Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 30/XXXI/23 - 29 September 2002
   
Ekonomi dan Bisnis

Bank Niaga: Dijual atau Tidak

Penjualan Bank Niaga kembali jadi kontroversi. Adalah Menteri Negara Perencanaan Pembangunan, Kwik Kian Gie, yang lagi-lagi memprotes penjualan bank-bank rekap. Alasannya tetap sama: masih ada obligasi rekap di bank yang mau dijual itu. Menurut Kwik, di Bank Niaga masih ada obligasi rekap senilai Rp 9,4 triliun, sedangkan menurut direksi Niaga jumlahnya tinggal Rp 7,4 triliun. Nah, dengan bunga 12 persen saja, Bank Niaga akan menyedot bunga obligasi sekitar Rp 1 triliun per tahun. Ini jumlah yang tidak kecil, dan jelas menguntungkan Bank Niaga, termasuk pemiliknya yang baru.

Karena itu pula agaknya, Komisi IX DPR RI juga kritis menanggapi rencana divestasi saham pemerintah di Bank Niaga. Dalam rapat internal Selasa pekan lalu, Komisi Keuangan dan Perbankan ini mengusulkan agar BPPN menegosiasi ulang harga Bank Niaga dengan calon kuat investor, yakni Commerce dari Malaysia. DPR minta agar harganya dinaikkan sampai 2,5 nilai buku atau minimal Rp 30 per lembar.

Seperti diketahui, Konsorsium Commerce Asset Holding Berhad, yang adalah penawar terakhir, telah mengajukan harga Rp 26,5 per saham (1,45 nilai buku), lebih tinggi dari harga dasar yang ditetapkan BPPN sebesar Rp 24,84 (1,38 nilai buku). Jika transaksi dengan Commerce terlaksana, pemerintah akan memperoleh hasil divestasi 51 persen sahamnya sebesar Rp 1,057 triliun. Sementara itu, Ketua BPPN Syafruddin Temenggung berpendapat, jika dilakukan reverse stock split atau pengumpulan kembali saham, saham Bank Niaga bisa dijual Rp 2.400 per lembar. Ini berarti lebih baik daripada harga penjualan saham BCA senilai Rp 1.775.

Sesuai dengan usul DPR, Jumat pekan lalu BPPN menegosiasi kembali harga, dan Senin ini hasilnya akan dilaporkan ke Komisi IX DPR. Menurut Deputi Ketua BPPN bidang Restrukturisasi Perbankan, I Nyoman Sender, BPPN mungkin akan meminta Commerce menaikkan penawarannya hingga dua kali nilai buku atau sekitar Rp 36—total menjadi sekitar Rp 1,4 triliun. Tapi semuanya bergantung pada Commerce. Direktur Utama Bank Niaga, Peter B. Stok, mengatakan bahwa pihaknya meminta agar pemerintah segera membereskan divestasi Niaga. "Sudah dua kali rencana divestasi Bank Niaga gagal. Kita harapkan yang ketiga ini jangan sampai gagal lagi," katanya.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data