|
SUNGGUH ironis, ada seorang Menteri Agama yang menunggui penggalian harta karun yang konon peninggalan Prabu Siliwangi. Barangkali yang ada dalam benak Pak Menteri: apa salahnya mencari upaya lain untuk melunasi utang negara saat tim ekonomi andalan Presiden tidak mampu mencari jalan keluar dari krisis ekonomi?
Tapi, terlepas dari kontroversi perusakan cagar budaya, betulkah ada harta karun di Batutulis, Bogor? Menurut hemat saya, harta karun yang diwariskan oleh nenek moyang kita sebenarnya sudah habis.
Demikian pula jenis kekayaan lainnya. Hutan seluas jutaan hektare telah dibabat habis. Samudra yang membentang luas di antara kepulauan Nusantara telah dirusak ekosistemnya sehingga terumbu karang dan ikan enggan berkembang biak. Tanah yang dulu sangat subur—bahkan Koes Plus mengibaratkan tongkat dan batu jadi tanaman—kini gersang, dan paceklik terjadi di mana-mana. Harta karun yang sangat melimpah tersebut telah dimakan secara rakus oleh para koruptor negeri ini. Rakyat hanya mendapat ”bekas galiannya”.
Kalau ternyata Pak Menteri benar-benar bisa menemukan harta karun, saya usul agar dia memimpin departemen baru yang mengurusi perburuan harta karun. Departemen ini bisa go international dan menjalin kerja sama dengan Inggris untuk memburu harta karun nenek moyang Ratu Elizabeth lewat sistem bagi hasil. Dengan demikian, akan diperoleh devisa negara yang berguna untuk memakmurkan rakyat.
AGUS SUKARNO SURYATMOJO
Telukjambe, Karawang
Jawa Barat
|