Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 50/XXX/11 - 17 Februari 2002
   
Ekonomi dan Bisnis

Aksi Calo Minyak dari Negeri Jiran

Munculnya beberapa perusahaan baru Singapura sebagai pemasok minyak bagi Pertamina mengundang kecurigaan. Pemain lama yang dulu pernah menjarah Pertamina dengan praktek kolusi kini bermain lagi?

PERTAMINA rupanya benar-benar ladang rezeki yang menggiurkan para calo minyak. Dengan nilai ekspor dan impor minyak Pertamina setiap bulan mencapai US$ 300 juta, tak mengherankan bila dua tahun belakangan perusahaan-perusahaan perdagangan minyak kembali mengerumuni Pertamina.

Dulu, perusahaan yang terkait dengan Keluarga Cendana mengerubuti Pertamina dan selama bertahun-tahun "sukses" merugikan perusahaan negara itu. Setelah kontrak dengan perusahaan Cendana diputus begitu sang patron, Soeharto, lengser dari kursi kepresidenan, kini giliran perusahaan-perusahaan yang berbasis di Singapura unjuk gigi. Mereka berebut ingin memasok minyak buat Pertamina.

Memang, perusahaan Singapura itu mendapatkan proyek melalui tender terbuka. Namun, kabar yang beredar di dunia perdagangan minyak santer meniupkan aroma tak sedap. Di balik perusahaan-perusahaan yang kini berbisnis dengan Pertamina itu, konon, bercokol orang-orang lama yang dulu ikut berkiprah di Pertamina lewat almarhum Perta dan Permindo—perusahaan terkait Cendana yang dulu memonopoli perdagangan minyak Pertamina (lihat Makelar di Sekeliling Pertamina). Kecurigaan pun mencuat. Kemenangan tender dicurigai diperoleh lewat jalan tak wajar.

Beberapa nama perusahaan disebut-sebut kerap memenangi tender. Di antaranya adalah Petrocom, Concord Energy, Oceanpac, dan Enercorp. Dan pengusaha yang dikabarkan berada di baliknya adalah Nirwan Bakrie, yang dulu pernah menjadi pemegang saham merangkap Wakil Presiden Direktur Permindo; Charles Nai, yang pernah menjadi Asisten Manajer Keuangan Permindo; dan Nasrat Muzzayin, yang pernah menjadi Direktur Perdagangan Indo Oil Singapore Pte.Ltd.—anak perusahaan Permindo di Singapura.

Penelusuran yang dilakukan TEMPO malah menemukan nama Nai Song Kiat, yang tampaknya sangat berperan di balik perusahaan-perusahaan itu. Nama ini tercatat sebagai pemilik Concord, Oceanpac, dan Petrocom. Ketiga perusahaan itu sama-sama tercatat sebagai pemasok minyak bagi Pertamina. Siapakah Nai Song Kiat? Namanya memang mengingatkan pada Charles Nai, sang asisten manajer keuangan perusahaan perdagangan minyak yang terkait dengan Cendana, Permindo—si pemain lama. Sayangnya, tak diketahui benar apakah Charles Nai dan Nai Song Kiat ini adalah orang yang sama atau memiliki hubungan kekerabatan.

Jadi, benarkah orang-orang lama yang telah tersingkir kini muncul kembali? Nirwan Bakrie menampik dirinya berada di belakang per-usahaan-perusahaan baru yang beberapa di antaranya, seperti penelusuran TEMPO, tak bergerak dalam perdaganganan minyak itu (lihat Dengan Siapa Pertamina Berbisnis?). "Nirwan tak memiliki saham, apalagi kepentingan, di perusahaan-perusahaan itu," kata juru bicaranya, Lalu Mara Setiawangsa. Bahkan, Lalu menambahkan, sudah sepuluh tahun terakhir bosnya tak lagi terlibat dalam perdagangan minyak. Nasrat Muzzayin, yang dihubungi di Concord Energy, juga mengaku perusahaannya tak pernah berbisnis ataupun menjual minyak ke Pertamina. "Saya tak berhubungan dengan pihak-pihak di Indonesia," ujarnya melalui surat elektronik.

Namun, kalangan pedagang minyak di Singapura percaya, kendati Perta dan Permindo sudah bubar, staf kedua perusahaan itu masih memiliki hubungan baik dengan para pejabat Pertamina. "Mereka berteman baik dan pejabat Pertamina tetap menggunakan staf kedua perusahaan itu untuk membantu mereka berbisnis," ujar sumber TEMPO. Agar tak menimbulkan kecurigaan, pada tahap awal Pertamina menyelenggarakan tender terbuka yang melibatkan pemain besar, sehingga terkesan ada tranparansi.

Setelah itu, tahap berikutnya, sobat-sobat lama itu dilibatkan kembali dalam bisnis. Tak aneh, sepak terjang perusahaan-perusahaan minyak itu sungguh agresif. Soalnya, kendati baru berdiri, mereka kerap memenangi tender minyak sehingga dalam sekejap bisa menguasai 40-50 persen pangsa impor minyak buat Pertamina. Jumlah itu jelas sangat besar. Soalnya, total impor minyak Pertamina lewat pasar spot Singapura itu mencapai 5 juta-6,8 juta ton barel, yang nilainya setara US$ 125 juta-170 juta setiap bulannya.

Aksi para pedagang minyak tiban itu tak pelak menimbulkan keresahan di kalangan pemain lama, yang kebanyakan merupakan perusahaan besar. Soalnya, sejak mereka masuk, proses tender yang tadinya berlangsung adil berdasar persaingan harga tanpa aroma korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) menjadi rusak. Ditengarai, mereka berkali-kali dapat memenangi tender lantaran berkolusi dengan sejumlah pejabat Pertamina.

Bagi pejabat Pertamina, praktek kolusi sendiri bukan barang baru. Di zaman Soeharto dulu mereka kerap memainkannya bersama Perta dan Permindo. Kedua perusahaan yang sebagian besar sahamnya dimiliki Keluarga Cendana itu berkolusi dengan pejabat Pertamina untuk memonopoli penjualan minyak ke dalam dan luar negeri. Menurut hasil audit kantor konsultan PricewaterhouseCoopers, dari hasil patgulipat tersebut, selama tahun 1996-1998 para pejabat Pertamina menerima komisi US$ 128 juta atau setara Rp 900 miliar (dengan kurs saat itu).

Menurut penelusuran TEMPO, modus kolusi itu antara lain berupa pembocoran informasi penawaran harga tender dari perusahaan pesaing. Dengan bisikan informasi orang dalam itu, perusahaan bisa menawar harga sedikit lebih rendah untuk memenangi tender.

Namun, Direktur Utama Pertamina, Baihaki Hakim, agaknya sulit mempercayai modus itu bisa terjadi. Sebab, Pertamina telah memperbaiki sistem tender. Sekarang penawaran yang masuk tak diterima oleh satu mesin faks pejabat tertentu, tapi disimpan di ruang tender yang terkunci rapat. "Ruangan itu baru dibuka oleh tim tender setelah semua penawaran masuk," ujarnya.

Yang pasti, persaingan memperebutkan proyek pemasokan minyak ke Pertamina memang berlangsung sangat sengit. Tak hanya para pemain besar yang telah berpengalaman dalam dunia minyak yang terusik. Anak perusahaan Pertamina, Pe-tral, yang juga mengimpor minyak mentah, pun tak luput dari sikutan. Petral memang tak hanya mengimpor minyak mentah lewat jangka panjang, tapi juga ikut bermain dalam tender di pasar spot Singapura. Baihaki menuturkan, beberapa waktu lalu Novaco, salah satu perusahaan Singapura itu, mengirim surat "pengaduan" kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro. Surat itu berisi informasi bahwa Petral melakukan praktek KKN.

Disebutkan, kendati menawar dengan harga yang terlalu mahal, Petral tetap bisa memenangi tender. Keterangan itu, menurut Baihaki, terbalik seratus delapan puluh derajat dengan kenyataan di lapangan. Faktanya, harga penawaran Petral justru jauh lebih murah sehingga merekalah yang memperoleh kontrak.

Direktur Utama Petral, Soekono Wahjoe, sendiri menganggap trik-trik semacam itu sebagai hal yang biasa. "Itu dampak persaingan antarpedagang saja," katanya enteng. Soekono juga mengakui bahwa pesaing itu kebanyakan berasal dari Indonesia, kendati menggunakan perusahaan di luar negeri, khususnya Singapura. Ia menengarai, memang ada usaha untuk menghidupkan kembali gaya lama. "Paper trading bisa saja terjadi bila kita tidak hati-hati," katanya. Menyangkut nama-nama Nirwan Bakrie, Charles Nai, dan Nasrat Muzzayin, Soekono mengaku mengenal baik mereka semua. "Mereka kawan saya," katanya ketika dua pekan lalu ditemui di kantor Petral, lantai 17 Wisma Atria, Orchard Road, Singapura.

Sementara ini, Petral merasa belum ter-ancam oleh kehadiran importir-importir baru itu. "Kita bersaing saja. Tidak masalah, asal benar-benar sehat," kata Soekono. Senada dengannya, Baihaki mengaku tak bisa melarang perusahaan-perusahaan itu mengikuti tender pengadaan minyak buat Pertamina. "Sepanjang mereka menawarkan harga yang bersaing dan melewati prosedur resmi," katanya, "kami tak bisa berbuat apa-apa."

Sejauh ini berbagai perusahaan Singapura yang dicurigai bermain curang itu tak sampai menguasai 40-50 persen pangsa impor minyak bagi Pertamina seperti yang dicurigai kalangan pedagang minyak. Menurut data yang dimiliki Baihaki, dari tahun 2001 hingga Maret 2002 jumlah pasokan minyak yang dimenangi perusahaan-perusahaan baru itu cuma 14 persen.

Soekono sendiri memang belum perlu khawatir. Sejak Agustus 2001, Petral sudah menyentuh level penjualan minyak 10 juta barel per hari. Masuk ke jajaran papan atas trader dunia. Perputaran uangnya pun telah mencapai US$ 1,2 miliar. Lumayan, tapi belum seberapa dibanding Glencore, yang omzetnya sudah mencapai US$ 50 miliar.

Sebagai induk, Pertamina memang telah bertekad membesarkan Petral untuk menjadi lengan bisnisnya yang kuat. "Soalnya, di masa depan Pertamina sendiri harus bersaing dengan trader besar," kata Baihaki. Ucapannya sangat masuk akal. Sebagai anak perusahaan, bila Petral meraih laba, keuntungannya juga otomatis akan masuk ke kantong Pertamina dan pemerintah. Karena itu, tiga tahun terakhir Petral mendapat hak membeli langsung 20 persen kebutuhan minyak mentah Pertamina dari produsernya lewat kontrak-kontrak jangka panjang. Sedangkan untuk 80 persen sisanya, Petral harus bersaing dengan pedagang lain dalam tender di pasar spot Singapura.

Selain menguntungkan, karena harganya tetap bersaing, penunjukan Petral dapat mengurangi ketergantungan pengadaan minyak mentah di pasar spot Singapura. Dampak lainnya, kebijakan itu bisa meningkatkan keamanan pasokan, mengurangi fluktuasi harga, membuka peluang bagi bisnis penyimpanan minyak, dan dapat membuka peluang bagi sumber-sumber minyak di daerah lain, misalnya di Timur Tengah. Semua itu tentu dengan syarat Petral bermain bersih dan profesional.

Nugroho Dewanto, I G.G. Maha Adi, Purwani D. Prabandari, Dewi Rina Cahyani


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data