Mencetak Balita 'Einstein' Anak-anak balita belajar fisika, kimia, biologi, dan komputer. Sudah siapkah mereka?
|
INGGAR menyiapkan sebuah eksperimen kimia. Bocah berusia empat tahun itu meramu soda kue dan cuka, lalu memasukkannya ke selongsong bekas film. Tunggu sesaat, dan wuzz…! Selongsong film itu melesat ke angkasa diikuti suara letupan kecil. Teriakan girang khas anak-anak tak terbendung melihat uji coba roketnya berjalan mulus.
Usai dengan roket kimianya, Inggar melakukan pengamatan biologi. Layaknya ahli botani saja, bocah yang gigi susunya belum tanggal ini menuju ke kebun. Di sana dia mengumpulkan berbagai jenis dedaunan. Bersama tujuh teman sebaya, dia mengelompokkan jenis tanaman berdasarkan daun yang terkumpul.
Siapa mereka? Anak-anak jenius Indonesia? Mungkin suatu saat nanti. Tapi saat ini mereka hanya anak berusia di bawah lima tahun (balita) seperti yang lainnya. Ahad pekan lalu, mereka berkumpul dalam acara pembukaan DoctoRabbit, sebuah klub yang mengajarkan sains bagi anak-anak.
Dengan bantuan pembimbing, anak-anak itu melakukan uji coba yang biasa diajarkan untuk siswa sekolah menengah atas. Tentu saja tak perlu menghafal berbagai unsur kimia atau nama Latin tumbuhan. Mereka cukup meramu bahan yang disediakan pembimbing, lalu melihat hasilnya.
"Kami mengajak anak-anak bermain sambil praktek," kata Dyah Ratna Permatasari, Managing Director DoctoRabbit. Dengan cara itu, anak-anak belajar ilmu pengetahuan dari percobaan yang dilakukan sendiri. Menurut sarjana kimia ini, anak-anak akan mudah mengingat, karena mencoba dan melihat sendiri hasilnya, ketimbang belajar teori seperti di sekolah formal.
Makanya Dyah lebih suka menyebut DoctoRabbit, yang terletak di Cinere, Jakarta Selatan, sebagai klub sains ketimbang taman kanak-kanak atau kursus. Selain diikuti anak balita mulai umur dua tahun, klub ini diikuti anak sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Mereka berkumpul sekali dalam sepekan. Untuk bergabung dengan klub ini, orang tua harus menyerahkan uang sejuta rupiah. Jumlah yang sama harus dikeluarkan sebagai biaya pendidikan satu paket yang berdurasi tiga bulan. Kalau mau yang berbahasa Inggris, tambah lagi setengah juta rupiah.
Model pengajaran sains untuk anak balita memang baru kali ini ada di Indonesia. Namun, menjadikan anak balita sebagai pangsa pasar sudah semarak tumbuh dalam lima tahun terakhir, dari metode Kumon, sempoa, bahasa Inggris, hingga komputer untuk anak-anak.
Salah satunya Future Kids di Palmerah Barat, Jakarta Pusat, yang memberikan kursus komputer bagi anak balita hingga sekolah menengah pertama. Kamis lalu, TEMPO menemui Alberto dan Roberto, anak kembar yang belum genap berusia empat tahun. Mereka belajar di ruangan berisi lima komputer yang dipenuhi gambar tokoh kartun seperti liliput, Simba, dan Aladdin.
Seorang pembimbing mengajak si kembar mengamati gambar tikus di layar monitor. Tikus itu dikelilingi sejumlah kotak warna-warni. Saat sebuah warna dipencet, komputer itu mengeluarkan suara menyebut warna itu dalam bahasa Inggris. Nah, tugas si kembar mengetik ulang kata dari suara itu. "Suka komputer?" TEMPO mencoba bertanya kepada Roberto. Mungkin Roberto tak cukup paham apa yang harus disukai dari benda itu. Dia hanya menjawab dengan senyum kecil.
Kursus komputer ini merupakan waralaba dari Amerika Serikat yang kini menyebar di 40 negara. Di Indonesia sendiri—setelah tujuh tahun—kini ada 30 cabangnya di kota-kota besar.
Inggar dan Roberto merupakan contoh dari anak-anak yang beruntung. Orang tua mereka mampu mengeluarkan uang ekstra untuk kursus yang menelan biaya ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Terkadang seorang anak mengikuti dua atau tiga jenis kursus secara bersama.
"Sekarang memang muncul tren sekuler mengikuti pengaruh global," kata pengamat pendidikan Prof. Conny Semiawan. Orang tua cenderung gengsi tanpa melihat minat dan bakat anak. Menurut Conny, belum saatnya anak-anak itu belajar keterampilan. Mereka harus belajar dalam suasana kreatif bermain sambil mencoba problem solving.
Menurut Seto Mulyadi, psikolog anak, mengajarkan sains dan teknologi bagi anak-anak harus dengan bermain dan dalam suasana menyenangkan. "Jadi bukan what-nya, tapi how to-nya," kata pria yang lebih dikenal dengan sebutan Kak Seto ini. Ditanya tentang ambisi orang tua lewat anak, menurut dia, jika dalam waktu singkat anak harus masuk ke sekolah internasional yang serba komputer, pendidikan seperti itu sah-sah saja.
"Tapi, kalau nantinya anak harus melihat bangsanya yang masih penuh penderitaan, takutnya malah frustrasi," kata Seto lagi. Masih lebih baik, Kak, daripada orang tua yang kini frustrasi tak bisa menyekolahkan anaknya.
Agung Rulianto, Purwani Diyah Prabandari
|