Pahit Gula Dilabrak Impor Nasib petani tebu tak kunjung membaik, gula selundupan kian marak. |
GEMERISIK daun tebu terdengar bagai nyanyian kematian. Jutaan petani tebu di Jawa kini seperti sedang menggali kuburnya sendiri. Bayangan keuntungan yang dulu selalu menyertai ladang-ladang subur sekarang berganti menjadi mimpi buruk: kerugian dan kerugian. Dari tiap hektare kebun, mereka akan kehilangan Rp 7 juta. "Untuk bertahan hidup," kata Ketua Asosiasi Petani Tebu Kabupaten Klaten, Syaifuddin, "kami harus menggadaikan harta yang tersisa."
Duka cita petani tebu memang bukan cerita baru. Sejak gula impor menyerbu pasar lokal, nasib mereka tiba-tiba meluncur ke bibir jurang. Dengan harga jual Rp 3.700 per kilogram, gula lokal kalah bersaing dengan gula asal luar negeri (terutama dari India, Vietnam, dan Brasil) yang bisa diproduksi dengan biaya tak lebih dari Rp 1.800 per kilogram. Jaring pajak bea masuk yang besarnya Rp 550 per kilogram (untuk gula kasar) hingga Rp 700 (untuk gula putih) ternyata tak cukup menolong.
Hari-hari belakangan ini, petani tebu makin kapiran lantaran pasokan gula impor kian menjadi-jadi. Celakanya, banjir gula asal luar negeri itu dijual dengan harga supermurah: Rp 2.800 per kilogram. Bagaimana mungkin gula impor yang sudah dihadang bea masuk hampir 30 persen bisa diecer dengan harga diskon?
Bekas Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Permana Agung, punya cerita seru. Ia berani memastikan, gula impor murah membanjir karena maraknya penyelundupan. Menurut taksiran Permana, volume gula selundupan ini tidak main-main, sekitar 1,5 juta ton setahun, hampir separuh kebutuhan gula nasional. Daerah rawan penyelundupan seperti Dumai (Riau), Tanjung Karimun (Sumatera Timur), dan Pontianak (Kalimantan Barat) menjadi gerbang masuk utama para pencoleng. "Beking mereka sangat kuat," kata Permana.
Selain gelap-gelapan, para penyelundup gula juga memanfaatkan jalur "terang". Melalui prosedur resmi, importir memasukkan gula dengan jumlah melebihi volume yang dilaporkan. Penggelembungan ini pernah dibongkar aparat Bea Cukai Tanjung Priok, beberapa waktu lalu. Dua importir, PT Insan Makmur Sejati dan PT Insan Boga Sejahtera, mendongkrak volume gula impor hingga ratusan ribu ton lebih banyak dari yang dicatatkan. Kuat dugaan, siasat seperti ini telah banyak meloloskan gula gelap.
Di tengah serbuan gula selundupan, puluhan ribu petani tebu di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Lampung merasa tak punya pilihan lain kecuali turun ke jalan. Dua pekan lalu, mereka menuntut pemerintah memberlakukan tarif bea masuk 110 persen. Ini tarif maksimal yang masih dapat ditenggang oleh Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), hingga tahun 2010. Menurut perhitungan Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat, Abdul Wahid, hanya dengan pengutipan pajak superbesar, industri gula Indonesia yang mempekerjakan 21 juta orang itu bisa diselamatkan. "Kini sudah 13 pabrik gula yang gulung tikar," kata Abdul.
Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rini M.S. Soewandi mengakui permintaan petani tebu itu tak gampang dipenuhi. Persoalan gula impor seperti pedang bermata dua. Pemerintah memang wajib memelihara kehidupan industri gula, tapi selain itu sekaligus juga harus melindungi kepentingan konsumen. Pajak bea masuk yang tinggi bisa menyelamatkan industri tapi mencekik masyarakat pemakai gula. "Seperti buah simalakama," kata Rini, "pilihannya sulit."
Persoalannya akan lebih rumit lagi jika arus penyelundupan tak bisa dibendung. Berapa pun tarif pajak bea masuk dipasang, gula impor akan tetap membanjir seperti menerobos bendungan bobol. Logika ini agaknya disadari benar oleh aparat Bea Cukai. Sejak pertengahan September lalu, Direktur Jenderal Bea dan Cukai yang baru, Eddy Abdurrachman, mencoba membangun benteng berlapis. Ia memindahkan gula ke "jalur merah". Artinya, semua gula impor harus menjalani pemeriksaan volume maupun fisik, tak sekadar uji dokumen seperti barang impor di "jalur hijau". Dengan cara ini, Edy berjanji, "Penyelundupan makin kecil."
Jika janji itu tak bisa dipenuhi, petani tebu akan terus menjadi pecundang. Mereka memang tak putus asa. Pekan ini, belasan ribu petani tebu akan mencoba merangsek ke Istana Merdeka, mengadukan nasibnya ke Presiden Megawati. Namun itu pun agaknya tak akan meringankan beban pinjaman bank untuk modal menanam tebu, yang kemungkinan besar tak terbayar. "Kami hanya bisa menjerit," kata Syaifuddin, putus asa.
Setiyardi, Levi Silalahi, dan Tempo News Room
|