|
KEBAKARAN lahan gambut di Kalimantan sudah mencapai tingkat membahayakan. Menteri Negara Lingkungan Hidup Nabiel Makarim menyatakan, kebakaran yang menimbulkan asap pekat itu juga menjadi sasaran keluhan negara tetangga.
Nabiel menuding pola pembukaan ladang dan kebun yang dilakukan masyarakat, terutama para pendatang, menjadi penyebab bencana itu. Sebab, sistem kearifan tradisional peladang berpindah sudah ditinggalkan. Pemerintah daerah beberapa provinsi juga telah mengeluarkan larangan pembakaran lahan di musim kemarau ini.
Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Jusuf Kalla menyatakan, pemerintah pusat berupaya keras membantu, terutama melakukan pemantauan titik api yang sekarang sudah mencapai 4.000 lokasi, serta menyalurkan obat-obatan dan masker. Hanya, urusan pemadaman tetap harus mengandalkan peran aktif masyarakat. ”Pasukan pemadam tidak ada, pesawat pun sulit, ya, kita tunggu hujan sajalah,” kata Kalla, seperti putus asa.
Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Departemen Kehutanan, I Made Subadia, mengatakan bahwa sekitar 62,54 persen dari areal yang terbakar adalah kawasan nonkehutanan. Areal ini meliputi perkebunan, daerah transmigrasi, dan lahan milik rakyat. Sedangkan kebakaran di kawasan hutan mencapai 37,46 persen, di areal pemegang izin hak pengusahaan hutan, hutan tanaman industri, dan kawasan konservasi.
Wenseslaus Manggut dan Tjandra
|