Terantuk Harta Gaib Prabu Siliwangi Gara-gara bertindak sembrono, karir Menteri Said terancam lumat. Presiden Mega marah besar. Siapa sebenarnya yang membisiki penggalian harta mistik itu? |
Said Agil Husin Al Munawar tak biasanya berjalan tergopoh-gopoh. Ia memang harus bergegas karena diperintahkan menghadap Presiden Megawati di Istana Negara, Senin pekan lalu. Menteri Agama itu rupanya tak diundang sendirian. Ikut duduk di sampingnya Menteri Kebudayaan dan Pariwisata I Gde Ardika. Bicara soal penting, agaknya. Seminar kerukunan antarumat beragama? Menggagas festival kidung umat Hindu yang dirutinkan seperti Musabaqah Tilawatil Quran?
Ternyata bukan. Pembicaraan dengan Presiden menyangkut perkara yang lagi marak dan menyita perhatian publik. Dua menteri itu kebetulan punya kompetensi berimpit: penggalian "harta karun" di dekat situs Batutulis, Bogor, yang menjadi cagar budaya. Idenya berasal dari Menteri Said, yang sudah ia laksanakan secara diam-diam. Kebetulan letak situs itu di kawasan yang berseberangan dengan Istana Batutulis. Ini pesanggrahan bersejarah milik keluarga Soekarno, yang biasa dipakai Mega beristirahat seraya bernostalgia dan menikmati panorama Gunung Salak di kejauhan.
Penggalian tersebut memang mengundang polemik. Menteri kelahiran Palembang 48 tahun lalu itu bukan saja dihujat lantaran memimpikan benda pusaka yang tak masuk di akal sehat. Beberapa hari sebelumnya, kepada pers ia mengaku berniat menggali pusaka yang dia yakini tak ternilai harganya. Bentuknya? Tak jelas betul, tapi ada banyak versi. Ada yang menyebut berupa lantakan emas, yang lain bilang berupa seabrek perhiasan tinggalan Prabu Siliwangi. Tapi sampai kini Said enggan menyebut wujudnya seperti apa—karena sifatnya yang "gaib", jadi maaf saja, harus serba dirahasiakan.
Bukan soal ini yang jadi perkara. Apalagi niatnya luhur: harta temuan yang bernilai triliunan itu akan digunakan untuk menuntaskan utang Republik. Bisa menambal ekonomi negeri yang lagi morat-marit. Kalau ternyata isapan jempol, vonisnya tak begitu berat: paling-paling dia dianggap Menteri Agama yang hafidz, penghafal Quran, doktor ahli hadis, kok ya, percaya klenik. Angin surga, pepesan kosong, kok ya, diomong. "Dia menteri yang seharusnya menjaga tauhid, anehnya malah mengagungkan mistik dan paranormal," begitu kritik seorang menteri, tak habis pikir. Ia berpesan agar namanya disamarkan untuk urusan sensitif menyangkut koleganya ini.
Kesalahan lain menyangkut Istana. Ini jelas lebih fatal. Said dituding membawa-bawa nama Presiden untuk urusan yang kini jadi bahan tertawaan orang ini. Ia pernah mengaku sudah diizinkan Bu Mega untuk melaksanakan "megaproyek spiritual" ini. Padahal bos besar tak pernah memberi restu. Tegas-tegas menyatakan "oke laksanakan" juga tidak, apalagi sampai meneken keputusan presiden segala. Karena namanya dicatut, Presiden Mega marah besar dalam pertemuan yang berlangsung selama sejam itu. "Sepulang dari ruangan Presiden, Pak Said wajahnya muram, jauh dari biasanya yang murah senyum," kata menteri koleganya.
Said bukannya sama sekali tanpa bekal. Kisahnya bermula seusai sidang kabinet tiga pekan lalu. Sang Menteri Agama, yang profesor fikih dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Ciputat ini, mendekati Presiden Megawati yang tengah berjalan keluar dari ruangan rapat di Sekretariat Negara. Sambil berjalan, ia berbisik ke telinga Presiden. "Mbak, ada amanat dari Ustad ...." Ia menyebut satu nama tapi tak jelas terdengar. Ia juga menyinggung ihwal harta karun di bawah Prasasti Batutulis, Bogor. "Amanatnya apa juga belum tersampaikan dengan jelas," kata Pramono Anung, Wakil Sekjen PDI Perjuangan.
Mega, konon, sama sekali tidak menanggapi. Tapi rupanya, sesuai dengan keyakinan agamanya, ndilalah, Said Agil menganggap diamnya seorang wanita adalah isyarat setuju. "Begitu juga diamnya Mega di mata Said Agil saat itu," kata sumber TEMPO di kabinet.
Karena itulah, ia berketetapan hati untuk membawa paranormal dan tukang gali tanah ke Batutulis di Bogor. Ini jelas langkah blunder, apalagi sikap bos besar ternyata sebaliknya. "Mbak Mega bilang secara sekilas bahwa itu tidak betul. Beliau tak pernah memerintahkan secara langsung maupun tak langsung," kata Pramono, yang khusus diberi tugas mengklarifikasi sikap ketua umum partainya itu.
Tolakan si bos rupanya belum sampai ke telinga Said. Apalagi penggalian telanjur dijadwalkan—yang ditentukan secara mistis. Sabtu tiga pekan lalu, pagi hari, tiba-tiba Menteri Said datang ke Kantor Kelurahan Batutulis. Aparat kelabakan, apalagi Pak Lurah Taspin terlambat masuk kantor. Pejabat setempat juga dikontak. Mereka mendampingi sang Menteri ke lokasi yang dimaksud, persis di depan Istana Batutulis Hing Puri Bima Sakti. "Katanya hendak melakukan renovasi situs," ujar seorang pamong desa.
Said datang dengan kendaraan dinas sedan Volvo bernomor B 31. Di belakangnya turut sebuah mobil Kijang Grand dengan pelat E (Cirebon) berpenumpang empat orang. " Mereka inilah yang kelihatan agresif dan aktif, lebih dari Pak Menteri," kata sumber TEMPO. Empat orang ini—kabarnya paranormal—mengaku asal Indramayu tapi tinggal di Jakarta. Salah seorang yang ditokohkan bernama Syaipudin, dipanggil Kang Udin. Usia keempat orang ini sebaya, sekitar 40 tahun.
Mereka bertemu dengan juru kunci situs, Maemunah. "Situs Batutulis akan direhab," kata Lurah Taspin kepada Maemunah. Saat itu perempuan berumur 62 tahun ini menyarankan agar minta izin lebih dulu ke Dinas Purbakala—sebagai pemilik situs. " Tidak usah," kata Taspin. Penggalian baru dilakukan pada Rabu pekan berikutnya. Said datang terlambat sejam dari rencana penggalian pada waktu duha saat itu. Delapan tukang gali upahan sudah disiapkan. "Dia banyak diamnya," kata seorang pamong tentang Pak Menteri.
Pagar luar ditutup dengan tripleks. Maksudnya agar tak mencolok mata. Kang Udin sibuk memberi perintah untuk menggali sepanjang sisi yang sejajar dengan dua menhir tempat tambatan kuda sedalam satu meter lebih. Setelah tergali sedalam dua meter dan tak ditemukan apa-apa, penggalian kemudian dilanjutkan dengan membuat terowongan melintang di bawah menhir. Hasilnya tetap nihil. Penggalian dihentikan setelah magrib. Said, yang ketika mengawasi sering minum air aqua gelas, keburu pulang. Namun para pekerja masih terus membereskan lokasi sampai dini hari.
Rencananya penggalian akan diteruskan Sabtu pekan itu, tapi batal karena keburu diramaikan media. Kenapa hartanya tak ketemu? Kenapa "ekspedisi situs gaib" ini gagal? Sayang seribu sayang, seperti pernah disampaikan Said, jangan kaget dengan dalih ini: ada empat di antara para penggali itu yang hatinya tidak ikhlas. Mereka bicara tentang pembagian rezeki kalau pusaka ditemukan, sehingga harta karun berupa emas itu menghilang begitu digali. Padahal, "Dalam lubang terowongan banyak kembang aneka rupa," kata Eka Prajanti, warga setempat yang sempat mengintip galian.
Kompleks Prasasti Batutulis itu seluas 17x15 meter. Terletak di Desa Batutulis, Kecamatan Bogor Selatan, lebih kurang 2 kilometer dari pusat Kota Bogor. Kalau lancar, bisa ditempuh satu jam perjalanan dari Jakarta. Batu prasasti dan benda-benda lain peninggalan Kerajaan Pajajaran terdapat dalam kompleks ini. Pada batu ini berukir kalimat dengan huruf Sunda Kawi, yang konon diukir oleh Prabu Surawisesa pada tahun 1533 Masehi. Maksudnya untuk memperingati jasa ayahandanya, Sri Baduga Maharaja (memerintah 1482-1521) atau yang lebih dikenal dengan nama Prabu Siliwangi yang sakti.
Sejatinya, kejadian seperti ini bukanlah yang pertama. Pada zaman Soeharto sampai Abdurrahman Wahid tempo hari, pernah beredar cerita soal timbunan duit di luar negeri yang sering disebut sebagai Dana Revolusi. Kiprah Said Agil kali ini memang di luar kebiasaan. Pasalnya, ayah enam anak ini sebelumnya dikenal jauh dari hal mistik apalagi klenik. Namanya sebagai intelektual cukup semerbak. Mantan qari nasional yang suaranya bagus ini getol mempromosikan Islam yang inklusif, rasional, dan toleran. La kok, tiba-tiba nyleneh? Ada apa dengan Said?
Ternyata penggalian ini merupakan obsesinya yang dipendam selama 13 tahun. Saat itu dia bertemu dengan sese-orang yang mengabarkan bahwa sebongkah harta berharga tersimpan di Prasasti Batutulis. Kabar itu disampaikan kepada Said Agil karena dia dianggap orang yang jujur dan bisa mengemban amanat. Tentu Said tak mau percaya begitu saja. Ia melakukan kontak dengan kiai-kiai ahli mukasyafah (yang mampu menyingkap tabir atau misteri) di Banten. Sumber lain menyebut kontaknya dengan Pesantren Buntet, Cirebon. "Tak betul itu, Buntet tak ada kaitan dengan mistik beginian," kata Ustad Wawan, juru bicara Buntet. Toh, hasil teropong para kiai, kata Said, harta itu memang ada.
Nah, kebeneran dong. Pelan tapi pasti, ia getol melobi Megawati. "Ibu Mega menyuruh saya untuk menindaklanjuti," katanya kala itu. Merasa sudah mendapatkan lampu hijau, Said Agil pun langsung bergerak. Namun, menurut sumber di Istana, hal itulah yang membuat Mega sewot. Presiden langsung pasang aksi menjauh. Selasa pekan lalu, seusai melakukan rapat di Lenteng Agung, melalui Wakil Sekjen PDIP, Pramono Anung, dia membantah pengakuan Said Agil. Menurut Anung, mengutip Mega, kalaupun dirinya mengetahui ada harta karun di sana, pasti akan memburu sendiri dan tidak akan menyuruh orang lain. Mega memang sempat melihat penggalian itu, Ahad lalu. "Beliau cuma ingin membuktikan," kata Pramono.
Sejak itulah, mulut Said Agil langsung mengatup. Tak ada lagi koar-koar tentang beking dari sang bos. Ia lebih memilih diam seribu bahasa. Ia memohon beribu ampun atas tindakannya itu. Seorang tokoh di Nahdlatul Ulama (NU) yang mengenal Said secara dekat mengaku sulit mempercayai jika sang Menteri berani bertindak gegabah dalam penggalian situs tanpa ada lampu hijau dari bosnya. "Said Agil itu orangnya lugu, dia tidak akan berani bertindak sejauh itu bila tak ada izin atasannya," kata seorang pengurus NU ini. Pula, "Said masih hijau dalam ilmu gaib beginian."
Said Agil memang apes. Perburuan yang dilakukannya sama sekali tak beroleh hasil. Malah, yang terjadi ia diguyur amarah. Salah satunya dari karuhun atau leluhur orang Sunda. Boleh percaya atau tidak. Menurut Maemunah, kuncen tempat keramat ini, beberapa hari setelah penggalian itu tiba-tiba angin bertiup kencang di Kota Hujan itu. "Itu sama dengan ketika Istana Bogor dipakai pesta," katanya. Menurut perempuan yang menjadi kuncen sejak tahun 1990 ini, bila Kota Bogor diusik, biasanya muncul kejadian yang sulit dipahami logika.
Bukan hanya angin yang pasang aksi. Sejumlah forum yang mengatasnamakan masyarakat Sunda mengutuk perbuatan sang Menteri. Mereka juga menuntut agar Said dipecat. Orang-orang yang terlibat diusut dan dihukum. Berbagai elemen masyarakat Sunda mengadakan rapat akbar di Kebun Raya Bogor, Sabtu pekan lalu. Menurut Endang Kosasih—budayawan Sunda yang juga Ketua DPRD Kabupaten Bogor—tindakan Said Agil tidak bisa ditolerir. "Apa pun motivasinya, tindakan ini salah secara hukum karena melanggar UU No. 5/92 tentang Cagar Budaya. Secara budaya juga salah, karena menyakiti masyarakat Sunda. "Masyarakat Sunda dan Bogor akan mengajukan class action," katanya.
Bagi masyarakat Sunda, Prasasti Batutulis merupakan salah satu tempat yang sangat dihormati. Di sinilah, salah satunya, mereka bisa berinteraksi dengan bubuyut (leluhur) mereka. Selain itu, pihak kepolisian menyatakan proses hukum buat sang Menteri belumlah menjadi salah satu agendanya. Menurut Kepala Kepolisian Resor Kota Bogor, Ajun Komisaris Besar Polisi Setyo Wasisto, pihaknya masih memeriksa para saksi. "Kita belum menentukan siapa tersangkanya," katanya. Polisi butuh saksi ahli arkeolog untuk menentukan benar tidaknya telah terjadi perusakan situs.
Kini pintu ke situs sudah digrendel dan dipasangi garis kuning polisi. Ketika TEMPO melongok ke dalam lokasi, bekas galian memang sudah tertutup. Namun sekumpulan papan dan kayu usuk serta tripleks tampak berserakan. Juga keranjang tempat kembang, lampu teplok, dan sapu lidi. Bekas gelas aqua plastik bertebaran. Menurut tokoh di sana, memang ada cerita turun-temurun tentang harta karun di lokasi Batutulis. "Tapi yang bisa melihat hanya orang yang benar-benar bersih," tuturnya. Harta gaib itu berupa baju kebesaran, mahkota, tombak, dan keris. Anda penasaran?
WM, Irfan Budiman, Arif A. Kuswardono, Tomi Lebang, Tjandra
--------------------------------------------------------------------------------
Tentang Kompleks Batutulis
Lokasi Prasasti Batutulis terletak 2 kilometer di bagian selatan Kota Bogor, persis di depan Istana Batutulis, Bogor, milik keluarga Sukarno.
Di kompleks Batutulis terdapat 15 jenis batu terasit, yakni batu yang terdapat di sepanjang aliran sungai Cisadane:
Enam buah batu di dalam cungkup. Prasasti ini dibuat untuk melakukan upacara penobatan raja-raja Pajajaran di bawah kekuasaan Prabu Siliwangi.
Keterangan: Prasasti Batutulis merupakan peninggalan Kerajaan Pajajaran. Isi prasasti ini tentang kehebatan Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi.
Sebuah batu di luar teras cungkup.
Dua buah batu dan enam buah di serambi dan halamannya.
Dari berbagai sumber
|