Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 50/XXX/11 - 17 Februari 2002
   
Indikator

Silakan Mundur, Bang Yos

Perlukah Sutiyoso mundur dari kursi Gubernur DKI Jakarta karena gagal mengatasi masalah banjir?
(1 - 8 Februari 2002)
Ya
78,2%706
Tidak
20,1%182
Tidak tahu
1.7%34
Total100%902

Hujan lebat yang turun sepanjang akhir Januari telah membenamkam sebagian besar wilayah Kota Jakarta dalam genangan banjir. Sebagian bahkan karam total. Air bandang itu juga menggenangi pusat-pusat kawasan bisnis dan pemerintahan di daerah segi tiga emas. Bahkan menggenangi halaman Istana Merdeka. Akibatnya, sejumlah korban jiwa jatuh, ratusan bahkan mungkin ribuan rumah tenggelam dan hancur. Ratusan penduduk pun terpaksa mengungsi.

Ada yang menganggap banjir kali ini lebih disebabkan faktor alam: adanya arus air limpahan dari kawasan Jawa Barat yang diperparah oleh hujan berkepanjangan selama beberapa hari, dengan curah di atas normal. Tapi ada juga yang menilai, banjir timbul pula akibat kegagalan Pemerintah DKI Jakarta menjalankan kebijakan pembangunan prasarana kotanya. Banjir di Ibu Kota punya siklus lima tahunan. Karena itu, mestinya Pemda Jakarta punya rencana strategis untuk menanggulanginya. Itu yang mereka lihat tidak ada.

Dengan argumen seperti itu, para pengritik ini berpendapat, seharusnya Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso mengundurkan diri sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban. Tuntutan tersebut tampaknya disetujui sebagian besar masyarakat.

Bang Yos, begitu Gubernur DKI ini dipanggil oleh masyarakat Betawi, menyatakan siap-siap saja mundur bila dirinya dianggap gagal, meskipun kemudian ia berkelit bahwa banjir di Jakarta sudah terjadi sejak zaman Ali Sadikin. Maka, ia beranggapan, dirinya tak sepenuhnya salah dan gagal.

Lepas dari soal pertanggungjawaban atas banjir, masa bakti Gubernur DKI akan habis pertengahan tahun ini. Jadi, ada banjir atau tidak, masyarakat Betawi memang sudah siap-siap mencari pengganti Bang Yos.






Jajak Pendapat Pekan Depan:

Perdana Menteri Australia John Howard datang ke Indonesia pekan lalu. Ini memang bukan kunjungannya yang pertama ke sini, setidaknya tahun lalu ia mampir ke Jakarta, beberapa waktu setelah Megawati diangkat menjadi presiden, menggantikan Abdurrahman Wahid. Tapi ada yang istimewa dalam kunjungan Howard pekan lalu: penolakan DPR atas kunjungan itu. DPR beralasan, Australia tak terlalu menguntungkan bagi kebijakan luar negeri Indonesia. Negara ini dinilai sering terlalu turut campur untuk urusan dalam negeri Indonesia, misalnya dalam kasus Timor Timur.

Ironisnya, DPR tidak konsisten dalam menilai Australia. Sebuah kontingen parlemen dilaporkan melakukan studi banding ke Negeri Kanguru ini untuk masalah-masalah penanganan imigran ilegal dan hal lainnya. Pengalaman negeri itu dinilai DPR dapat menjadi pelajaran bagi Indonesia. Bagaimana pendapat Anda sendiri? Suarakan pendapat Anda melalui situs www.tempointeraktif.com.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data