Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 50/XXX/11 - 17 Februari 2002
   
Ekonomi dan Bisnis

Dengan Siapa Pertamina Berbisnis?

DI SIANG terik itu, suasana gedung berlantai empat di Jalan Bukit Batok 23, Singapura, begitu hiruk-pikuk. Beberapa truk ukuran tiga perempat tampak sibuk membongkar-muat bermacam barang. Sementara itu, jejeran sedan mewah yang sedang terparkir menambah kepadatan jalan selebar 12 meter yang berada persis di depan gedung tersebut.

Di lantai dasar gedung itu, tepatnya di ruangan bernomor 52, terpampang sebuah papan nama: Ocean Pacific Union Enterprises Pte. Ltd. Itulah nama panjang Oceanpac, salah satu perusahaan yang menurut data Pertamina kerap memenangi tender minyak untuk perusahaan negara tersebut. Memasuki kantornya, berbagai barang dagangan seperti oli, suku cadang kendaraan alat berat, mesin penyedot debu, selang, dan bermacam perkakas lain terlihat memenuhi ruangan yang luasnya kira-kira hanya 5 meter persegi itu.

Berdiri pada 3 Desember 1992, Oceanpac merupakan pemasok aneka barang kebutuhan perusahaan minyak. Mereka menjadi agen penjual barang-barang produksi ExxonMobil, Castrol, dan Caltex, dari sarung tangan pengaman, minyak pelumas, sampai pembangunan kilang minyak lepas pantai dan pabrik petrokimia.

Jaringan bisnis Oceanpac terutama mencakup kawasan Asia Tenggara. Mereka memiliki kontak di Cina, Indonesia, Hong Kong, Vietnam, Myanmar, dan Malaysia. "Di Indonesia, pelanggan kami antara lain ada di Medan, Pekanbaru, Batam, dan Palembang," kata William Ong, Manajer Pengembangan Bisnis Oceanpac. Lalu, bagaimana hubungannya dengan Pertamina? Ong mengaku perusahaannya memang punya jalinan bisnis dengan Pertamina, tapi tidak secara langsung. Mereka biasanya menjual barang melalui perusahaan perantara, yaitu Virginia Services Ltd. Transaksi itu sendiri bergantung pada permintaan, yang terhitung jarang, hanya 2-3 bulan sekali.

Menurut Thomas Chong, pengawas pengadaan barang Virginia Services Ltd. yang berkantor di Park Mall lantai 7-9, Jalan Penang, Singapura, perusahaannya tak bersangkut-paut dengan Pertamina dalam hal penjualan minyak. "Kami memang berbisnis dengan Pertamina, tapi bukan bisnis minyak," ujarnya. Barang yang dikirim ke Pertamina biasanya hanya berupa suku cadang alat berat, misalnya crane, Scania, Oscosh, atau selang bertekanan tinggi. "Suku cadang itu kami jual ke Pertamina sesuai dengan permintaan yang kami peroleh," katanya.

Sementara itu, Concord Energy, yang juga disebut-sebut sebagai rekanan Pertamina, memang tergolong perusahaan minyak. Mereka merupakan agen penjual minyak dan gas, baik cair maupun padat. Sayangnya, tak ada keterangan tambahan yang bisa diperoleh mengenai profil perusahaan itu dan hubungannya dengan Pertamina.

Ketika TEMPO mendatangi kantor Concord, yang terletak di Gedung Liat Towers, Orchard Road, Singapura, tak ada pemiliknya yang berada di tempat. "Tuan Nasrat Muzzayin masih berada di Amerika Serikat," kata resepsionisnya. Belakangan, lewat surat elektronik, Nasrat, si pemilik perusahaan, mengaku perusahaannya sejak berdiri tak pernah berbisnis atau menjual minyak ke Pertamina.

Pegawai Petrocom setali tiga uang dengan karyawan Concord. Mereka sangat tertutup. Kantornya di lantai 10 International Building, Orchard Road, Singapura, bahkan terkunci rapat. Di pintu masuk tertempel tulisan, "Company's employees only. Sales and marketing personnel strictly not allowed." TEMPO, yang mencoba mengetuk pintu, tak mendapat jawaban. Menurut keterangan halaman kuning buku telepon Singapura, Petrocom adalah perusahaan perdagangan umum dan pialang komoditi berjangka.

Demikian pula pihak Enercorp International. Perusahaan ini tidak bersedia menjawab ketika TEMPO berusaha meminta penjelasan mengenai tender penjualan minyak dengan Pertamina. Alasan karyawannya, pimpinan yang akan ditemui tidak ada di tempat. Itu pun ia hanya berbicara melalui mikrofon di depan pintu, tanpa membuka pintunya.

Ketertutupan dan pengakuan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut tak pernah menjual minyak ke Pertamina itu tak pelak mengundang tanya. Bagaimana mungkin nama perusahaan mereka bisa tercantum sebagai pemenang tender? Seorang sumber TEMPO menyebut, boleh jadi perusahaan-perusahan itu memang cuma dipakai sebagai kendaraan. Jadi, wajar bila karyawannya tak mengetahui adanya bisnis sampingan tersebut. Tapi, tentu lain halnya dengan si pemilik. Mustahil mereka tak tahu-menahu. "Memangnya Pertamina selama ini berbisnis dengan siluman?" tanya dia.

Nugroho Dewanto, Rumbadi Dalle (Singapura)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data