|
Bergantinya musim hujan mungkin melegakan. Namun, ada bahaya lain mengintip setelah musim hujan berganti musim kemarau yang panjang. Seperti banjir, demam berdarah pun mengenal siklus lima tahunan yang ledakannya lebih besar dari serangan biasa. Meski diperkirakan baru datang tahun depan, siklus lima tahunan penyakit mematikan ini mungkin pula datang lebih awal karena perubahan iklim. Tak ada salahnya waspada.
Jika Anda berniat menangkal demam berdarah (dengue fever), kiat yang disarikan dari berbagai sumber ini bakal berguna. Resep klasik adalah menguras genangan air, mengubur sampah, dan menutup tempat penampungan air. Pengurasan bak mandi, misalnya, juga mesti disertai dengan penyikatan dinding bak karena telur nyamuk Aedes aegypti—pembawa virus dengue—yang tertinggal bisa bertahan hidup sampai tiga bulan.
Nah, bagaimana mengenali aksi virus dengue? Memasuki tubuh manusia bersama ludah nyamuk Aedes, sang virus segera merusak sel darah terutama sel pembeku darah (trombosit). Aksi ini membuat tubuh pasien bereaksi, yakni panas tinggi mendadak selama 2-7 hari, nyeri di ulu hati, muntah-muntah, badan lunglai, kaki-tangan berkeringat dingin, dan timbul bintik merah di sekujur kulit.
Pada tahap awal, penderita bisa ditolong dengan pemberian minum—susu, teh, dan air putih—yang banyak untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang. Untuk tahap lanjut, pasien diberi cairan infus glukosa laktat ringer. Transfusi darah hanya diberikan dengan persyaratan yang ketat, misalnya jika kadar trombosit pasien melorot amat drastis.
Layak dicatat pula bahwa nyamuk Aedes aegypti bersifat multibitter atau menggigit beberapa orang dalam sehari. Walhasil, laju penularan bisa berlangsung relatif cepat dalam skala yang luas. Selain itu, tak ada jaminan orang yang pernah terkena demam berdarah bakal kebal terhadap infeksi lanjutan. Ada empat jenis virus—yakni dengue 1 sampai 4—yang semuanya bisa menyerang orang yang sama secara bergantian dengan dampak yang fatal.
|