Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 27/XXXI/02 - 8 September 2002
   
Ilmu dan Teknologi

PlayStation di Internet

Penggemar PlayStation kini bisa mengadu ketangkasan dengan lawan jarak jauh.

BAYANGKAN begini. Anda punya sahabat yang juga penggemar berat permainan adu tanding sepak bola di PlayStation. Hampir setiap waktu, Anda berdua selalu mengadu ketangkasan, baik di rumah maupun di tempat penyewaan. Kalau sudah asyik, lupa sudah segalanya. Sayang, kenikmatan bermain Anda berdua harus berhenti. Anda harus berpisah dengannya untuk waktu yang lama, berjauhan kota lagi. Haruskah Anda kehilangan masa seru itu?

Mungkin tidak perlu. Selasa pekan lalu, Sony meluncurkan sebuah peralatan tambahan yang memungkinkan konsol permainan PlayStation versi 2 (PS2) tersambung ke jaringan internet. Dengan alat itu, adaptor jaringan, dua pemain bisa bertanding jarak jauh, sejauh-jauhnya asalkan ada sambungan internet.

Adaptor itu memungkinkan PlayStation tersambung ke internet dengan dua pilihan kecepatan: pilihan lambat dengan modem berkecepatan 56 kilobyte atau pilihan cepat memakai Base-TX Ethernet. Setelah tersambung, pemakai bisa masuk ke arena-arena permainan online, memilih jenis ketangkasan, dan mencari lawan tanding. Beberapa jenis ketangkasan bisa dimainkan oleh beberapa pemain sekaligus yang berbeda-beda tempat.

Kemunculan adaptor itu diperkirakan akan meramaikan jagat permainan elektronik modern yang cenderung terbagi dalam dua model: memakai konsol (console game) dan memakai komputer (PC-based game).

Model pertama dimainkan dengan televisi yang berfungsi sebagai layar dan satu kotak (konsol) yang berfungsi memutar cakram berisi permainan. Konsol yang sekarang populer adalah Xbox (Microsoft), Dreamcast (Sega), GameCube (Nintendo), dan PlayStation (Sony).

Pada model kedua, permainan dirancang khusus untuk dimainkan di komputer. Jenis permainan ini biasanya juga dapat dimainkan oleh beberapa pemain sekaligus yang terhubung satu sama lain melalui jaringan internet—disebut online gaming. Ada beberapa situs yang menyediakan permainan seperti itu. Permainan sederhana seperti catur tersedia cuma-cuma. Tapi, untuk permainaan kompleks seperti StarWars, orang harus membayar.

Nah, adaptor Sony merupakan semacam jembatan di antara dua tren itu, membuat sebuah konsol tersambung ke internet dan memungkinkan terjadinya permainan yang diikuti banyak pemain dari segala penjuru dunia. Seorang pemain yang menggunakan konsol bisa saja melawan pemain yang menggunakan komputer atau sebaliknya.

Selain itu, adaptor Sony menerbitkan optimisme. "Bagi mayoritas pemakai konsol, permainan via internet akan memberikan peng-alaman baru," kata David Cole, Presiden DFC Intelligence, perusahaan riset permainan. Namun, kata Cole, hasilnya belum bisa dinikmati sekarang. Bagi para pembuat game, dua tahun ke depan ini merupakan masa mendidik pasar. Dia menyebutnya fase percobaan, bagian terakhir dari pekerjaan riset dan pengembangan.

Bisnis permainan ketangkasan via internet diperkirakan juga kian seru. Schelley Olhava, analis industri permainan dari firma riset Internet Data Consultant, mengatakan bahwa bisnis permainan lewat internet sampai 2005 nanti mencapai US$1,8 miliar. Tapi porsi yang diambil oleh permainan konsol masih sangat kecil. Selebihnya didominasi oleh jenis layanan permainan komputer langganan lewat internet.

Ketimpangan itu, salah satunya, disebabkan oleh pola perilaku konsumen. Studi yang dilakukan oleh para perancang permainan dan peneliti independen menyimpulkan bahwa kebanyakan pengguna konsol permainan belum pernah mencoba bermain di internet melalui PC.

Para penyedia layanan permainan di internet pun masih ragu-ragu. Sony, misalnya, mengaku belum punya rencana akan menangguk keuntungan langsung dari layanan baru ini. Raksasa elektronik Jepang ini hanya berharap 500 ribu adaptor pindah tangan ke 30 juta pemilik PlayStation 2 di seluruh dunia hingga akhir tahun ini.

Karena itu, Olhava menyarankan agar semua pembuat permainan mengubah model bisnisnya. Hanya dengan mengutip biaya langganan, keuntungan dari permainan via internet dapat diperoleh. "Tantangan utama bisnis permainan konsol adalah bagaimana menggaet orang ikut bermain," kata Olhava, "Apa yang harus dilakukan adalah mendidik orang agar tahu bahwa permainan lewat internet itu berbeda dan akan menambah pengalaman."

Selain itu, dibutuhkan cukup waktu untuk memberikan pengertian kepada para penggemar game bahwa biaya yang mereka keluarkan itu sebanding dengan waktu yang sudah dihabiskan dan kesulitan yang harus mereka hadapi sewaktu masuk ke jaringan internet.

Wicaksono


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data