Korps 'Pembelok Takdir' Bayangkan dunia tidak ada kejahatan. Itu disajikan Steven Spielberg dan Tom Cruise dalam Minority Report. Sebuah film yang memiliki muatan teologi.
|
Minority Report
Sutradara : Steven Spielberg
Pemain : Tom Cruise, Colin Farrell, Samantha Morton
Produksi : Twentieth Century Fox dan Dreamworks Pictures
"Polisi kini mirip pendeta. Ia mampu mengubah takdir seseorang" (seorang anggota kepolisian Washington, DC).
WASHINGTON, DC, 2054. Mobil-mobil tidak hanya meluncur di jalan. Di jalur transportasi magnetis, sopir-sopir dapat ngebut vertikal naik-turun permukaan pencakar langit. Papan-papan iklan di mal, bersifat interaktif, mampu menyapa orang yang lalu-lalang. Koran telah berbentuk hologram. Bila Anda ingin membayar di restoran, tak usah lagi memakai ATM atau kartu kredit. Papan pembayaran mencatat nomor rekening cukup dengan menatap retina mata Anda.
Percakapan di atas terucap di ruang prakriminal Washington, DC, pimpinan John Anderton (Tom Cruise). Di era yang canggih itu, polisi Washington mencatat reputasi besar. Selama 6 tahun, Washington bersih dari kriminalitas. Inilah imajinasi terbaru Spielberg yang diangkat dari novel Philip K. Dick, pengarang yang mengilhami filmBlade Runner dan Total Recall. Kepolisian Washington menemukan sistem yang mampu mencegah kejahatan sebelum kejahatan itu dilakukan.
Bak Teresias, orakel ternama yang mampu meramalkan tragedi dalam kisah Oedipus (Yunani kuno), sistem ini mengandalkan daya penglihatan peramal. Korps ini memiliki tiga juru nujum. Tubuh mereka sedemikian rupa diikat, dibekukan, diapungkan di sebuah kolam nutrisi, hingga hanya otaknya yang dipompa membaca kejahatan apa yang akan terjadi di masa depan. Kilatan-kilatan pikiran ini ditransmisikan kabel ke layar virtual. Dari situ dapat dianalisis di mana pembunuhan bakal terjadi dan bagaimana mencegahnya.
Karena terbukti membuat masyarakat aman, diusulkan oleh kongres agar sistem ini dinasionalkan. FBI mengirim agennya, Danny Witwer (Colin Farrell), untuk meneliti apakah sistem ini betul-betul sempurna. Menurut hipotesis FBI, karena para peramal itu manusia belaka, faktor kesalahan pasti ada. Tapi Spielberg mengecoh penonton yang menduga bahwa inti film ini adalah perseteruan antara Witwer dan Anderton. Plot film berlapis.
Tiba-tiba film memperlihatkan adegan tangan Agatha (Samantha Morton), seorang peramal, muncul dari air merengkuh Anderton. "Lihat itu," katanya merintih sembari menuding layar yang menampilkan sosok wanita tua dibenamkan di air. Anderton tak paham. Hari berikutnya, layar menampilkan Anderton sendiri membunuh seorang laki-laki. Anderton bimbang. Ia lari. Akibatnya, dari pemburu penjahat, ia menjadi buron departemennya sendiri. Ia lolos dari kejaran. Bertemu dengan "calon korbannya", mulanya ia tak berniat menghabisi nyawa si korban. Tapi ternyata dia penculik anak Anderton yang hilang 6 tahun lalu. Pelor pun meletup.
Yang rumit itu ternyata bagian dari rekayasa yang diadakan Lamar Burgess (Max von Sydow), direktur pencetus sistem prakriminal, bos Anderton sendiri. Di sinilah letak kompleksitas skenario. Burgess tak ingin wanita tenggelam yang ada di pikiran Agatha diselidiki Anderton. Sebab, ternyata dia adalah ibu Agatha yang dibunuh Burgess karena menolak anaknya dijadikan eksperimen awal proyek ini. Yang tak diperhitungkan Burgess, memori masa lalu itu tetap mengendap di sela-sela terawang pikir Agatha. Itulah "minority report".
Lepas dari plot yang memutar, tak syak film ini mampu membawa kita berandai-andai secara teologis. Beratus-ratus tahun sejak abad pertengahan, di kalangan agamawan Katolik timbul persoalan Theodice: problematika Tuhan dan kejahatan. Intinya: bila Tuhan ada, mengapa membiarkan pembantaian di mana-mana tetap terjadi? Apakah perbuatan manusia membunuh itu telah ditakdirkan Tuhan atau atas inisiatifnya sendiri? Dalam ilmu kalam Islam, problematika itu masuk ke perdebatan Jabariyah dan Qadariyah (free will melawan determinisme).
Sebuah survei beberapa tahun lalu melaporkan ateisme meningkat di Eropa lantaran Tuhan yang berpangku tangan itu. Kita membayangkan, bila ternyata ada sistem yang dapat menghapuskan kejahatan seperti dalam imajinasi Spielberg, bereslah perdebatan Theodice. "Sistem ini membuktikan bahwa Tuhan itu ada," kata Anderton.
Dan keyakinan "religius" seperti itu terjadi di Amerika pada tahun 2054 (untuk membayangkan suasana tahun itu, Spielberg mengundang 23 futuris Amerika: dari arsitek, teolog, sampai perencana tata kota, untuk berdiskusi selama tiga hari), tanpa bantuan cyborg—manusia setengah mesin—atau campur tangan UFO. Ini sebuah Amerika yang berbeda dengan Amerika tahun 2051 dalam imajinasi Spielberg sebelumnya dalam Artificial Intelligence. Mungkin lantaran faktor saintifik-spiritual itu, Cruise, yang di Amerika dikenal sebagai pengikut fanatik Church of Scientology—sekte gereja yang didirikan oleh novelis science fiction L. Ron Hubbard dan bertujuan mengembangkan penyembuhan tubuh dan jiwa yang gelisah dengan metode-metode ilmiah sendiri—dapat bermain meyakinkan.
Seno Joko Suyono
|