|
|
| |
Edisi. 27/XXXI/02 - 8 September 2002
|
|
Siswo Budoyo, Lakonmu Kini
Tobong kesenian tradisional ini terbengkalai di sebuah sudut Taman Hiburan Rakyat Surabaya. Tiada lagi gemerlap lampu warna-warni pada malam hari. Ketoprak Siswo Budoyo telah menghentikan pertunjukannya sejak beberapa bulan silam gara-gara sepi penonton. Sebanyak 87 pemainnya terpaksa mengais rezeki dengan menjadi pelatih tari, perias pengantin, atau bahkan penjual minuman.
Masa keemasan ketoprak Tulungagung ini tinggal kenangan. Siswo Budoyo dalam keadaan sekarat. Padahal grup ini merupakan satu-satunya ketoprak kondang yang berkeliling di Jawa Timur. Inikah ujung lakon sebuah ketoprak tobong?
|
|
'Sang Prabu' Terpaksa Berjualan
|
|
Ki Siswondo, Sebuah Legenda Kejayaan
Dia memperkenalkan manajemen modern dalam kelompok seni tradisional.
|
|
Ketoprak dengan 'Style'
|
|
Dulu Jual Karcis, Kini Selebriti
Tidak semua bekas anggota Siswo Budoyo hidup pas-pasan. Lihatlah Topan dan Leysus.
|
|
Siswo Budoyo, The Way You Were
The traditional art of traveling ketoprak is left abandoned in a corner in Surabaya’s public amusement park. No more the bright, colorful lights at night.
Ketoprak Siswo Budoyo ceased operation several months ago due to the lack of audience. Its 87 players had no choice but to earn their livings by becoming dance instructors, bridal makeup artists, even soft drinks vendors.
The golden age of the Tulungagung ketoprak is now but a memory. Siswo Budoyo is dying. It’s the only famous ketoprak tobong (traveling ketoprak) in East Java. Is this the final curtain?
|
|
The King Sells Soft Drinks
|
|
A Ketoprak Legend
Ki Siswondo introduced modern management to traditional theatre.
|
|
Ketoprak With Style
|
|
From Ticket Seller to Celebrity
Not all former Siswo Budoyo members have it rough. Look at Topan and Leysus.
|
|
|
| |
|
|
| buatan Radja|endro |
Majalah
Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

|
|
| |
|
|
|
|