|
Golkar menang lagi. Dalam Pemilu 1977, Golkar menguasai 62,14 persen suara. Ini kemenangan gemilang meski peng-urusnya masih mengeluh karena, dibandingkan dengan saat Pemilu 1971, partai itu mengalami penurunan hingga 0,66 persen. ”Ini kemenangan yang berat. Meraih kemenangan lebih mudah dari mempertahankannya,” kata Amir Murtono, Ketua Golkar kala itu.
Dengan fasilitas berlebih, keluhan Amir hampir sekadar basa-basi. ”Dengan dukungan materi dan pejabat daerah, mestinya Golkar menang 100 persen,” kata Chris Siner Key Timu, aktivis PDI. Dua partai lain yang gurem, PPP dan PDI, sebetulnya tak berkutik menghadapi Beringin. Di Jakarta dan Aceh, PPP memang menang. Tapi itu semata-mata karena sentimen Islam PPP yang belum bisa diambil Golkar.
Golkar adalah mesin politik Orde Baru. Partai itu tak cuma mengalahkan partai lain, tapi juga membuat banyak orang tak berkutik. Bahkan, dalam pemilu pertama di era reformasi, Golkar tetap unggul sebagai runner-up.
Kini orang bergidik akan bahaya Golkar. Aktivis partai ini masuk ke PDIP dan partai-partai lain. Tanpa sadar, ia merembes ke mana-mana. Seperti dulu.
|