|
Kimia Farma, yang berencana masuk bursa, dituding merekayasa laporan keuangan tahun 2001. Dalam laporan keuangan itu disebutkan bahwa perusahaan obat pelat merah ini membukukan laba bersih Rp 132 miliar. Tapi, berdasarkan audit Hans Tuanakotta & Mustofa, labanya cuma Rp 100 miliar. Menurut Direktur Utama Kimia Farma, Gunawan Pranoto, perbedaan perhitungan laba bersih itu mungkin disebabkan oleh perbedaan pencatatan inventori (persediaan) lantaran bahan baku untuk produk Kimia Farma kebanyakan masih diimpor. Dia menjelaskan bahwa bisa saja volumenya sama tapi nilai rupiahnya berbeda karena kurs. Selain itu, ada faktor subsidi yang bisa mengubah perhitungan laba. Berkaitan dengan hal itu, pemerintah kemudian memerintahkan audit ulang. "Hasilnya akan diumumkan pekan ini," kata Gunawan kepada pers, Kamis pekan lalu.
Sejauh ini manajemen Kimia Farma menduga bahwa perbedaan ini memang kesalahan pencatatan inventori. Tapi bukan tidak mungkin kejadiannya lebih dari itu. Dan semua itu baru bisa dibuktikan setelah audit terhadap Kimia Farma selesai. Kasus ini mirip dengan yang terjadi pada WorldCom. Perusahaan telekomunikasi Amerika Serikat ini juga dituduh melakukan penggelembungan keuntungan. Bedanya, rekayasa yang dilakukan manajemen WorldCom didukung oleh auditornya, sedangkan di Kimia Farma auditornya justru yang menemukan perbedaan.
|