Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 29/XXXI/16 - 22 September 2002
   
Kesehatan

Bayi-Bayi yang Ikut Sakaw

Anak yang lahir dari ibu pecandu narkoba cenderung ketagihan dan terancam kelainan

MEMANG cocok jika narkotik dan obat berbahaya diberi julukan bubuk setan. Dampak buruknya sanggup menggores luka yang luar biasa dalam, bahkan sampai menembus generasi. Kisah pahit Ella, bukan nama sebenarnya, yang tinggal di Kecamatan Sibolangit, Deli Serdang, Sumatera Utara, menyuguhkan bukti nyata.

Perempuan 23 tahun ini sudah berbilang tahun kecanduan bubuk heroin atau putaw. Ella tak peduli nyawanya bisa melayang lantaran overdosis. Dia tidak pula menimbang keselamatan janin yang sedang menghuni rahimnya. Ella pun tak paham bahwa putaw bisa larut dalam cairan dan terbawa ke tubuh janin melalui tali plasenta. Pokoknya, bagi dia, yang penting narkoba jalan terus.

Lalu, Oktober 2001, Ella melahirkan bayi lelaki bernama Rahmad, juga bukan nama sebenarnya. Apa daya, kehadiran si buyung belum cukup kuat memaksa Ella menghentikan kegiatan madat. Ibu muda ini bahkan sampai hati menggadaikan Rahmad—saat itu berumur 40 hari—kepada seorang bandar dengan imbalan putaw kira-kira senilai Rp 300 ribu. Si bayi akhirnya kembali ke pangkuan ibunya setelah ditebus sebulan kemudian dengan bantuan seorang kawan Ella.

Kecanduan Ella, yang ditelantarkan suaminya, sesama pemadat, terus berlanjut. Seminggu paling sedikit dua kali dia menusukkan jarum berisi cairan putaw ke lengannya. Ini sebuah kecerobohan yang menyeret Rahmad, yang belum sanggup membuat pilihan hidup apa pun, turut menjadi pecandu. Racun putaw terus menyebar ke segenap tubuh Rahmad kecil melalui air susu Ella.

Memang Rahmad tetap bertahan hidup. Namun sepanjang waktu dia menangis dengan tangisan yang tidak lazim. Jeritan Rahmad begitu kuat melengking memancarkan kesakitan yang amat sangat, seolah tengah sakaw (withdrawal) alias ketagihan putaw.

Akhir 2001, Ella membawa Rahmad, yang saat itu berumur 3 bulan, ke Pusat Pendidikan Masyarakat Anti-Narkoba Sumatera Utara, Sibolangit, Medan. Di tempat ini, Ella-Rahmad berobat dan membersihkan tubuh dari racun narkoba (detoksifikasi).

Sebagai langkah awal, pasokan air susu Ella untuk Rahmad distop. Tujuannya adalah menghentikan aliran heroin ke tubuh si bayi. Berikutnya, setiap kali menangis, Rahmad disuntik obat pengganti putaw dengan dosis yang terkendali. "Awalnya, 2-3 jam setelah disuntik, Rahmad menangis lagi," kata Zulkarnain Nasution, Direktur Pusat Informasi Masyarakat Anti-Narkoba. Pelahan-lahan kondisi Rahmad membaik. Dua bulan kemudian, mereka sudah dinyatakan pulih dan pulang ke rumah orang tua Ella di Jakarta.

Rahmad kecil, berdasarkan pemeriksaan dokter, memang mengalami gejala sakaw yang lazim terjadi pada bayi yang lahir dari ibu pemadat—istilahnya neonatal abstinence syndrome (sindrom ketiadaan pada bayi baru lahir). Bayi malang seperti ini dipastikan makin banyak dijumpai seiring dengan meningkatnya jumlah pecandu narkoba di seantero dunia. Di Amerika Serikat, misalnya, setiap tahun sedikitnya ada 10 ribu bayi yang lahir dari ibu pecandu heroin dan metadon.

Bagaimana dengan Indonesia?

Patut kita catat, saat ini kira-kira ada 4 juta pecandu narkoba di seluruh Indonesia dan tiap tahun angka ini bertambah sepuluh persen. Dengan demikian, ada cukup banyak bayi yang lahir dengan neonatal abstinence syndrome (NAS).

Sayang, tidak gampang mendapatkan data statistik yang memadai. Faktor penyebab utama, dengan alasan ingin berahasia, para ibu pemadat lebih suka memilih klinik kecil sebagai tempat bersalin. Kalaupun bersalin di rumah sakit besar, para ibu ini enggan berlama-lama menggenapkan proses pemeriksaan. "Mereka bergegas pulang begitu usai melahirkan," kata Moersintowarti B. Narendra, Kepala Instalasi Rawat Inap Anak Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Soetomo, Surabaya.

Penyebab yang lain, menurut Agus Harianto, dokter ahli anak di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya, tim dokter pun tak bisa dengan gampang melacak adanya NAS hanya dari penampakan bayi. "Sebagian besar bayi NAS tampak sehat walafiat ketika lahir," kata Agus.

Barulah ketika dicermati lebih lama, saat pasokan heroin dari plasenta lama terputus, ketidakberesan tampak. Selang 24 jam atau 4-5 hari setelah kelahiran, bayi mengalami kejang-kejang, gemetar, susah bernapas, menangis kencang nyaris nonstop, sulit tidur, dan luar biasa aktif—persis gejala orang yang sedang mengalami putus obat atau sakaw yang berdampak fatal. Kematian mendadak (sudden infant death syndrome—SIDS) bakal menanti jika bayi tak diberi pertolongan.

Lalu bagaimana menolong bayi-bayi sakaw ini?

Pertama, seperti dijelaskan Hardiono D. Pusponegoro, dokter ahli saraf anak di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, dokter wajib mengenali tanda dan gejala pada bayi. Kekuatan tangis jabang bayi, misalnya, harus diukur dengan teliti. Tes darah juga mutlak dilakukan karena ada kemungkinan si bayi tertular virus hepatitis atau HIV dari ibu yang menggunakan jarum suntik narkoba dengan silih berganti.

Kemudian, berbekal data hasil pemeriksaan komplet, barulah dokter membantu bayi melepaskan diri dari ketergantungan narkoba. Caranya adalah dengan suntikan obat antiputaw—contohnya naloxone—dengan dosis yang berangsur-angsur diperkecil.

Jenis obat antiheroin yang diberikan pun tak bisa sembarangan. Bayi dengan kesulitan bernapas, misalnya, mesti diberi obat alternatif. Sebab, "Suntikan naloxone malah berisiko memperberat reaksi sakaw," kata Hardiono, yang juga Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Begitu gejala sakaw teratasi, seperti dijelaskan Hasto Wardoyo, spesialis kandungan di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, penanganan melangkah ke tahap berikutnya. Operasi akan dilakukan untuk membenahi kelainan organ fisik yang mungkin terjadi.

Hasto menjelaskan, narkoba, obat yang berlebihan, atau minuman beralkohol yang dikonsumsi ibu hamil bakal mengganggu proses organogenesis. Padahal inilah tahap paling penting saat organ tubuh mulai dirancang. Proses ini berlangsung sejak janin berusia 56 hari. Jika terganggu, si bayi nantinya menuai NAS dalam beragam kadar, dari yang ringan sampai amat parah.

Memang hasil gangguan organogenesis dan NAS masih bisa direparasi. Tapi tindakan ini hanya berlaku pada kelainan fisik yang ringan seperti bibir sumbing atau dinding perut yang terbuka. Lain soal bila si bayi menyandang kelainan sistem pernapasan atau kekacauan katup jantung. "Reparasi akan jauh lebih sulit," katanya.

Nah, mengingat dampak yang begitu buruk, Hasto mengingatkan, tak ada cara ampuh bagi pemadat untuk mencegah bayi dari NAS. Satu-satunya jalan adalah mengusir narkoba jauh-jauh hari sebelum dan selama kehamilan.

Mardiyah Chamim, Dewi Rina Cahyani, Bambang Soedjiartono (Medan), Sunudyantoro (Surabaya), Syaiful Amin (Yogyakarta)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data