Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 49/XXX/04 - 10 Februari 2002
   
Tari

Hangat dan Gamang di Saat Senja

Dua koreografer Solo menafsirkan situasi batin manusia ketika usia tua datang. Perempuan digambarkan lebih punya sikap santai.

Enam perempuan tersaruk-saruk masuk arena. Mereka sudah "jompo" tapi masih penuh vitalitas. Mereka nyaris tak bisa berhenti berkicau. Celotehnya begitu menggelitik, mulai dari urusan ranjang sampai banjir di Jakarta. "Banjir ini datang karena presiden kita bernama Mega, makanya mendung terus. Coba kalau presidennya saya, Siti Srengenge (Siti Matahari), pasti suasana cerah," kata seorang perempuan yang jadi ketua rombongan. Tidak puas berceloteh, mereka menyanyi dengan gaya mirip ibu-ibu Dharma Wanita dalam acara televisi Kamera Ria. Adegan-adegan awal Simbok karya koreografer Saryuni Padminingsih, 43 tahun, dengan cepat mengilik urat tawa segelintir penonton di Teater Utan Kayu pekan lalu.

Di tangan Yuni, aging atau menjadi tua bukanlah proses yang menakutkan bagi kaum perempuan. Mereka memiliki rasa sepi tapi tak mau berlama-lama membekapnya. Mereka digambarkan bisa menertawakan keuzuran tanpa beban, dengan kembali bertingkah mirip anak kecil, jogedan. Bahkan, dalam beberapa bagian malah terasa sensual. Namun, di antara segala kekonyolan, perenungan adalah menu utama olah batin. Hal ini terlihat dari gerakan para penari yang berulang kali menunduk melihat dada, melongok isi rohani. Komposisi ditutup dengan adegan para perempuan yang satu per satu dipanggil menuju kehidupan alam lain. Mereka tidak jeri, malah riang berseru yes! Menerbitkan senyum sekaligus mengharukan.

Secara keseluruhan, karya Yuni yang mengajar tari di Sekolah Tinggi Seni Surakarta (STSI) ini berhasil menggambarkan masa senja kaum perempuan. Sayangnya, pilihan yang disengaja untuk menampilkan gerakan yang irit kembangan membuat suasana lebih banyak terbangun oleh dialog, bukan oleh gerak tarinya sendiri.

Situasi yang kurang lebih sama terjadi pada karya Capinge Mbah Sura karya Pamardi, 43 tahun, yang juga mengajar di STSI. Gerakan penari sering tertutup oleh celoteh pemain pendukung yang "celakanya" memang keterlaluan kocaknya.

Ide dasar Mbah Sura adalah kisah nyata seorang tokoh Kota Solo yang pernah terhormat kemudian terbanting. Yang dibidik sejatinya bukan satu tokoh, melainkan kaum lelaki secara keseluruhan di masa tuanya. Mereka digambarkan cenderung mengalami sindrom purnajabatan. Maka, lelaki tua dalam Mbah Sura tak bisa sesantai para perempuan dalam Simbok. Ia resah, gamang, dan marah. Sudah begitu, di tengah kebingungannya masih saja ada orang yang merusuhi dan ngrasani. Kurang ajarnya, para perusuh ini dengan enak melontarkan komentarnya sembari ber-sedap-sedap melahap teh poci dan nyamikan. Serbuan gangguan ini membuat Mbah Sura makin kehilangan orientasi. Sesekali ia mencoba mengais kebanggaan masa lalunya. Pamardi menampilkannya dalam gerakan memainkan tongkat yang dinamis. Ironisnya, tanpa sadar ia malah jadi badut di mata orang lain. Dibandingkan dengan Simbok, olah gerak Mbah Sura lebih kaya.

Semangat untuk membuat hal yang serius menjadi cair mungkin menjadi ciri khas Sanggar Wayang Suket, tempat dua koreografer ini bergabung. Apalagi pertunjukan kali ini juga membawa Ki Slamet Gundono dan Dedek Wahyudi, dua gembong sanggar, sebagai penata musik. Pilihan bermain-main dalam pementasan mereka memang dengan cepat menjalarkan keakraban, terlebih bila penonton memahami bahasa Jawa.

Di sisi lain, pilihan ini tak jarang membawa akibat serius, yaitu sulitnya mencapai momen yang dramatis. Intensitas emosi yang susah payah dibangun satu pemain bisa ambyar seketika karena celetukan pemain lain. Namun, mustahil untuk berharap agar para seniman yang tumbuh dalam iklim seni tradisi untuk menahan diri. Maut saja bisa membuat mereka cengengesan.

Yusi Avianto Pareanom


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data