Prahara di Rumah Dinas Dua anak Wakil Gubenur Jawa Barat tertangkap basah mengonsumsi heroin dan putaw. Berbau politis? |
DI TENGAH siang, polisi tiba-tiba datang. Setelah sempat bicara sebentar dengan si empunya rumah, mereka segera masuk dan mengaduk-aduk rumah mentereng di Jalan Diponegoro di Bandung itu. Selang beberapa lama, polisi sudah keluar lagi dengan menggandeng paksa tiga pemuda. Warga di sekitar rumah itu hanya bisa melongo, penuh tanya di kepala mereka.
Seonggok keheranan yang lumrah. Soalnya, peristiwa Rabu pekan lalu itu terjadi di rumah dinas Wakil Gubernur Jawa Barat, T. Soedarna. Pemuda yang dicokok polisi, Gan Gan Sunandar, 27 tahun, dan Riky Sunan Mustafira, 24 tahun, adalah anak si pejabat ini. Satu lagi adalah Erik Apriyanto, yang diduga sebagai pengedar narkotik.
Ketika petugas dari Kepolisan Wilayah Kota Besar Bandung datang, semula Nyonya Oyamah, 50 tahun, istri Soedarna, masih berusaha melindungi mereka. Dia bilang bahwa anak-anaknya sedang pergi ke Kota Cimahi. Hanya, polisi tak percaya begitu saja. Mereka segera mengobok-obok rumah itu.
Di salah satu kamar polisi menemukan Gan Gan, yang cuma bercelana Hawaii, sedang rebahan. Ketika hendak berdiri, tubuh pemuda itu terhuyung dengan kedua bola mata melebar dan anak matanya menonjol. Dia sempat bergumam seperti sedang "melayang". Sebuah jarum suntik tergeletak di kamar. Polisi menjumput jarum suntik yang masih berisi darah segar dan sedikit heroin di pipanya itu. "Barusan kamu pakai, ya? Ini jarum siapa?" kata polisi. Gan Gan tak bisa menjawab.
Polisi lalu menggeledah lemari, kolong tempat tidur, dan seprai. Mereka menemukan puluhan bekas bungkus heroin dan beberapa keping cakram padat film biru. Melihat semua bukti itu, Nyonya Oyamah hanya menggelengkan kepala. Dia juga tak merasa berbohong. "Abdi teu terang pun anak di kamar (Saya tidak tahu bahwa anak saya di kamar)," kata Nyonya Oyamah.
Penyisiran belum berhenti. Di depan pintu kamar lain yang tertutup, ada sepasang sandal dan sebotol minuman air mineral. Ketika ditanya polisi, Nyonya Oyamah pun mengaku tak tahu siapa orang di dalamnya. Setelah mendobrak jendela kamar, polisi memergoki Riky Sunan Mustafira, adik Gan Gan, sedang on alias teler, dan Erik Apriyanto. Menurut polisi, hari itu Riky menikmati putaw sebanyak 0,25 gram. Petugas juga menemukan barang bukti, antara lain heroin 1 gram, dua jarum suntik, dan alat sedot berupa pipa serta kertas perak.
Gan Gan, Riky, dan Erik kini ditahan di markas Kepolisian Wilayah Kota Besar Bandung. Gan Gan adalah mahasiswa Fakultas Teknik Sipil Universitas Pasundan, Bandung. Di kalangan teman-teman mahasiswanya, ia dikenal suka mengonsumsi narkotik. Ia sendiri mengaku menghabiskan 0,5 gram heroin sehari.
Sebenarnya, Mei lalu Gan Gan sudah ditangkap polisi di Jalan Sukarajin, Cikutra Baru, Bandung, karena ketahuan memakai heroin. Ia ditahan seminggu dan dinyatakan sebagai tersangka. Namun, orang tuanya meminta polisi agar menangguhkan perkara ini lantaran si anak dalam proses rehabilitasi untuk menghilangkan kecanduannya. Polisi pun mengabulkan permohonan itu dengan syarat tetap wajib lapor setiap pekan.
Hanya, belakangan Gan Gan enggan memenuhi kewajiban ini, dan akhirnya polisi pun menggerebeknya. Lagi pula, "Kendati penahanannya saat itu ditangguhkan, perkaranya kan masih terus diproses," kata Kepala Satuan Reserse, Ajun Komisaris Besar Masguntur Laupe.
Bagi Wakil Gubernur Soedarna, penggerebekan bagaikan prahara yang menerpa tiba-tiba. Dia pun mencium bau politik di balik tindakan polisi. Diduga, langkah itu adalah upaya memojokkan dirinya, yang akan mencalonkan diri sebagai Gubernur Jawa Barat masa jabatan mendatang. Apalagi Nyonya Oyamah juga tengah mengikuti pencalonan sebagai Wali Kota Cimahi. Karena itu, sang istri sungguh sebal pada polisi. "Saya merasa dibohongi," ujarnya.
Bisa saja anak-anak mereka dijebak. Tapi tudingan ini buru-buru ditepis oleh Kepala Kepolisian Wilayah Kota Besar Bandung, Komisaris Besar Hendra Sukmana. Kata dia, "Ini murni pidana. Tak ada urusan dengan politik segala."
K.M.N., Upiek Supriyatun (Bandung)
|