Nita di Lokasi Tersiksa Kondisi kebun binatang Indonesia ternyata terburuk di dunia. Satwa kurang makan dan minum, bahkan menderita stres.
|
NITA tampaknya sudah sejajar dengan artis cilik. Setiap Minggu, dia melakukan jumpa fans sambil berfoto bersama. Kendati baru berusia tiga tahun, penampilan Nita rada genit. Dia tak segan-segan melayani aneka pose berfoto. Untuk bisa berfoto bersama Nita, para pengagumnya mesti merogoh kocek. Tak besar, sih, hanya Rp 5.000 sekali potret.
Namun seusai acara bergengsi itu, siapa sangka kalau Nita harus selalu dalam jeruji besi. Bahkan, bila tidur pun, orang utan asal Kalimantan itu mesti sambil duduk. Soalnya, kamar Nita di Kebun Binatang Gembiraloka, Yogyakarta, cuma seukuran 2 kali 2 meter. Lebih sedih lagi, menu makan Nita sehari-hari hanya roti tawar afkiran yang sudah berjamur.
Berbeda dengan Nita, nasib Ludo sedikit lebih beruntung. Pekan lalu, misalnya, gajah asal Way Kambas, Lampung, itu menikmati menu istimewa. Rupanya, ada pengunjung Kebun Binatang Gembiraloka yang merasa nadarnya terkabul. Ia lantas membawa sesaji beberapa tandan pisang dan kelapa. Alhasil, Ludo bisa berpesta.
Toh, itu hanya sesaat. Menjelang kebun binatang tutup, kaki Ludo kembali dirantai. Jadinya ia hanya bisa bergerak paling jauh semeter. Tak mengherankan bila kemudian Ludo selalu tampak stres dan sering menggeleng-gelengkan kepalanya seperti orang triping.
Ternyata, masih banyak Nita dan Ludo lain di kebun binatang Indonesia yang bernasib sama. Bahkan Selasa dua pekan lalu, sebuah organisasi dunia yang peduli pada nasib satwa, World Society for the Protection of Animals, menyatakan bahwa kebun binatang Indonesia lebih menjadi tempat penyiksaan binatang ketimbang sebagai lokasi perlindungan satwa. "Saat ini kondisi kebun binatang Indonesia terburuk di dunia," kata Rob Laidlaw dari lembaga dunia tersebut.
Bisa jadi kesimpulan itu memerahkan wajah Indonesia di mata internasional. Namun kesimpulan itu bukannya tanpa dasar. Tahun lalu, World Society for the Protection of Animals bersama mitra kerjanya di sini, Konsevasi Satwa Bagi Kehidupan, menginvestigasi sepuluh kebun binatang di Indonesia sebagai sampel selama lima bulan. Sepuluh kebun binatang itu dipilih?tak termasuk Taman Safari Indonesia di Cisarua, Jawa Barat?karena paling besar menyedot pengunjung. Jumlah satwanya juga diduga paling banyak.
Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa 99 persen hewan dikurung tanpa mendapat akses kebutuhan biologis. Demikian pula sarana untuk mengekspresikan perilaku secara normal sebagaimana kehidupan satwa di alam bebas. Selain itu, 82 persen kandang hewan di kebun binatang sampel ternyata terlalu sempit. Bahkan separuh satwa tak punya akses untuk memperoleh air (lihat pula Rapor Sepuluh Kebun Binatang).
Akibatnya, satwa mengalami stres sehingga terjadi penyimpangan perilaku. Umpamanya, berjalan maju-mundur, menggeleng-gelengkan kepala, melompat-lompat tak keruan, sampai-sampai meludahi orang yang lewat di depan kandangnya.
Dari sepuluh kebun binatang yang diteliti, menurut Direktur Konservasi Satwa Bagi Kehidupan, Rosek Nursahid, hampir semua pengelolaannya tak becus. Kebun-kebun binatang itu, tambah Rosek, telah mengabaikan fungsinya sebagai lembaga konservasi satwa di luar habitat aslinya, sarana pendidikan, dan sarana rekreasi yang sehat. Padahal, ketiga fungsi itu sudah diatur lewat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 479 Tahun 1998.
Rosek juga mengingatkan bahwa saat ini sekitar 95 persen orang utan di kebun binatang menderita hepatitis B dan TBC. Karena itu, pengunjung kebun binatang harus ekstrahati-hati mendekati kandang orang utan di kebun binatang.
Sekalipun demikian, dari sepuluh kebun binatang sampel, hanya Taman Wisata Perancak di Jembrana, Bali, yang direkomendasi agara segera ditutup oleh pemerintah. Sebab, kondisinya paling tak bisa lagi diperbaiki. Kandang satwanya sempit dan rusak. Lingkungannya pun tak memadai, karena banyak dikelilingi tumbuhan liar dan terlalu dekat dengan permukiman penduduk. Bahkan pengelolanya diduga tak mampu lagi mendanai kebun binatang itu.
Tilik saja, sekadar contoh, nasib seekor buaya raksasa di Taman Wisata Perancak. Buaya yang panjangnya sekitar lima meter itu ditempatkan di sebuah kandang berukuran panjang dan lebar tiga meter. Sementara itu, sepasang singa Afrika terlihat loyo dengan tulang-belulang menonjol di antara kulitnya yang kisut. Mereka harus tinggal di kandang yang berkarat dan kotor.
Namun, Agung Gunawan selaku pengelola Taman Wisata Perancak memprotes hasil penelitian tersebut. Agung membantah bila satwa di tamannya disebut kurang makan. Setiap hari, katanya, ia sudah menyediakan dua ekor anjing untuk empat ekor buaya raksasa dan sepasang singa. "Kalau sampai mereka kurus, itu karena memang harus diet ketat. Kalau kegemukan, sulit beranak," ujar Agung, yang menambahkan bahwa singanya sudah menghasilkan lima anak. Buat Agung, anak satwa merupakan sumber penghidupan penting bagi satwa lainnya. "Anak singa itu boleh saja dipelihara orang lain, asalkan kami diberi kompensasi," katanya.
Lain lagi tanggapan Ketua Umum Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia, Lukito Daryadi. Menurut Lukito, kesimpulan penelitian di atas agak berlebihan. Alasannya, 36 kebun binatang di Indonesia memang belum bisa dibanggakan. Mereka masih kesulitan menutup biaya operasional. Kecuali, kebun binatang di Surabaya, Jakarta, Yogyakarta, Bandung, dan Prigen di Pasuruan, Jawa Timur, yang pengelolaannya dianggap cukup bagus.
Itu berarti kondisi kebun binatang di Indonesia tak bisa lagi diharapkan? Yang jelas, Lukito lebih mengkhawatirkan banyaknya kebun binatang yang hanya mengantongi surat izin dari bupati. "Mereka membangun tanpa memakai pedoman, sehingga kami susah mengontrolnya," kata Lukito.
Tentu persoalan mendasarnya bukan sekadar masalah perizinan dan pengawasan. Yang pasti, kasus pengelolaan kebun binatang yang melenceng pernah terjadi di Kebun Binatang Surabaya, pertengahan tahun 2001. Saat itu terjadi kematian beruntun, mulai dari seekor harimau putih, harimau sumatera, komodo, singa, elang jawa, dan terakhir gajah. Sudah begitu, terjadi pula pencurian enam ekor jalak bali. Namun hingga kini kasus yang melibatkan empat pengurus Kebun Binatang Surabaya itu tak kunjung sampai ke pengadilan.
Agung Rulianto, L.N. Idayanie (Yogyakarta), Rofiqi Hasan (Bali), Abdi Purmono (Malang), Zed Abidien (Surabaya)
|