Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 29/XXXI/16 - 22 September 2002
   
Laporan Utama

Berebut Rezeki Sutiyoso

Dukungan massa membantu Sutiyoso di saat-saat akhir terpilih sebagai gubernur. Sebagian ternyata massa bayaran.

ADA pesta di ruang tamu Balai Kota Jakarta, Rabu malam pekan lalu. Puluhan orang berkumpul, bercakap, dan tak lupa: tertawa. "Kamilah yang pertama datang ke Balai Kota. Waktu itu, tak ada yang berani datang," kata Zacky Fahira, 32 tahun, petinggi wadah yang menamakan diri Forum Alumni Istiqlal.

Zacky bercerita tentang sebuah drama penting, sejak pagi sampai siang hari itu, ketika para penentang Sutiyoso sedang mengepung Balai Kota. Mereka memblokir Jalan Merdeka Selatan dan Kebon Sirih untuk menghalangi para anggota DPRD bersidang. Lima ribu massa, dari mahasiswa, Front Pembela Islam (FPI), sampai warga Betawi, tumplek memenuhi jalan. Mereka menghadang anggota Dewan pendukung Sutiyoso dan menolak Sutiyoso dipilih sebagai gubernur. Hingga mendekati zuhur, baru 78 dari 84 anggota Dewan yang hadir. Tapi, tak kehilangan akal, anggota Dewan kemudian diselundupkan dengan tiga mobil lapis baja polisi. Sebagian lagi diangkut dengan dua helikopter polisi, termasuk Sutiyoso sendiri.

Anggota Fraksi PAN dan PK sempat mengusulkan agar sidang ditunda. "Di luar terjadi penembakan," kata Agus Darmawan dari PAN. Usul itu ditolak. Sejak saat itu, bisa disebut para penentang Sutiyoso sudah kalah. Sebab, ia mengantongi dukungan dari fraksi-fraksi besar, yaitu PDIP, PPP, dan TNI/Polri. Nyatanya, Sutiyoso memang menang dalam pemungutan suara untuk Gubernur DKI periode 2002-2007. Selisih suara yang diperolehnya cukup besar, 47 suara berbanding dengan 13 suara yang diperoleh pesaing kuatnya, pasangan Tarmidi Suhardjo-Abdillah Toha.

Para pesaing Sutiyoso pun lemas ketika panitia pemilihan Agung Imam Sumanto—juga Ketua Fraksi PDIP—membacakan surat suara ke-43 yang mendukung Sutiyoso. Itu berarti mantan Panglima Kodam Jaya itu telah meraih 50 persen suara plus satu.

Ketika perolehan suaranya mencapai 26, Sutiyoso keluar dari ruangan kantornya dan menuju gedung DPRD. Zacky—saat itu tengah berada di depan Balai Kota—buru-buru mencium tangan Sutiyoso. "Tiga anggota saya bocor kepalanya dipentung FPI. Ini semua demi Bang Yos," ungkapnya selayaknya pendukung setia. Massa pendukung Sutiyoso, yang "jatuh moral" sejak pagi, siang itu mulai berdatangan. Berbeda dengan massa yang menentangnya, ratusan massa pendukung ini kelihatan diorganisasi dengan rapi. Itu terlihat jelas dari seragamnya: dari Forum Komunikasi Putra-putri Purnawirawan ABRI (FKPPI) Wilayah Jakarta yang memakai pakaian loreng, Paguyuban Orang Betawi (POB) dengan seragam hitamnya, sampai Forum Alumni Istiqlal dengan kaus berwarna oranye berlengan hitam bertuliskan "Let's Vote Bang Yos!"

Etnis Betawi terlihat dominan dalam barisan massa Sutiyoso. Meski pencalonannya tidak didukung oleh Badan Musyawawah (Bamus) Betawi—yang mendukung gubernur dari putra daerah—kantong dukungan Sutiyoso bukan tidak ada. Duetnya dengan Fauzi Bowo, yang berdarah Betawi, memberinya tonikum. Dari 68 organisasi elemen Bamus Betawi, beberapa menyempal mendukung pria kelahiran Gunungpati, Semarang ini. Misalnya Forum Betawi Rempug, Gabungan Ormas Islam Betawi, dan Paguyuban Orang Betawi. Sutiyoso juga diuntungkan dengan abstainnya lembaga Betawi lain di bawah pimpinan K.H. Zainuddin M.Z., yakni Yayasan Warga Betawi, dalam soal pemilihan gubernur.

Malam hari seusai pemilihan gubernur, para petinggi pendukung Bang Yos terlihat berduyun-duyun datang ke bekas gedung Administrasi Protokol Pimpinan. Rupanya, mereka mengurus "honor". "Saya mau ke Pak Muhayat (Kepala Biro Humas Pemda DKI) untuk mengurus ongkos," kata Zacky enteng. Sebagian lagi memilih pergi ke "Komisi 16"—sebutan untuk Biro Kesatuan Bangsa yang berkantor di lantai 16 Gedung Pemda DKI. Lembaran bergambar W.R. Supratman kemudian tampak dibagi-bagikan di halaman Balai Kota. Menjelang tengah malam, anggota Dinas Ketenteraman dan Ketertiban (Tramtib) dan Bantuan Polisi (Banpol) dibariskan. Mereka pun kecipratan "rezeki Sutiyoso". Di antara mereka terlihat beberapa orang merangkap seragamnya dengan kaus dukungan kepada Sutiyoso.

Bagi-bagi duit ini tidak dibantah oleh Muhayat. "Malam itu, puluhan orang bertemu dengan saya memaksa diberi uang. Daripada ribut, saya kasih sekadarnya saja," ujarnya. Selama proses pemilihan gubernur, ujar Muhayat, praktek pemalakan terhadap Pemda DKI meningkat. Alasannya, mereka sudah mendukung Sutiyoso. Mereka mengaku berasal dari LSM, ormas, bahkan wartawan. "Padahal mereka orang yang tidak jelas," katanya. Pemda DKI sendiri tidak pernah membuat proyek dukungan untuk Sutiyoso. Sedangkan menyangkut anggota Tramtib dan Banpol, uang yang dibagikan adalah upah harian dan lembur mereka. "Mereka kan tenaga lepas. Statusnya kontrak," ujar Muhayat.

Sutiyoso sendiri memilih diam meski mengaku tak kekurangan pendukung. "Kalau saya mau, bisa saja digerakkan," katanya. Tapi apakah mereka itu yang ia maksudkan?

Arif A. Kuswardono, Tjandra Dewi


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data