Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 49/XXX/04 - 10 Februari 2002
   
Media

Anak Muda Pindah Tongkrongan

Kontrak kerja sama antara MTV dan Anteve akan berakhir April depan. Kini MTV berancang-ancang pindah ke stasiun TV lain. Bagi Anteve, itu bukan masalah.

TAK kurang dari tujuh tahun Anteve menayangkan program Music Television—lebih dikenal dengan sebutan MTV—yang selalu hiruk-pikuk tapi disenangi anak muda itu. Kini, hubungan Anteve dengan MTV tampaknya akan segera berakhir. Kepastian tentang sebuah perpisahan memang masih harus menunggu kaji ulang kontrak yang akan dilakukan manajemen MTV di Singapura, 15 Februari mendatang. "Saat itu akan ditentukan jadi-tidaknya MTV pindah dari Anteve," kata Manajer Humas MTV, Muthia Farida.

Namun, jadwal kaji ulang itu sendiri sesungguhnya sudah mengisyaratkan pilihan yang akan diambil MTV. Memang, berdasarkan kesepakatan, bila hendak hengkang dari Anteve, MTV harus memberitahukan tiga bulan sebelumnya. Kontrak antara MTV, yang terkenal dengan semboyan "tempat anak muda nongkrong", dan stasiun TV milik keluarga Bakrie itu baru akan berakhir April mendatang. Tersisa tiga bulan—yang terlalu pas-pasan—bagi Anteve untuk mencari program pengganti MTV.

Masalahnya, MTV disebut-sebut akan hijrah mungkin ke Global TV atau bisa juga ke stasiun lain. Beberapa waktu lalu, stasiun TV ketiga milik Bimantara Citra itu telah menyatakan ketertarikan dan minatnya. "Kami sudah meneken nota kesepahaman yang bersifat penjajakan," kata juru bicara Bimantara Citra, Intan Abdams. Acara-acara MTV yang disukai kalangan ABG (anak baru gede) ini agaknya dipandang cocok dengan segmen Global TV, yang membidik penonton berusia 15 sampai 29 tahun.

Bagi pemasang iklan, potensi penonton MTV yang kerap disebut sebagai generasi MTV itu memang cukup besar. Ini diperkuat oleh keterangan Muthia, yang mengatakan bahwa selain Global TV, ada beberapa stasiun TV yang tertarik menayangkan acara MTV.

Jika MTV benar-benar hengkang, ini berarti untuk kedua kalinya Anteve kehilangan tayangan andalan, setelah kepergian kuis Family 100 ke Indosiar beberapa waktu silam. Kepergian MTV dikhawatirkan bisa mengurangi citra Anteve sebagai stasiun teve anak muda. Padahal selama ini MTV dan Anteve sudah menyatu, bahkan identik. Di Anteve juga, MTV mengembangkan acara berkandungan lokal seperti MTV 100 Persen Indonesia dan MTV Dangdut.

Dari segi bisnis, kepergian MTV diperkirakan akan menambah berat beban keuangan Anteve. Soalnya, pembayaran MTV terhitung ringan. Kelebihan lain MTV, program ini tidak keberatan dibayar belakangan, sementara program lain harus dibayar di muka. Selain ringan, MTV dibayar dengan cara membagi dua keuntungan hasil iklan. Sekarang ini pendapatan iklan pada program MTV boleh dikatakan lumayan—hampir mencapai Rp 2 miliar per bulan.

Keuntungan itu ternyata dapat menutup sebagian biaya operasional Anteve. Seperti diketahui, untuk satu jam tayang, sebuah stasiun TV harus mengeluarkan Rp 25 juta. Bila dalam satu hari mengudara selama 18 jam, itu berarti duit yang dikeluarkan mencapai Rp 450 juta per hari atau Rp 13,5 miliar per bulan. Itu belum termasuk biaya untuk membeli program siaran. Yang pasti, dengan MTV, beban pengeluaran Anteve sudah terasa memberatkan, apalagi tanpa program khas anak muda itu.

Dan perlu dicatat juga bahwa saat ini Anteve masih mengidap lesu darah. Anteve masih memiliki utang obligasi sebesar US$ 56 juta atau setara dengan Rp 560 miliar (dengan kurs Rp 10 ribu per dolar AS). Di sisi lain, pen-dapatannya seret karena banyak programnya tak laku. Maklum, persaingan dengan stasiun lain semakin ketat.

Karena kondisi sulit itu pulalah Anteve melakukan penghematan, misalnya dengan membeli program berbiaya murah yang kebanyakan merupakan program lokal. Seiring dengan itu, program impor diirit sebisa-bisanya. Cara lain adalah dengan memutar ulang (rerun) acara-acara lawas. Dalam rangka penghematan pula, sebagian besar kegiatan operasionalnya kini dipindahkan dari Gedung Sentra Mulia ke Wisma Bakrie, yang juga kepunyaan pemilik Anteve.

Berbagai penghematan itu membuat acara Anteve kurang menarik kalau tak mau dikatakan membosankan. Dan menghilangnya program MTV bisa benar-benar membuat Anteve gersang, tanpa entakan dan kesegaran. Bukan mustahil Anteve akan sulit mengudara. Soalnya, sehari-hari acara MTV-lah yang praktis mengisi sebagian besar jam tayang Anteve.

Menghadapi tantangan hidup-mati seperti itu, awak Anteve tampak tetap optimistis. "Tak masalah bila MTV mau pindah ke stasiun lain. Kami sudah menyiapkan program penggantinya," kata pejabat humas Anteve, Zoraya Perucha. Pihak manajemen, menurut dia, sudah membuat rencana ke depan sejak November 2001. Anteve juga sedang menunggu investor baru yang bersedia menyuntikkan duit segar. "Pendeknya," kata Zoraya bersemangat, "kendati dengan darah dan air mata, kami akan tetap mengudara."

Nugroho Dewanto, Agus S. Riyanto, Gita Widya Laksmini


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data