|
ARIE Hanggara. Bocah 7 tahun ini tewas dianiaya orang tuanya sendiri. Peristiwa pada akhir November 1984 itu tiba-tiba menyentakkan perhatian publik. Media massa menuliskannya panjang-lebar. Sidang pengadilannya membeludak. Orang ingin tahu seperti apa sosok kedua orang tua Ari: Machtino bin Eddiwan dan Santi binti Cece. Bahkan rekonstruksi yang harus dilakukan suami-istri itu nyaris gagal karena massa melampiaskan kemarahan kepada kedua pesakitan.
Arie tiba-tiba menjadi simbol dari anak-anak yang tertindas. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nugroho Notosusanto sempat membuatkan patung Arie--meski akhirnya dibatalkan--sebagai peringatan agar kasus serupa tak terulang di masa mendatang. Sebuah penelitian mencatat bahwa sumber bencana bagi para bocah justru ada di rumah dan sekolah--sebuah ironi yang menggiriskan.
Kini, 17 tahun lebih sesudah wafatnya Arie, kekerasan terhadap anak tak juga menyurut. Eksploitasi anak masih berlangsung dengan leluasa di mana-mana--seperti yang dilaporkan TEMPO pekan ini. Nasib buruh anak Indonesia, misalnya, ibarat sebuah ilustrasi buram di tengah riuhnya perayaan Hari Anak Nasional pada 23 Juli lalu.
|