Rekomendasi Kepagian Organisasi Muhammadiyah membidik kursi presiden buat kadernya. Mulai masuk wilayah politik?
|
ORANG Muhammadiyah mulai gregetan. Selama empat tahun era demokrasi berjalan, kata Ahmad Syafi'i Ma'arif, tiga orang presiden, yang bukan berasal dari organisasinya, silih berganti menduduki pucuk kepemimpinan nasional. Dan, "Perubahan tak juga kunjung datang," ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu.
Ucapan Syafi'i meluncur dalam pidato pembukaan Tanwir Muhammadiyah di Bali, Kamis dua pekan lalu. Tersirat jelas, adanya keinginan diam-diam organisasi Islam modern itu untuk merebut kursi nomor satu di republik ini. Dan Sidang Tanwir itu pun menjadi pintu peletup hasrat tersebut. Dalam penutupan forum tahunan itu, sejumlah rekomendasi dikeluarkan. Salah satunya, mengamanatkan agar Muhammadiyah memperjuangkan kader terbaiknya menjadi pemimpin nasional.
Sesungguhnya dalam sidang-sidang komisi, tak satu pun yang mengagendakan soal calon presiden. Diskusi soal-soal politik dalam forum tertinggi setelah muktamar itu pun cuma diberi jatah pada pleno ketujuh. Tapi ada kader yang tak sabar. Dalam pleno kedua, Ketua Muhammadiyah Sumatra Barat, Shofwan Karim, tiba-tiba meletuskan soal perlunya organisasi berlambang matahari ini mengambil posisi strategis dalam kepemimpinan nasional. Ia bahkan terang-terangan meminta Tanwir menetapkan Amien Rais, bekas Ketua Umum Muhammadiyah yang kini memimpin Partai Amanat Nasional (PAN), sebagai calon presiden.
Shofwan, yang juga dikenal sebagai tokoh PAN Sumatra Barat, telah membawa misi partainya ke forum sebuah organisasi sosial keagamaan. Partai ini memang telah lama mengelus Amien sebagai calon presiden.
Walau pertalian PAN dan Muhammadiyah amat erat, Tanwir mengunyah usul itu dengan alot. Selain tak diagendakan, para petinggi organisasi ini khawatir wacana tersebut bisa menyeret mereka ke dalam perebutan kekuasaan. Ini jelas gawat, karena bisa mencemari khitah perjuangan yang diniatkan sebagai organisasi kemasyarakatan dan dakwah Islamiah.
Lalu kenapa akhirnya lolos juga? Usul Shofwan rupanya menjadi bola salju. Topik kepemimpinan nasional terus mengemuka di setiap sidang. "Muhammadiyah punya beban sejarah," tutur Syafi'i. Dalam perjalanannya, Indonesia pernah dipimpin oleh Bung Karno dan Soeharto, yang mengaku Muhammadiyah. "Tapi kok kita tidak bisa membangun bangsa ini secara baik," katanya.
Jelas, organisasi yang didirikan oleh K.H. Achmad Dahlan pada 1912 itu mulai merambah ke pelataran politik. Gejalanya sudah mencuat dalam Tanwir Muhammadiyah pada 1993 di Surabaya. Saat itu Amien Rais menyerukan perlunya regenerasi kepemimpinan nasional, sebuah pernyataan yang membuat gerah pemerintahan Soeharto.
Reaksi terhadap rekomendasi Tanwir kali ini justru dari kalangan Muhammadiyah sendiri. Menurut bekas Ketua Pemuda Muhammadiyah, Hajrianto Y. Thohari, keputusan itu tak jelas arahnya. "Persoalannya bukan sekadar kader Muhammadiyah menjadi calon presiden, namun siapa dan dari partai mana kader itu berasal," kata Wakil Sekretaris Fraksi Partai Golkar MPR ini kepada Levi Silalahi dari TEMPO.
Kritik itu beralasan. Sekarang tokoh Muhammadiyah tersebar di hampir semua partai. Selain Amien Rais, Syafi'i juga menyebut Ketua Umum Partai Bulan Bintang Yusril Ihza Mahendra, dan Presiden Partai Keadilan Hidayat Nurwahid, sebagai kader Muhammadiyah. "Mungkin hanya di partai Kristen yang tidak ada," katanya.
Bahkan Wakil Ketua PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, menilai rekomendasi itu sebagai perangkap yang bisa menjerat sendiri. Meski menerima sepenuhnya keputusan Tanwir, ia mengaku awalnya menolak ide itu. Alasannya, menetapkan kader yang diunggulkan jelas tak mudah. Selain itu. "Ini sama saja mendorong orang Muhammadiyah untuk menyokong partai si calon presiden itu," kata Din, yang pernah menjadi Ketua Badan Penelitian dan Pengembangan Golkar.
Lepas dari kecaman itu, rekomendasi tersebut merupakan manuver cerdik para kader Muhammadiyah di PAN. Sejak dini mereka menjajakan Amien sebagai calon presiden dari kalangan Islam modern. Dan ini penting karena dalam pemilihan presiden secara langsung tahun 2004 nanti, diperkirakan pertarungan akan mengkristal antara kelompok Islam dan nasionalis. Jadi, ini kampanye awal PAN untuk mengukuhkan Amien sebagai jago kubu Islam.
Apa kata Amien sendiri? Ia menyebut pencalonan itu terlalu pagi. "Orang Jawa bilang itu nggege mongso," ujarnya.
Hanya, Amien tidak menjelaskan kenapa ia tak mencegahnya.
PL, Ardi Bramantyo, Jalil Hakim, dan Rofiqi Hasan (Bali)
|