Saat Gelap Menelan Ibu Kota Dua hari listrik padam di seluruh wilayah Jabotabek. Cuma karena soal teknis? |
DIREKTUR Utama Perusahaan Listrik Negara (PLN), Eddie Widiono, rupanya punya bakat jadi ahli nujum. Dua tahun silam, di sebuah seminar kelistrikan di Jakarta, ia meramal. Begini bunyinya: pada 2003 kelak Jawa-Bali bakal gelap-gulita. Penyebabnya, kelangkaan pasokan listrik karena cekaknya dana investasi PLN.
Dua tahun berselang. Dan pada Kamis petang kemarin, jantung Asep, seorang warga Cibinong, Bogor, nyaris copot. Sebuah ledakan keras mengguncang rumahnya, yang sedetik kemudian langsung pekat tanpa cahaya. Bunyi menggeledek itu datang persis dari sebelah kediamannya, dari gardu induk tegangan ekstra-tinggi. Menghambur keluar, Asep melihat salah satu tiang di dalam gardu terbakar. “Wah, kenceng pisan (keras sekali) bunyinya, seperti bom. Terus keluar kembang api dan bau hangus,” katanya.
Meski lebih cepat setahun, ramalan Eddie terbukti lumayan jitu. Begitu gardu Cibinong meletup, selama hampir enam jam dari pukul 17.55 aliran listrik terputus di hampir seluruh wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, dan Banten. Malam itu Ibu Kota, yang biasanya kemilau disiram lampu warna-warni, seperti ditelan gelap. Daerah-daerah itu hitam pekat.
Sempat menyala sebentar, esok pagi pukul 08.00 lampu sudah padam lagi. Hingga Jumat malam kemarin beberapa area Jakarta masih belum mendapat pasokan listrik. Baru di hari Sabtu situasi beranjak normal.
Inilah insiden terburuk yang pernah terjadi dalam lima tahun terakhir. Di tahun 1997, selama 12 jam listrik padam total di seantero Jawa-Bali. Cuma, karena terjadi pas di hari Minggu, kerugian yang ditimbulkan tak terlampau besar.
Kali ini kerugian lebih dari lumayan. Sedikitnya 4,5 juta pelanggan PLN terkena dampaknya. Kerugian ditaksir mencapai puluhan miliar rupiah. Sebagaimana diberitakan Koran Tempo, gara-gara dua hari listrik padam pabrik ban Goodyear di Bogor kehilangan 8.000 unit produksi. Duit Rp 1,25 miliar pun melayang. Semen Cibinong yang paling nelangsa. Dengan generator yang cuma sanggup menyuplai penerangan di areal pabrik, semua mesin praktis mogok. Apes juga menimpa nyaris semua perusahaan telepon seluler. Satelindo, misalnya, mengaku 638 dari sekitar 1.400 stasiun transmisi dan kontrolnya tak berfungsi.
Tak cuma pabrik besar yang terkena. Warung tegal, toko kecil, dan usaha rumahan pun gigit jari. PLN sendiri mengaku merugi Rp 1,5 miliar tiap jamnya.
Belum lagi, di masa-masa tanpa listrik itu banyak orang jadi sebal bukan buatan. Tak berfungsinya lampu merah membuat lalu-lintas di jalan-jalan protokol macet total. Di stasiun Bogor, ribuan penumpang bersungut-sungut menunggu kereta yang tak kunjung beringsut. Akibat gangguan sinyal pengatur perjalanan, PT Kereta Api Indonesia memperkirakan akan terjadi keterlambatan dua-tiga jam untuk jalur kereta jarak jauh. Mesin anjungan tunai mandiri juga tak sudi memuntahkan duit tunai. Air bersih jadi barang langka. Banyak orang ke kantor tanpa mandi.
Atas segala kerugian itu, seperti biasa, perusahaan “byar-pet” negara ini lantas sigap meminta maaf. Untuk mengantisipasi pelbagai tuntutan dari masyarakat, Direktur Operasi PLN Bambang Hermiyanto juga sigap menyatakan sebuah ketentuan: bahwa PLN baru diwajibkan mengganti kerugian bila terjadi pemadaman selama tiga hari berturut-turut. “Kurang dari itu, kami tidak perlu memberi ganti rugi,” katanya.
Insiden ini, kata Direktur Utama Eddie Widiono, terjadi karena hubungan pendek di gardu induk Cibinong yang lalu menjebol pembangkit listrik tenaga uap Suralaya dan Tanjung Priok. Buntutnya, semua wilayah Jakarta—kecuali Jakarta Pusat dan Utara—seluruh Provinsi Banten, Bogor, Karawang, Tangerang, dan Bekasi kehilangan daya sebesar 3.900 megawatt atau 72 persen dari total kebutuhan listrik 5.400 megawatt.
Sedangkan padam listrik kedua pada Jumat pagi bersumber pada terganggunya kembali transmisi Saguling-Cibinong, yang memutus aliran ke Jakarta, Banten, dan Jawa Barat bagian utara. Jakarta kembali kehilangan pasokan hingga 2.500 megawatt.
Eddie mengakui selama ini terdapat sejumlah kerawanan pada jaringan PLN. Kalau mau jujur, katanya lagi, sistem penghantar mudah sekali terganggu. Tak perlu ditabrak pesawat Boeing ala tragedi WTC, seutas kawat layangan yang menyangkut di kabel tegangan sudah cukup memicu korsleting.
Selain itu, sebagian besar transmisi di Jawa-Bali juga belum memiliki sistem cadangan yang memadai. Penyaluran listrik PLN hanya bertumpu pada jalur transmisi dari barat ke timur (lihat peta). Akibatnya, jika ada satu gardu di tengah yang jebol, tak mungkin pasokan ditambal dari lajur lain. Sedangkan pembangunan jalur selatan, yang bisa difungsikan sebagai pemasok cadangan, baru akan rampung dua tahun lagi. Saat ini cuma wilayah Jawa bagian barat yang telah dipasangi sistem pengaman berupa jalur cadangan untuk mengatasi gangguan pada jalur utama.
Toh, Eddie minta supaya masyarakat tak kelewat waswas. Meski tak berani menjamin kejadian menjengkelkan ini tak lagi terulang, ia menyatakan mati listrik model begini tak akan sering terjadi. Yang pasti, katanya lagi, kerusakan terjadi bukan karena disabot atau tindakan sengaja lainnya. “Sejauh yang kami temukan, ini semata-mata masalah teknis,” ujarnya.
Cuma teknis? Tunggu dulu, kata Ketua Serikat Pekerja PLN, Batara Lumbanraja, yang lagi berseberangan sikap dengan jajaran direksi tentang Undang-Undang Kelistrikan. Menurut dia, hulu persoalan ini juga terletak pada salah urus dan merajalelanya korupsi di PLN. Mestinya semua sistem kelistrikan memiliki koordinasi proteksi yang sangat canggih. Karena itulah jarang sekali listrik padam kecuali terjadi kekurangan daya pada pembangkit atau karena faktor gangguan alam.
Batara menengarai, mati listrik di Jakarta kemarin disebabkan tak berjalannya sistem proteksi itu. Besar kemungkinan, ini terjadi karena sejumlah instalasi tak beroperasi dengan benar. Penyebabnya apa lagi kalau bukan kualitas yang drop karena proses pengadaan yang sarat kongkalikong. Selama ini banyak proyek dibangun dengan penunjukan langsung. Masalahnya kian parah karena sejak tahun 1980-an PLN tak pernah lagi menyewa konsultan untuk membuat desain menyeluruh dalam pembangunan setiap pembangkit. Alhasil, banyak jaringan tak bekerja optimal.
Tengoklah, masih kata Batara, bagaimana ratusan gardu induk 150 kV berderet di jalan-jalan dalam rentang hanya beberapa kilometer. Padahal, di kota-kota besar negara lain, cukup gardu 70 kV. Sebab, selain harganya jauh lebih murah, jenis 150 kV biasanya juga hanya dipakai untuk transmisi jarak jauh. Jadi, kata Batara sambil tertawa, “Mestinya di Jakarta tidak boleh mati lampu, karena punya gardu termahal di dunia.”
Karaniya Dharmasaputra, Rommy Fibri, IG.G. Maha Adi, Rian Suryalibrata
|