Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 23/XXXI/05 - 11 Agustus 2002
   
Kolom

Skandal Saham dan Resesi Dunia

Goei Siauw Hong
Pengamat investasi dan keuangan

PASAR saham Amerika Serikat terguncang. Berbagai temuan skandal laporan keuangan, dari Enron, Global Crossing, Tyco, Worldcom, hingga Merck, telah menampar negara itu. Begitu besarnya dampak lunturnya kepercayaan investor internasional kepada pasar saham di Negara Abang Sam itu hingga seluruh dunia ikut kecipratan malapetaka ini. Bukan hanya indeks-indeks harga saham di AS yang rontok, tapi juga indeks-indeks harga saham di Eropa dan Asia.

Jatuhnya kepercayaan investor kepada manajemen perusahaan di AS merupakan fenomena yang patut dicermati. Sebelum ini, manajemen di Amerika selalu mendapat acungan jempol karena dianggap paling responsif dalam memuaskan keinginan pemegang sahamnya dan paling etis dalam berbisnis. Ini tecermin dari tingginya penilaian (valuation) yang diberikan oleh investor kepada saham-saham di AS.

Sebagai contoh, saham-saham yang tergabung dalam indeks S&P 500 diperdagangkan dengan perkiraan price earning ratio (PER atau rasio harga saham/laba per saham)—suatu indikator yang banyak digunakan untuk melihat mahal-tidaknya harga saham—17 kali. Bandingkan dengan PER historis, yang hanya 14-15 kali. PER yang tinggi dari saham-saham di Amerika merefleksikan kepercayaan investor yang berlebihan terhadap prospek pertumbuhan ekonomi di AS dan kualitas laba perusahaan di negara tersebut.

Kenyataannya, kualitas laba perusahaan di sana tidaklah setinggi yang diperkirakan. Banyaknya laba perusahaan yang bersifat semu menyebabkan investor akan melakukan penyesuaian laba ke bawah. Ini berarti pasar yang sudah mahal menjadi semakin mahal karena komponen E dari PER semakin rendah. Hal ini diperburuk dengan kenyataan bahwa pertumbuhan ekonomi Amerika tidak semengkilat yang diharapkan. Sektor pembelanjaan dari perusahaan masih belum bisa menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi AS.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: kapan konsumen di AS—yang terus-menerus merogoh kantongnya untuk berbelanja—mengurangi aktivitas belanjanya? Pengurangan aktivitas belanja ini bisa terjadi karena orang merasa menjadi miskin (wealth effect) setelah nilai saham terus-menerus menurun. Itu tecermin dari anjloknya indeks kepercayaan konsumen belakangan ini. Belum lagi potensi pecahnya bubble yang lain, yaitu dalam sektor perumahan, karena rendahnya suku bunga.

Mengapa aktivitas belanja orang Amerika ini penting bagi warga dunia? Dengan menurunnya konsumsi, AS akan masuk ke resesi kembali (double dip recession), mengingat konsumsi memakan porsi lebih dari dua pertiga ekonomi AS. Bila ini terjadi, ekonomi dunia yang menggantungkan diri pada ekspor ke Amerika akan mengalami kemunduran lagi.

Masalahnya, AS adalah satu-satunya mesin pertumbuhan (engine of growth) dalam perekonomian dunia. Eropa tidak memiliki pertumbuhan yang tinggi, meskipun ekonominya relatif lebih sehat dibandingkan dengan Amerika. Sedangkan Jepang belum bisa keluar dari lingkaran setan setelah pecahnya bubble saham dan properti di awal 1990-an. Mungkin hanya Cina yang ekonominya relatif tumbuh cepat saat ini, tapi ukuran ekonomi Cina belum terlalu besar untuk menggantikan peran AS sebagai mesin pertumbuhan ekonomi dunia.

Masa sulit seperti yang terjadi pada tahun 2001 itu hendaknya sudah mulai diperhitungkan oleh para pebisnis dan pembuat kebijakan di Indonesia. Kali ini ada kemungkinan kondisinya lebih parah. Alan Greenspan, chairman bank sentral Amerika, sudah tidak memiliki banyak peluru untuk menurunkan suku bunga, mengingat sudah begitu rendahnya suku bunga tersebut. Apalagi dolar AS cenderung melemah.

Bila sektor konsumsi di AS mengalami kontraksi, dampaknya akan terasa di Indonesia, terutama untuk sektor ekspor. Pada tahun 2001, Indonesia relatif tidak terimbas oleh dampak resesi di Amerika karena ekspor Indonesia lebih banyak terfokus di bidang nonteknologi, sedangkan resesi AS saat itu lebih banyak menyentuh sektor teknologi. Kali ini Indonesia tak bisa berkelit dan pasti akan terkena dampaknya, mengingat kebanyakan ekspor Indonesia adalah produk konsumsi (ataupun bahan mentah yang akhirnya dikonsumsi).

Sebelum hal itu benar-benar terjadi, mulai sekarang perlu dipikirkan usaha-usaha untuk mendiversifikasikan ekspor yang dilakukan ke AS. Eropa memiliki ekonomi yang lebih seimbang dibandingkan dengan Amerika, yang masih penuh dengan bubble. Satu lagi negara yang harus dilirik untuk menjadi target ekspor, terutama untuk komoditi, adalah Cina. Saat ini agaknya hanya negara itulah yang menggondol predikat sebagai negara ekonomi besar dunia yang tumbuh cukup pesat.



 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data