Demam Sodok Memabukkan Biliar Rumah biliar menjamur di Jakarta. Para pecandu menghabiskan waktu dan uangnya—bukan untuk menjadi "tukang" biliar.
|
DENGAN terhuyung-huyung ia menyodok bola. Tak..., bola pertama melesat masuk. Tapi, ketika ia ancang-ancang untuk memukul bola kedua, bumi terasa bergelombang. Kletik, pukulannya meleset. Tawa penonton meledak. "Dia teler berat," kata seorang pengunjung. Bau bir meruap hingga ke langit-langit.
Ini memang acara gila-gilaan: kontes biliar bagi para pecandu bir. Setelah menenggak satu gelas bir besar dalam sekali teguk, para peserta adu cepat melesakkan sembilan bola biliar ke lubangnya. Tentu saja masih dengan kepala gliyengan!
Kontes biliar untuk "pendekar" mabuk hanya salah satu keriaan yang digelar pengelola rumah biliar—yang kini sedang menjamur. Selain di Afterhour, rumah biliar di Gedung Sarinah, Jakarta, acara serupa juga digeber di Bengkel dan Gardu, dua gelanggang biliar terbesar di Ibu Kota. Entah siapa yang memulai acara ini, yang pasti pengoplosan bir dan biliar tampaknya pas: keduanya sama-sama memabukkan, sama-sama membuat ketagihan.
Pengunjung rata-rata berjubel setiap kali para pecandu bir itu beradu kebolehan. Ratusan orang, lelaki, perempuan, bukan cuma nonton, mereka juga menunggu giliran unjuk ketangkasan menyodok bola sambil tenggeng. Para pemenang biasanya dihujani berbotol-botol minuman keras sebagai hadiah untuk dihabiskan malam itu juga. Karena itu, acara yang digeber sampai pukul dua dini hari itu kerap membuat para pesertanya tumbang. "Banyak yang harus dipapah ke mobil," kata Widyantoro, Asisten Manajer Afterhour.
Demam biliar tampaknya tengah melanda Jakarta. Kendati tanpa kontes mabuk-mabukan, sejumlah kafe ramai-ramai melengkapi kedainya dengan meja biliar. Restoran Shooter di kawasan Kemang, Jakarta, misalnya, menjejali ruangannya yang sempit dengan tiga meja biliar. Kafe Champion di kawasan yang sama juga memasang satu meja, begitu juga www.wok dan teebox di Dharmawangsa.
Untuk memeriahkan perang sodok itu, macam-macam acara digelar. Selain kompetisi para pemabuk, Afterhour misalnya juga menggeber kontes Speed Ball setiap Jumat. Lalu ada pula "hari biliar" khusus untuk profesi tertentu. Misalnya, malam khusus sekretaris, bankir, atau pengelola hotel.
Tamu memang padat menjelang hari libur. Tapi bagi pecandu sejati, tak ada hari tanpa menyodok bola. Benny Banjar, misalnya. Pegawai Direktorat Jenderal Otonomi Daerah Departemen Dalam Negeri itu saban hari non-stop menghabiskan malamnya di Afterhour, sering sampai pukul dua pagi. Hanya hari Minggu dia absen. "Itu waktu untuk keluarga," kata bapak dua anak itu lagi.
Pagi sampai sore ia birokrat tulen, Benny takzim di kantornya yang berada di dekat Istana Presiden. Malam hari, Benny "nglungsungi", berganti kulit. Ia melepas seragam Korpri dan menggantinya dengan jins dan kaus atau kemeja santai dan bergabung dengan ratusan pengunjung lain. Meja favoritnya terletak di dekat bar di lantai dua. Saking kerapnya datang, ia diberi fasilitas bebas parkir oleh pemilik Afterhour.
Benny bukan "tukang" biliar profesional. Ia cuma nongkrong untuk membunuh waktu menunggu jalan lengang. Lalu lintas dari Depdagri ke rumahnya di Cileungsi, Jawa Barat, memang selalu dicengkeram kemacetan pada jam-jam pulang kantor. Dan ia tak sendiri. "Di meja tiga ada Pak Herman dan Pak Rudi, mereka juga saban hari di sini," katanya.
Di rumah biliar seluas seribu meter persegi itu, Benny akrab bertegur sapa dengan pengunjung lain. Seorang perempuan muda tak henti-hentinya merangkulkan tangan mulus ke pinggang Benny. Malam itu, di pojok kafe bersama seorang teman dan perempuan cantik lain, ia menyantap daging sapi panggang dan semangkuk salad. Sesekali, dua perempuan sintal itu cekikikan mengganggu suara serak Rod Stewart yang melengkingkan Reason to Believe.
Dibandingkan dengan rumah biliar lain, Afterhour termasuk paling mahal. Satu jam sewanya Rp 30 ribu. Di meja snooker, pengujung dikutip Rp 50 ribu sejam. Satu meja dekat bar disediakan cuma-cuma untuk mereka yang pesan makanan atau minuman. Total jenderal, ditambah dengan camilan dan satu atau dua gelas bir, seorang pecandu biliar biasa menghabiskan Rp 200 ribu semalam di Afterhour. Widyantoro mengaku setiap malam kedainya bisa mengeruk duit sekitar Rp 20 juta, seperlimanya dari sewa meja.
Di Bengkel, kawasan Semanggi, tarifnya lebih murah, cuma Rp 21 ribu per jam (siang) dan Rp 24 ribu (malam). Dibandingkan dengan Afterhour yang cuma menyediakan 20 meja, Bengkel enam kali lebih besar. Para penonton juga disuguhi sajian acara televisi atau video dari dua layar berukuran jumbo. Selain itu, mereka punya kesempatan berjoget di lantai dansa.
Bengkel juga menawarkan ruang khusus: Cigar Room. Di sini para pecandu bisa main lebih eksklusif karena kapasitasnya cuma 20 tamu dengan 6 meja. Ruang itu dilengkapi sofa tebal, televisi 26 inci, dan—sesuai dengan namanya—menjual pelbagai jenis cerutu. Ada Cohiba, Cigars-Churchill, Monte Cristo, Vega Fina, hingga Davidoff, yang dijual Rp 33 ribu sampai Rp 500 ribu per pak. "Kami memang mengincar kelas menengah atas," kata Ishwara Adi, Asisten Manajer Bengkel.
Selain Afterhour dan Bengkel, kafe bola sodok yang jadi tujuan para penikmat dugem (dunia gemerlap) adalah Gardu, gelanggang biliar dengan 23 meja. Tak beda dengan tempat lain, Gardu diserbu pecandu pada malam akhir pekan. Tak jarang pengelola gelanggang ini terpaksa membuat daftar tunggu, jika penggunjung melebihi kapasitas.
Salah satu permainan favorit di Gardu adalah lomba sodok 9: setiap pemain harus memasukkan bola nomor 9 pada pukulan pertama. Jika berhasil, akan diganjar Rp 500 ribu. Fathoni, seorang pengunjung fanatik Gardu, mengaku senang nongkrong di sana karena game-game berhadiah yang asyik itu.
Dalam sepekan Fathoni bisa tiga kali ke Gardu dan menghabiskan Rp 200 ribu sekali datang. Tiap tahun ia juga membayar Rp 800 ribu untuk iuran anggota. "Istri sering marah karena gue pulang lambat," kata pegawai perusahaan properti itu. Ia mengaku punya resep meluluhkan sang istri. Semalam apa pun ia pulang, Fathoni menyempatkan makan di rumah.
Apakah demam biliar bisa mencetak "tukang" biliar pro yang bisa diandalkan? Di Surabaya, seorang bernama Santoso Wijonoharjo menjadi juara pelbagai lomba gara-gara demen main di rumah biliar. Ia pernah menjuarai lomba nasional biliar 1999 di Jakarta dan Bali. "Saya senang nongrong di rumah biliar sejak masih SMP," katanya.
Tapi di Jakarta urusan prestasi tukang biliar tampaknya tidak masuk hitungan. Para pecandu umumnya nongkrong di sana cuma untuk happy-happy, senang-senang. Buat pecinta dugem, uang memang sering tidak menjadi masalah. Sodok terus, Mas….
Arif Zulkifli, Tomi Lebang, Rommy Fibri (Jakarta), Adi Mawardi (Surabaya
|