Jual Mahal ala Temenggung Dikejar setoran, BPPN akan terpaksa melepas murah Bank Niaga. Juragan barunya Commerce Berhad dari Malaysia?
|
PELUANG itu tinggal sekedipan mata. Setelah penjualannya sempat ditunda Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Juni lalu, kali ini tampaknya impian Commerce Asset-Holding Berhad memiliki Bank Niaga akan menjadi kenyataan. Pekan kemarin sinyalnya telah menyala. Lembaga investasi asal Malaysia ini merupakan satu-satunya penawar yang lolos kualifikasi. Commerce sendiri telah sangat jatuh hati. Kata direkturnya, Mohammed Rozali Ali, mereka amat serius dengan pembelian ini.
Dikejar target setoran, BPPN sejatinya tak punya banyak pilihan. Bahkan Bank Indonesia (BI), yang menentukan layak-tidaknya suatu pihak menjadi pemilik bank, telah melansir pernyataan supaya penjualan 51 persen saham Niaga tak ditunda lagi. Kata Deputi Senior BI, Anwar Nasution, percuma mengulur waktu karena tak ada jaminan harganya bisa lebih bagus.
Harga. Itulah soalnya. Kali ini pun Commerce cuma berani menawar Rp 26,5 per lembar saham. Memang ini sudah lebih tinggi dari harga dasar yang dipatok Rp 24,8. Pun telah naik 4,5 perak dibandingkan dengan pengajuan mereka sebelumnya. Tapi tetap saja itu hanya 1,45 kali nilai buku Niaga. Dan total jenderal pemerintah hanya akan mengantongi Rp 1,1 triliun, jauh di bawah ongkos rekap Rp 9,5 triliun yang diinjeksikan pada 1999 silam.
Kata akhir baru akan diambil akhir bulan depan. Tapi, sejauh ini, Ketua BPPN Syafruddin Temenggung belum juga menyalakan lampu hijau. Ia mengatakan baru akan melepas kalau harganya cocok. Cuma, berapa dan apa ukurannya tak juga jelas.
Yang sudah terang, BPPN telah kehilangan akal mendongkrak nilai bank yang dulu dimiliki keluarga Tahija ini. Juni lalu, ketika penjualan Niaga ditunda karena cuma ditawar Rp 15-25 per helai, Syafruddin pernah menegaskan tak akan melepasnya di bawah harga Rp 100. Ketika itu, ambisi ini dicibir banyak pengamat. Dengan nilai buku cuma 15 perak, nyaris mustahil menemukan investor edan yang mau membayar berlipat kali.
Toh, Syaf berkukuh. Kata dia kepada majalah ini, "Nilai buku tak bisa dijadikan patokan." Ada banyak faktor lain yang mempengaruhi harga sebuah perusahaan. Buktinya, kata dia, penjualan Bank Central Asia. Dilego cuma 1,5 kali nilai buku, saham bank eks Salim ini terus meroket begitu dilepas di bursa: dari semula Rp 975 hingga pernah mencapai Rp 2.500 per lembar.
Maka Syaf hakulyakin saham Niaga bisa laku Rp 600-800. Penjualan lantas ditunda. Skema pelepasannya pun diubah. BPPN akan melego 20 persen dulu di bursa. Baru setelah harganya terdongkrak, 51 persen saham dilego ke investor strategis.
Apa yang terjadi? Ternyata teori doktor perencanaan wilayah dari Universitas Cornell ini hancur lebur. Bukannya mumbul di pasar, baru diguyur BPPN satu persen saja, harganya langsung tenggelam. Jumat lalu, saham Niaga cuma laku sekitar 30 perak, melorot tajam dari sebelumnya, Rp 80. Khawatir makin kelelep, buru-buru BPPN menyetop keran. Syaf pun terpaksa kembali putar haluan: menjual dengan patokan nilai buku.
Analis perbankan Mirza Adityaswara melihat BPPN tak punya pilihan selain segera melepas Niaga. Dengan nilai buku kotor Rp 15 per saham, tawaran Commerce, kata Mirza, tak jelek-jelek amat. Apalagi, setelah Niaga, telah menunggu penjualan Bank Danamon. Dengan keuangan tak seberkilap Danamon, tentu sulit memperoleh harga tinggi. "Kalau Danamon ditawar satu investor, layak ditunda," katanya.
Tapi jalan Commerce menuju gerbang Niaga belum lagi mulus. Deputi Bidang Restrukturisasi Perbankan, I Nyoman Sender, masih mematok harapan tinggi. Menurut dia, BPPN telah pasang janji di depan anggota Dewan untuk menjualnya seharga dua kali nilai buku—ini sudah turun dari patokan sebelumnya, 2,5 kali. Dan celakanya, jurus "jual mahal" itu kini berbalik jadi bumerang. Di Senayan, para wakil rakyat sudah galak menagih janji: minta penjualan Niaga dihentikan kalau harganya tak sesuai dengan janji BPPN.
Leanika Tanjung, Purwanto
|