Kalau Bola adalah Bom, dan Anak-Anak Mengejar Penjahat Karya seni rupa dengan komentar sosial berwujud mainan anak-anak digelar perupa Yuswantoro Adi di Galeri Lontar.
|
BAGAIMANA kalau mandi bola dan bolanya adalah bom? Perupa Yuswantoro Adi menggelar pameran seni rupa instalasi berbentuk mainan anak-anak di Galeri Lontar, Jakarta. Ide pameran ini—metafor politik lewat mainan anak-anak—muncul di tengah kegiatannya menjadi guru taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Sudah dua tahun, pemenang kompetisi seni rupa dari Philip Morris tingkat ASEAN 1997 itu tiap minggu mengajar menggambar di TK dan SD Budi Mulya, Seturan, Yogyakarta. Lalu kenapa "metafor politik" lewat mainan anak-anak? Yuswantoro, 36 tahun kini, menjadi guru murid TK dan kelas 2 SD gara-gara pernyataan politik: kritik Abdurrahman Wahid ketika masih presiden bahwa DPR tak ubahnya sebuah TK.
Dengan segenap kesungguhan, terwujudlah sebuah pameran yang disebut "Proyek Seni Rupa Belajar dan Bermain", berlangsung sekitar sebulan, dimulai 20 Januari lalu. Ada karya berupa jungkat-jungkit—dan inilah Mainan (harap dipahami sebagai Mahkamah) Agung. Ada silinder putar (Siapa Mengejar Siapa), ada perosotan, ada kuda-kudaan berkepala dua. Lalu aneka mainan mirip seperti di mal: mandi bola, jigsaw, video game, atau didong.
Dan dengan pintar Yuswantoro mengundang bintang cilik Sherina untuk membuka pameran ini: maka suasana Galeri Lontar yang berlokasi di Komunitas Utan Kayu itu, yang biasanya dihadiri pengunjung dewasa, hari itu mirip sebuah arena play group. Melengkapi suasana itu, diadakan juga berbagai lomba untuk anak-anak: melukis dan mewarnai, menyusun keping gambar (jigsaw puzzle), melipat kertas, dan menyusun komik.
Jadilah "metafor politik" yang segar, lucu, jenaka karena spontanitas anak-anak yang (tentunya) tak ambil pusing akan sisi "politik"-nya itu, bahkan (mestinya) sisi keseniannya. Tiba-tiba anak-anak itu menyatu dengan karya-karya itu—disengaja atau tidak. Lihatlah Siapa Mengejar Siapa. Ini sebuah silinder putar, dihubungkan dengan lembar kayu bersosok penjahat. Makin cepat kaki anak-anak mengayuh, si penjahat seolah makin jauh: sebuah parodi untuk tokoh untouchable dalam percaturan dunia hukum kita.
Pukul Aku Ha ha ha adalah sosok besar tinggi, dengan kostum baju setrip-setrip (seragam penjara), tapi bukan biru melainkan merah. Juga seragam ini mengingatkan pada kostum tokoh komik Walt Disney, si Berat. Anak-anak (pengunjung, maksudnya) dipersilakan menghantamnya dengan godam karet. Si boneka bakal terjengkang, tapi segera bangkit berdiri lagi. Sindiran untuk para penjahat yang tak terkalahkan?
Yang agak usil: Black Box, dipasang di Kedai Tempo—warung di komunitas ini. Sebuah kotak hitam besar, dengan lubang pengintip. Dengan seribu rupiah, anak-anak bisa mengintip gambar-gambar "porno". Menarik melihat reaksi wajah anak-anak setelah mengintip itu: dari yang cungar-cungir sampai yang terpesona.
Yang agak seram, keranjang untuk mandi bola. Ini mirip mandi bola di taman mainan anak-anak, tapi bola-bola plastik warna-warni itu dibentuk seperti bom. Dan dinding yang merupakan salah satu sisi "bak mandi" itu digambari api ledakan. Terbayang ketika bom-bom jatuh di Afganistan, atau Bosnia, atau di Tanah Palestina, dan anak-anak yang tak tahu apa-apa itu menjadi korban.
Inilah pameran yang baru "hidup" ketika anak-anak datang dan "masuk" ke dalam karya-karya—karya-karya yang sesungguhnya untuk orang tua mereka, untuk orang dewasa.
Pameran yang disebut Proyek Seni Rupa ini, yang kuat bau komentar sosialnya, mestinya bisa lebih klop bila diselenggarakan di ruang publik yang lebih dikunjungi masyarakat: sebuah mal, misalnya. Kita akan menyaksikan sebuah "teater seni rupa" atau semacam performance art yang tak lagi menaruh batas antara "pemain" dan penonton. "Pesan" dalam karya tidak saja langsung digaungkan ke tengah masyarakat, tapi juga secara spontan direspons.
Seno Joko Suyono
|