Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 26/XXXI/26 Agustus - 01 September 2002
   
Kolom

Situs, Klenik, dan Kekuasaan

Moeslim Abdurrahman
Pakar studi Islam

BERITA Menteri Agama menggali situs tentunya sangat mengejutkan jika dilihat dari dua alasan. Pertama, yang melakukan seorang menteri di bidang agama (dakwah) yang dianggap punya latar belakang kuat dalam perkembangan pemikiran dan penghayatan Islam. Orang hampir tak percaya: apa iya seorang guru besar Universitas Islam Negeri Ciputat masih percaya klenik?

Kedua, seandainya Menteri Munawar memiliki tanggung jawab tinggi untuk membebaskan utang rakyat melalui keyakinan kleniknya itu, seharusnya ia tidak bisa dong kemudian enak saja datang ke situs dan melakukan penggalian. Sebab, ia bukan orang awam. Ia seorang menteri. Seorang dengan maqam jabatan seperti itu tentu tahu persis prosedur dan kapasitasnya.

Setahu saya, hanya pencuri barang-barang purbakala sajalah yang berani melakukan penggalian situs tanpa prosedur dan pengetahuan arkeologi. Di mana-mana, situs sebagai lokus warisan peradaban hanya digali dengan alasan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan (arkeologi).Tidak ada alasan resmi yang lain. Di Amerika, misalnya, siapa saja yang membangun jalan baru atau mendirikan bangunan di areal baru harus punya rekomendasi dari otoritas lembaga arkeologi, agar tidak sampai merusak situs sejarah.

Dalam pengamatan budaya, biasanya orang yang masih percaya dengan keangkeran situs, kesaktian keris, atau kehebatan benda-benda magis disebut sebagai penganut "agama rakyat" atau "Islam populer". Pengikutnya terdapat di kalangan masyarakat agraris, yang memang kehidupannya masih dekat dengan alam sekitarnya. Karenanya, benda-benda magis itu merupakan bagian tak terpisahkan dari kesatuan kosmologisnya. Bahkan, benda-benda magis biasanya dijadikan sumber legitimasi bagi para pemimpin agraris untuk mempertahankan kekuasaannya.

Seorang lurah atau kepala dukuh yang terpilih dianggap terpilih bukan karena populer di kalangan rakyatnya, tapi rakyat memilih dirinya karena kekuatan benda-benda magis tersebut. Begitu juga seorang lurah dongkol (mantan) yang mengaku kalah pilihan lagi gara gara pulung atau wangsitnya dianggap telah hilang. Jadi, kepercayaan populer semacam ini tentu saja sangat populis sehingga susah menjelaskan kaitannya dengan perspektif demokrasi dewasa ini: adakah peran benda-benda sakti dan representasi rakyat dalam kehidupan tatanan negara modern? Alur dan logika berpikirnya memang berbeda. Yang satu magis, dan satunya lagi rasional.

Menguatnya kepercayaan magis itu memang biasanya menjadi aktual, terutama dalam sejarah Jawa atau Melayu. Biasanya terjadi kalau suatu kekuasaan sedang dilanda krisis. Dalam teori tentang "magis" itu sendiri, yang biasanya disebut sebagai pseudo-rational, mulanya karena suku-suku primitif—asal mula teori ini dibangun—percaya hal itu disebabkan oleh tantangan kehidupan yang baru sama sekali, yang secara mitos belum ada penjelasannya.

Contohnya, tatkala mereka mencari ikan dari danau yang biasa mereka kenal, tiba-tiba harus pindah mencari ikan di laut. Luas dan kedalaman serta ombak laut yang ganas itu menjadi begitu menakutkan sehingga mereka mencari kekuatan magis baru untuk mengatasinya. Sudah tentu, pengalaman suku primitif dengan ketakutannya yang seperti itu tidak bisa dibandingkan begitu saja dengan ketakutan Menteri Agama dalam menghadapi beban utang rakyat. Namun, hal ini bisa menjelaskan bahwa rasa ketakutan dan kaitannya dengan pencarian kekuatan magis memang merupakan sesuatu yang—secara kultural—tak terpisahkan dengan peradaban masyarakat primitif.

Diihat dari kebiasaan "populer Islam", penggalian situs ini menarik karena cara-cara pendekatan arkeologis mulai dimanfaatkan. Tetap dilakukan penggalian, meski prosedurnya tidak persis sama seperti yang dilakukan para arkeolog yang teliti memperhatikan lapisan-lapisan tanah—sebagai bagian penting menghasilkan temuan sejarah. Maksud saya, dalam tradisi "populer Islam" selama ini, benda-benda sakti itu bisa diperoleh bukan karena digali atau diambil secara fisik, melainkah melalui wasilah, yaitu perantara supranatural: dengan melakukan tirakat sendiri atau atas jasa barakah-nya orang-orang suci (para waliyullah).

Kasus mimpi yang menjadi dasar Menteri Agama ini sangat lain. Sebab, keris sakti itu—yang katanya terkubur dalam situs Pajajaran—bisa diperoleh dengan cara biasa, seperti layaknya seorang pencari harta karun yang menyelam di dasar laut atau membongkar sumur dalam gua di hutan tertentu. Ini menunjukkan bahwa sebenarnya ada perkembangan baru dalam khazanah dan kehidupan mistik kita, terutama tatkala gaya hidup para penguasa telah terbiasa menjadi ahl al-buthun kapitalisme, yang konsumtif, yang rakus—sehingga enggan bertirakat atau nglakoni sendiri untuk mendapatkan kekuatan supranatural itu.

Di sisi lain mereka belum bisa lepas dari pikiran tradisional, yakni pentingnya mencari legitimasi kekuatan magis untuk mendukung kekuatan politik mereka. Dalam kata lain, budaya transisi kita menunjukkan bahwa biarpun para politisi dan penguasa negeri baru saja selesai berdebat tentang pentingnya membuat konstitusi yang lebih modern, tidak bisa ditutupi bahwa sebenarnya budaya kekuasaan (baca: budaya istana) kita sejak dulu sampai kini, dalam beberapa kali ganti kekuasaan, masih saja diwarnai mistik dan kesadaran magis-agraris.

Sungguh ironis. Tatkala kita telah mengegolkan pemilihan presiden secara langsung agar lebih memenuhi aspirasi rakyat secara demokratis, elite kekuasaan kita (sekurang-kurangnya dalam hal ini Menteri Agama) malah berpikir lain: bahwa dengan barakah situs, kita bisa melunasi utang rakyat tanpa tirakat sosial dan kerja keras.



 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data