Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 29/XXXI/16 - 22 September 2002
   
Selingan

Nyanyi Sunyi Pekerja Haram

Kini terusir pulang, tapi dia ingin kembali ke Malaysia.

NASIB Andi Endra seperti layang-layang putus. Lelaki Bugis bekas pekerja haram di Malaysia itu kini hidup menganggur di Nunukan. Tak mengantongi paspor dan dokumen sebagai pekerja, dia terpaksa hengkang dari Malaysia akhir Agustus lalu, buntut dari kebijakan keimigrasian baru pemerintah setempat.

Endra hanya salah satu dari sekitar 25 ribu orang Indonesia, bekas pekerja haram dan keluarganya, yang kini mengungsi di kota di Kalimantan Timur itu. Seperti Endra, mereka bekerja di sektor perkebunan, industri perkayuan, sektor jasa sebagai pembantu rumah tangga, dan lain-lain. Kebanyakan sudah hengkang ke Indonesia. Cuma, diperkirakan hingga kini sekitar 20 ribu pekerja haram beserta keluarganya masih bertahan di Sabah. Selain bersembunyi di hutan-hutan, sebagian bertahan di perkebunan kelapa sawit, kakao, dan lahan pertanian sembari menunggu gaji dan uang asuransi yang belum terbayar.

Menurut penuturan pekerja yang berhasil mengungsi ke Nunukan, dari sebagian yang tertinggal itu ada yang ditahan majikan sembari menunggu pekerja baru yang juga didatangkan dari Indonesia. Pekerja dari Indonesia memang masih mengalir, meski kini banyak dari mereka memilih menjadi "pekerja terang", suatu hal yang kini diinginkan pula oleh Endra.

Berusia 45 tahun, Endra meninggalkan kampung halamannya di Pinrang, Sulawesi Selatan, pada 1971. Melalui jasa seorang cukong di Nunukan, dia menyelundup ke Malaysia. Tanpa dokumen resmi, jebolan sekolah dasar itu langsung bekerja sebagai tukang kayu di pinggiran Tawau, Negara Bagian Sabah, Malaysia, yang jaraknya hanya 50 kilometer dari Nunukan. Penghasilannya lumayan: sekitar Rp 80 ribu per hari.

Endra tinggal di sebuah rumah tumpang di kawasan Sandakan, Tawau, bersama empat kawannya. Sebagai pekerja haram, dia sering dihantui razia polisi. Pada malam hari di saat tertidur lelap, dia sering terbangun bila mendengar gonggongan anjing. Bila mendengar suara itu, Endra akan segera mengintip melalui lubang dinding untuk mencuri tahu tamu tak diundang: polisi. "Hidup saya tidak pernah tenang. Selalu ada ketakutan dirazia," katanya.

Untuk bersiasat menghindari kejaran polisi, Endra membuat tempat sembunyi di atas langit-langit rumah. "Kalau polisi menyorotkan lampunya ke plafon, kami tak terlihat," katanya. Sering sukses, cuma sesekali ia terkena batunya. "Bila terazia, kami masuk penjara dua bulan." Tapi, setelah bebas dari penjara, dia kembali ke pekerjaannya. Cara hidup seperti itu menggoyahkan rumah tangganya. Endra terpaksa bercerai dari istrinya, yang dinikahi 11 tahun lalu. Anaknya semata wayang dititipkan ke rumah orang tuanya di Sulawesi. Gaji selama bekerja di Sabah menguap untuk foya-foya.

Endra belum berhenti bermimpi untuk kembali ke Malaysia. Dia sedang mengurus paspor dan dokumen kontrak kerja untuk melepaskan status haramnya. Cerita sukses banyak orang Indonesia di Malaysia memang menggiurkannya. Endra ingin meniru sekitar 2.000 orang Indonesia, kebanyakan dari suku Bugis dan Jawa, yang datang ke Sabah sejak dua abad lalu dan menjadi warga negara Malaysia.

Memang ada banyak perantau asal Bugis yang dikenal sukses di sana. Haji Baco Kada, misalnya. Dia pemilik puluhan armada otobus untuk transportasi antarkota sewilayah Sabah. Atau pengusaha Andi Baddu, yang mengelola kapal laut rute Tawau-Nunukan. Juga Datuk Haji Andi Yakin Mappassare, pengusaha kelapa dan minyak sawit yang punya lahan seluas 100 ribu hektare, 20 unit pabrik minyak sawit, serta empat pabrik mentega dan sabun. Sukses di Malaysia, Datuk bahkan melebarkan sayap bisnisnya ke Indonesia dengan menanam modal sekitar Rp 450 miliar di bidang perkebunan kelapa sawit.

Kisah harum para pendahulu itu tampaknya menggiurkan ratusan ribu pekerja semacam Endra. Ketika kondisi perekonomian di Indonesia dilanda krisis hebat dan jumlah penganggur puluhan juta orang, Malaysia menjadi negeri impian. Data jumlah pekerja Indonesia di Malaysia yang mengantongi dokumen kerja resmi sekitar 600 ribu orang. Sedangkan jumlah pekerja haram Indonesia, menurut Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Jusuf Kalla, sekitar 480 ribu orang.

Ketika urusan perut harus diperjuangkan, pengalaman sulit menjadi pendatang haram tidak membuat mereka jera.

KMN, Tomi Lebang (Nunukan)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data