Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 30/XXXI/23 - 29 September 2002
   
Kolom

Listrik Mati

Jaya Suprana
Budayawan

MASYARAKAT yang hidup di Jakarta kerap merasa bangga pada kotanya sebagai wilayah yang punya banyak gelar keren. Mulai dari ibu kota sampai metropolitan, juga kota yang dianggap paling modern di persada Nusantara. Kesan modern itu terutama muncul di malam hari, saat gemerlapnya aneka warna lampu menghiasi kawasan pusat kota. Pada saat itu juga para musisi tampil di klub malam, bar, kafe, pub, restoran, lobi hotel dengan peralatan pengeras suara elektronik berdaya watt gigantis. Sementara itu, beragam bangunan pencakar langit menjulang yang dilengkapi peralatan modern seperti lift atau eskalator sampai alat penyejuk ruang rakus. Mendadak, menjelang pertengahan September lalu, kesan serba modern itu musnah. Habis terang-benderang, terbitlah gelap-gulita! Seolah nahas bertahun-tahun dirundung krisis multidimensional masih belum memuaskan gairah masokis warga Jakarta. Sebab, mendadak menyusul malapetaka jenis baru lagi, yakni listrik mati.

Peristiwa kematian biasanya menimbulkan rasa duka, namun kali ini tiada reaksi duka. Yang ada rasa kaget, bingung, jengkel, gelisah, curiga, sampai murka! Akibat listrik di Jakarta (juga di seluruh Provinsi Banten) mati, timbul reaksi bhinneka tunggal ika dalam makna, satu-sebab-banyak-akibat. Penyebab—minimal berdasar penjelasan resmi pimpinan PLN—listrik Jakarta mati memang hanya satu, yakni "hubungan arus pendek" yang menyebabkan kerusakan transimisi hingga saluran listrik kacau, lalu terhenti sama sekali. Namun demi menepis kecurigaan sabotase, pimpinan PLN juga resmi menyatakan bahwa tidak ada mesin yang rusak. Jika tidak ada yang rusak, kenapa listrik bisa mati? Di samping itu, sang penyebab hubungan arus pendek juga tidak jelas diketahui, minimal tidak bisa dijelaskan ke masyarakat luas. Warga cuma bisa main duga-dugaan saja, misalnya bisa akibat tali layang-layang tersangkut di rentangan kabel saluran listrik. Atau akibat jemuran pakaian basah yang mudah meneruskan aliran listrik.

Bisa juga akibat teterpa angin—meski waktu itu tidak ada angin berembus deras—hingga kabel-kabel yang semestinya terpisah menjadi bersatu padu. Bisa juga akibat aksi teroris melampiaskan kejengkelan akibat gagal menyerbu kantor kedutaan AS di kawasan Monas, tanggal 11 September 2002, demi merayakan setahun malapetaka World Trade Center nun jauh di New York, AS! Namun dugaan semacam itu sudah disangkal pimpinan PLN.

Jika sang penyebab tidak pernah jelas, yang pasti jelas adalah aneka akibatnya. Yang tampak jelas akibat listrik mati, lampu-lampu pengatur lalu lintas di persimpangan jalan juga ikut KO, menyebabkan lalu lintas yang di saat lampu menyala saja sudah macet apalagi ketika padam. Meski Bandara Soekarno-Hatta selamat dari kematian listrik karena pusat transmisi listrik di kawasan itu masih bisa diselamatkan, lalu lintas perkeretaapian tidak semujur itu. Segenap lokomotif bertenaga listrik langsung mogok, sementara yang non-listrik pun memilih ikut tidak jalan karena peralatan komunikasi dan keamanan tewas! Lalu lintas kereta api di kawasan mati listrik sempat terhenti total selama lima jam.

Pabrik-pabrik dengan mesin produksi nonstop 24 jam, 31 hari, 12 bulan, tak boleh berhenti sejenak pun, seperti pabrik ban, semen, keramik, terpaksa stop produksi, dengan kerugian materi puluhan miliar rupiah. Telepon-telepon seluler, yang terkesan bebas listrik, ternyata ikut impoten akibat instrumen pusat komunikasi ternyata sama sekali tidak bebas aliran PLN. Pelayanan ATM jangan diharapkan di saat tiada tenaga listrik, kecuali yang bersumber dari tenaga uap.

Biasanya mayoritas kebakaran di Jakarta terjadi akibat masalah listrik, terutama karena hubungan arus pendek. Namun selama listrik mati di Jakarta pada Kamis malam saja, ternyata timbul 13 bencana kebakaran justru akibat listrik mati. Warga Jakarta modern yang kurang berpengalaman menghadapi listrik mati ternyata keliru sikap dalam sewot mencoba menyalakan api lilin-lilin kecil. Kerugian akibat musnahnya data-data di komputer jelas tidak terhitung nilainya, apalagi jika nilai rasa frustrasi ikut dihitung. Lebih celaka lagi, penyediaan air bersih ikut terganggu akibat baik perusahaan air minum Kota Jakarta maupun pesaingnya tidak mampu menyalurkan produk mereka.

Ada pula fenomena sosial yang secara komperatif menarik untuk disimak. Di Kota New York, AS, saat listrik mati langsung meledak bencana huru-hara yang menimbulkan kerugian materi ekstraparah, terutama bagi pertokoan yang habis-habisan dijarah. Kita layak sedikit bangga karena hal serupa tidak terjadi di Jakarta. Meski mereka yang sinis bisa saja mencemooh para huru-harawan Jakarta kecil nyalinya, takut bereaksi pada malam gelap-gulita.

A propos tafsir, dari malapetaka listrik Jakarta mati bisa juga ditarik kesimpulan bahwa secara profesional PLN gagal memberikan pelayanan bermutu kepada konsumen, dan diragukan apakah hak monopolinya sebagai produsen dan distributor energi listrik perlu dipertahankan, terutama di masa pasar bebas nanti. Bagi para pendukung pembangkit listrik tenaga nuklir, malapetaka listrik Jakarta mati ini bisa dimanfaatkan sebagai alasan untuk secepatnya membangun reaktor nuklir demi kelestarian aliran listrik Jakarta. Namun bisa juga sebaiknya, dieksploitasi para anti-listrik nuklir sebagai bukti ketidakbecusan tenaga kerja Indonesia dalam memfungsikan peralatan teknologi modern. Mengelola pembangkit bertenaga air dan uap saja terbukti tidak becus, apalagi nuklir!

Bagi warga kota besar lain, berita listrik mati di Jakarta memicu waswas bencana serupa juga terjadi di kota mereka. Namun banyak warga pedesaan terpencil dan tertinggal menerima berita listrik mati di Jakata tanpa reaksi apa pun. Listrik mati atau hidup, mereka tak peduli, karena sampai kini desa mereka memang sama sekali belum ada listrik.



 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data