Bangkrut Diserang Imlek Para bandar judi toto gelap rugi besar menjelang Imlek. Tapi, kenapa judi ini bisa mencapai desa-desa dengan aman?
|
Gong Xi Fa Cai, semoga sukses dan beruntung. Sayang, ucapan selamat hari raya Imlek ini berarti nestapa bagi para bandar judi toto gelap (biasa disebut togel) di Indonesia. Imlek kali ini membuat bandar-bandar togel bangkrut dan tak bisa membayar taruhan. Bagaimana bandar yang teorinya selalu untung ini bisa rugi?
Begini ceritanya. Penarikan judi toto yang dilakukan di Singapura biasanya dilakukan pada Senin sore pukul 19.00 WIB dan penutupan taruhan dua jam sebelumnya. Namun, karena Selasa 12 Februari lalu hari raya Imlek dan warga Singapura sebagian besar merayakannya, penarikan toto dimajukan menjadi 11 Februari pukul 10.00 pagi. Maksudnya supaya menjelang Imlek tidak diganggu oleh judi macam-macam. Begitulah, hasil penarikan Senin pagi itu langsung ditayangkan di internet. Sialnya, sebagian bandar di Indonesia tidak tahu jadwal di luar kebiasaan ini. Mereka juga tak pernah berpikir akan tayangan di internet itu. Alhasil, mereka masih saja buka kupon sampai sore. Sementara itu, beberapa penjudi yang bisa mengintip penarikan lewat internet menyerbu kupon togel.
Ketika pukul tujuh malam tiba, dan para bandar tahu nomor yang keluar 7440, barulah mereka terkesiap. Ternyata banyak petaruh yang menang, bahkan bisa menebak empat angka—sesuatu yang hampir mustahil terjadi. Bandar togel seperti Mujianto dari Wonosari, Malang, mengaku kebingungan. Ia amat terkejut ketika para pemasang togel beramai-ramai mendatangi rumahnya, Senin sore pekan lalu itu. Muji langsung pucat-pasi. Hitung punya hitung, ia harus membayar Rp 1,5 miliar, padahal penghasilan togelnya seminggu cuma Rp 8 juta. "Saya bandar baru Mas, enggak tahu kalau dipercepat," katanya dengan muka kusut.
Rony Simbara, bandar di kawasan Dolly, Surabaya, sama bingungnya. Normalnya, pulul tujuh malam pengumuman dari Singapura baru datang. Tapi, pukul tiga sore, ia dikejutkan oleh para penjudi yang sudah menagih uang taruhan. Padahal para pengepul saja belum menyetor kepadanya. Daripada bonyok dihajar massa, ia menyerahkan diri ke Polres Surabaya Selatan.
Judi togel memang sedang merambah ke desa-desa terpencil. Buat penduduk yang kerjanya buruh dan petani seperti di Wonosari, judi togel jadi impian buat kaya mendadak. Hadiahnya berlipat-lipat mirip Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah (SDSB), yang sudah resmi dilarang. Kuponnya seharga seribu rupiah. Kalau bisa menebak dua nomor, mendapat bayaran Rp 65 ribu, tiga nomor dapat Rp 350 ribu, dan empat angka "tembus" bisa dapat Rp 2,5 juta. Seminggu ada empat kali penarikan. Tak jelas siapa yang membocorkan angka yang tembus—istilah penjudi untuk nomor tertarik—pekan lalu itu kepada para buruh tani itu, yang tentunya tak bisa mem-buka internet. Namun, memang diyakini judi togel juga digemari para petaruh gedongan yang punya akses informasi canggih seperti internet.
Mujianto dan kawan-kawannya sedang apes. Biasanya, setiap bulan ia mengantongi Rp 40 juta bersih, sudah dipotong beli kupon dan bayaran untuk pengepul. Rony malah dapat Rp 60 juta hanya dalam seminggu. Di Tangerang, di tempat masuk ke Jalan H. Jasirin, Jatiuwung, persis di ujung jalan, ada portal semen yang mengukir tulisan "Jupri/Serma 10/01/02". Itulah nama seorang anggota polisi militer bernama Jupri berpangkat sersan mayor. Pekan lalu ia ditangkap karena dicari-cari para penjudi yang menang togel. Rupanya, sejak lima bulan lalu, Jupri jadi bandar togel. Mirip cerita Mujianto, Imlek lalu ia ketiban sial, harus membayar taruhan sampai Rp 3 miliar lebih. Karena tak bisa membayarnya, toko dan 32 kamar rumah kosnya diobrak-abrik para penjudi.
Begitulah kehebatan judi togel ini. Bukan rahasia lagi, ada polisi dan tentara yang melindungi perjudian ini, bahkan menjadi bandarnya. Saat datang ke Wonosari, TEMPO mendapat cerita bahwa polisi dan tentara dari Polsek dan Koramil Wonosari sudah lama jadi teman para bandar. Sumber TEMPO bercerita, "uang aman" Rp 600 ribu sampai Rp 800 ribu harus disetor per bulan kepada polisi dan tentara itu. Itu sebabnya togel benar-benar aman beredar.
Tapi, Wakil Kapolres Malang, Komisaris Polisi Hery Subiansauri, mengaku tak tahu-menahu soal keterlibatan anak buahnya. Cuma, ia terus terang mengaku terlambat menerima laporan. "Saya kecolongan," katanya. Ia menjamin anak buahnya bakal ditindak keras jika terlibat, dan para bandar itu akan tetap ditahan. Rupanya, Kapolda Ja-Tim Inspektur Jenderal Polisi Sutanto juga kaget, kok tiba-tiba ada puluhan bandar togel minta perlindungan. Ia merasa ditelikung sejumlah Kapolres soal bandar togel yang berlindung di kantor polisi saat ini. Kata sumber TEMPO, kasus togel men-jelang Imlek ini adalah pertanda para Kapolres tak serius memberantas toto gelap. Pantas, togel merajalela di masyarakat.
I G.G. Maha Adi, Abdi P. (Malang), Komang W.D. (Surabaya)
|