Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 50/XXX/11 - 17 Februari 2002
   
Daerah

Awas, Air Kemasan Beracun

MINUMAN kemasan berobat kini beredar lagi sebagai modus untuk memperdayai penumpang bus atau kereta api. Tragisnya, aksi kejahatan itu tak hanya memereteli harta korban, tapi juga sampai merenggut nyawa. Yatno dan Eko, kakak-adik, tewas setelah menenggak minuman yang ditawarkan oleh penjahat yang berpura-pura menjadi penumpang kereta api, 3 Februari silam.

Sebelum meninggal, Eko sempat bercerita, saat kereta memasuki Cikampek, naik dua penumpang yang duduk berseberangan dengan korban. Mereka menawarkan minuman air kemasan dan diterima. Setelah minum, Eko dan Yatno pingsan. Yatno meninggal di kereta, sedangkan Eko tewas setelah beberapa jam dirawat di Rumah Sakit Gunung Jati, Cirebon. Seluruh uang, perhiasan, dan jam tangan milik mereka lenyap.

Pengalaman serupa dialami Sukardi. Akhir Januari silam, ia naik bus jurusan Merak-Tegal. Di dalam bus, ia ditawari minuman oleh orang tak dikenal. ”Awalnya dengan cara halus. Karena saya tolak, ia marah dan sempat memukul mata saya,” ujarnya. Merasa takut, Sukardi pun menenggak minuman dalam kaleng itu. Tidak lama kemudian, Sukardi pingsan. ”Setelah saya sadar, uang, jam tangan, bahkan sepatu saya lenyap,” ujarnya ketika ditemui TEMPO di rumah sakit.

Modus ini rupanya kerap digunakan. ”Setiap minggu kami menerima rata-rata empat korban penipuan dengan modus seperti itu,” kata salah satu perawat Rumah Sakit Gunung Jati. Menurut Dokter Hiesma, setelah diteliti, zat beracun yang terkandung di dalam minuman itu sangat berbahaya. ”Jika dosis yang diberikan melebihi 50 cc, bisa menjadikan gangguan saraf permanen,” ujarnya. Sayang, dokter yang juga ahli forensik itu tidak mau menyebut jenis racunnya.

Lantas, siapa penjahat keji itu? Tidak jelas. Sebab, hingga kini, polisi belum berhasil membekuk satu pun penjahat tersebut. ”Kami akan mempelajari kasus-kasus sebelumnya dan berkoordinasi dengan Polda Metro Jaya untuk menangkap pelaku,” kata Ajun Komisaris Besar Siswandi, Kepala Polresta Cirebon.

Zed Abidien, Prasidono L., Tempo News Room


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data