Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 26/XXXI/26 Agustus - 01 September 2002
   
Laporan Utama

Menteri Agama Said Agil Husin Al Munawar:

Lebih dari 10 tahun nama Said Agil Husin Al Munawar terlukis di kanvas para intelektual Islam Indonesia. Lahir di Palembang, 26 Januari 1954, ayah enam orang anak dari perkawinannya dengan Fatimah Abu Assegaf ini meraih gelar doktor dari Fakultas Syariah Universitas Ummu Al-Qur'an, Mekah, Arab Saudi, pada tahun 1987. Selain dikenal sebagai guru besar di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, ia juga tercatat sebagai Direktur Program Pascasarjana perguruan tinggi Islam tersebut.

Said Agil juga pernah menjadi Khatib Aam Syuriah PB Nahdlatul Ulama, anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia, anggota Dewan Syariah Nasional, pengurus Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur'an (LPTQ), dan anggota Dewan Pertimbangan Badan Amil Zakat Nasional. Salah satu karyanya yang cukup terkemuka adalah buku Kepemimpinan Wanita dan Perspektif Islam; Pelaksanaan Arbitrase di Dunia Islam, Permasalahan Sosial Umat Islam Indonesia, dan buku terbarunya Agama Sebagai Payung Berteduh.

Pejabat karir Departemen Agama yang hafal 30 juz Al-Qur'an ini tentu saja memiliki corak pemikiran Nahdlatul Ulama. Ia memang sudah lama memiliki minat khusus dalam sejarah keraton purbakala Jawa. November tahun lalu, ketika Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga dan Keraton Yogyakarta sepakat menjalin kerja sama untuk menyalin dan menerjemahkan empat kitab sakral peninggalan raja-raja Yogya tempo dulu, Al Munawar hadir langsung menyaksikan peresmian kerja sama tersebut.

Meski demikian, namanya toh tetap tak pernah tersentuh wilayah mistik. Karena itu, peristiwa penggalian situs kuno Kerajaan Pajajaran di Batutulis, Bogor, yakni pencarian harta karun yang bisa dipakai untuk membayar utang negara, menjadi satu titik nila di dalam reputasinya sebagai intelektual. Apalagi penggalian itu bermula dari sebuah bisikan "ustad yang bisa saya percaya".

Berikut adalah penjelasan Menteri Agama Kabinet Gotong Royong ini yang dihimpun oleh wartawan TEMPO Arif A. Kuswardono dari beberapa kali pertemuan, di antaranya penjelasan Menteri Agama di depan sejumlah wartawan termasuk wartawan TEMPO, ditambah beberapa jawaban singkat dari wawancara wartawan Tomi Lebang sesudah itu. Berikut petikannya.


--------------------------------------------------------------------------------

Bagaimana sikap Anda atas bantahan Presiden Megawati bahwa ia sama sekali tidak pernah menyetujui penggalian situs Batutulis?

Masalah dengan Ibu Presiden sudah selesai, sudah clear. Memang sekilas saya pernah menginformasikan bahwa Ibu memberikan izin. (Padahal) sama sekali tidak. Ibu tidak pernah memberi izin kepada saya. Dan saya sudah mengklarifikasi dalam sidang kabinet pekan lalu. Masalahnya kembali pada saya…, ikhlas kepada Allah. Saya tidak memiliki keinginan apa-apa.

Apakah betul Anda mendapat bisikan dari paranormal bahwa ada harta di Batutulis?

Saya tidak percaya pada paranormal.

Bisa dijelaskan mengapa Anda melakukan penggalian di Batutulis?

Sebagai menteri yang punya keinginan baik, mungkin tidak semuanya sesuai dengan aturan. Saya sebagai menteri tidak memahami aturan-aturan itu. Dan kalau itu dianggap salah, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada masyarakat Indonesia, terutama kepada masyarakat Jawa Barat.

Apakah betul Anda memimpin penggalian?

Saya ada di situ. Nah, sebagai apa, saya sebagai menteri atau pribadi, itu kan tidak bisa dipisahkan. Saya hadir di situ dan sebelumnya sudah saya koordinasikan. Kalau kurang pas, saya minta maaf. Dan sekarang persoalannya sudah diambil alih oleh Menteri Pariwisata.

Saya tidak merusak sama sekali. Dan soal ini tidak ada kaitan dengan akidah, apalagi soal-soal yang musyrik.

Bisa dijelaskan harta apa yang Anda cari di situs Batutulis?

Jadi, di situ katanya ada sesuatu, kalau memang ada sesuatu. Saya tidak mengatakan di situ ada harta karun yang bisa untuk melunasi utang negara. Kalau ada sesuatu, pasti Allah akan memberikan jalan dengan berbagai cara.

Siapa yang memberi tahu Anda bahwa di situ ada harta?

Seorang ustad yang bisa saya percaya.

Siapa orangnya?

Adalah (orangnya)….

Apa yang ia informasikan kepada Anda?

Kalau saya bercerita, ini panjang lagi.

Lalu, apa tindakan Anda menghadapi rencana tuntutan class action sebagian masyarakat terhadap tindakan Anda?

Saya serahkan sepenuhnya kepada Allah.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data