Pesawat tanpa Awak Jatuh di Sangihe |
SEBUAH bangkai pesawat tanpa awak (UAV atau unmanned aerial vehicle) ditemukan nelayan di perairan Pulau Tinakareng, Kecamatan Tabukan Utara, Sulawesi Utara. Pesawat mata-matakah itu? Pangkalan Udara dan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Manado menduganya sebagai pesawat pendeteksi cuaca.
Pesawat dengan panjang hampir 2 meter dan sayap segi empat itu terbuat dari fiberglass, dilengkapi seperangkat alat elektronik. Di tubuh pesawat, tertulis HVOW Sullins E 2CI0DRXH dan Aerosonde—juga tertera di ekor pesawat. Ada pula antene dengan tulisan Raddial/Larsen WB VHF. Dugaan bahwa pesawat itu pemantau cuaca berasal dari adanya alat sensor cuaca di belakang pesawat yang berhubungan dengan central processing unit (CPU). "Jaringan yang ada dalam pesawat sudah tidak lengkap. Tapi ini bukan jenis pesawat mata-mata," kata Kadispen A.K.P. Sudarsono, pekan lalu.
Namun, menurut pakar aeronautics Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga Direktur Aerospace Design Centre ITB, Djoko Sardjadi, kepada Rinny Srihartini dari TEMPO, pesawat itu juga bisa dimodifikasi sebagai pesawat mata-mata karena perangkat VHF-nya bisa digunakan untuk memancarkan foto atau data-data elektronik. Pesawat bernama Aerosonde ini buatan Amerika. Jenis ini pernah digunakan Australia sebagai pesawat mata-mata di atas Timor Timur pada tahun 1990-an.
Menurut Wakil Gubernur Sulawesi Utara, Freddy H. Sualang, pesawat itu memang diduga milik Amerika Serikat, tapi nyasar ke perairan Sangihe Talaud. "Amerika kan sudah ada di Mindanao. Jadi, kemungkinan itu pesawat Amerika," ujar Freddy kepada Verrianto Madjowa dari TEMPO.
I G.G. Maha Adi dan Arif A. Kuswardono
|