kita bakar, dan kita buat deadlock?" Saya bilang jangan anarkis.

Siapa pengirim SMS itu?

Mereka yang berada di lapangan. Saya minta mereka merapatkan barisan. Empat hari sebelum pemilihan, kami berkumpul di Gedung Joang 45. Saya katakan bahwa saya percaya diri untuk menang, tapi tolong jangan ada yang anarkis.

Anda ikut bagi-bagi makanan untuk para demonstran?

Nggak.

Sekarang apa rencana Anda selanjutnya? Masih berminat jadi gubernur?

Saya akan mencalonkan diri lagi kalau menggunakan sistem pemilihan langsung. Kalau tidak, saya nggak mau. Tapi mungkin saya akan masuk partai politik saja. Saya masuk partai akhir tahun ini atau awal tahun depan.

Partai apa yang Anda pilih?

Belum tahu. Saya salat istiqarah dulu.

Ada yang sudah menawari?

Banyak partai yang menawari. Mereka minta saya pegang divisi atau menjadi ketua partai di Jakarta.

Tertarik masuk PPP?

Nggak, ah.

Kalau PPP Reformasi?

Nggak tahu kalau itu. Saya pikir-pikir dulu.

Bagaimana dengan PDIP?

Saya mau pikir-pikir dulu.

Setelah kekalahan ini, bagaimana hubungan Anda dengan anggota DPRD?

Saya belum berhubungan lagi dengan mereka. Susah, deh. Mereka bolot semua. Mereka buta, budek, gagu. Tapi kalau duit mereka tahu.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data