Oleh-Oleh Membawa Maut Sepuluh anggota tentara membawa oleh-oleh HIV dari luar negeri. Mereka tidak dikenai sanksi militer karena dianggap sebagai korban. Kenapa?
|
PENYAKIT memang tak pernah pandang bulu. Biarpun korbannya berpangkat kopral, kolonel, atau jenderal sekalipun, penyakit tidak peduli. Maka tidak aneh bila tentara pun tidak kebal terhadap musuh yang saat ini termasuk paling membahayakan manusia: AIDS. Justru ganjil bila para penyandang senjata—tentara dan polisi—belum cukup sadar terhadap bahaya penyakit mematikan bernama keren acquired immune deficiency syndrome itu. Namun, agaknya justru itulah yang terjadi.
Hal itu terungkap dari pernyataan Laksamana Pertama Tito Sulaksito, Direktur Kesehatan Departemen Pertahanan, yang membuka kasus AIDS di lingkungannya. "Saat ini memang ada anggota kami yang mengidap HIV (human immunodeficiency virus, perontok kekebalan tubuh). Meski jumlahnya tak sampai 10 orang, kami tetap sangat peduli," kata Tito Sulaksito. Bentuk kepedulian itu, antara lain, diwujudkan dengan menggelar sebuah semiloka yang dilangsungkan di Jakarta, dua pekan lalu. Dengan semiloka bertema "Program Penanggulangan Penyakit Menular Seksual dan HIV/AIDS di Lingkungan Departemen Pertahanan dan Polri" itu, kesadaran tentara dan polisi terhadap musuh tak kasatmata bernama HIV diharapkan bisa tergugah.
Boleh jadi para prajurit belum menyadari adanya invasi HIV di lingkungan mereka. Maklum, sepuluh orang penyandang HIV itu sendiri saat ini masih berdinas aktif seperti biasa. Mereka memang masih dalam taraf tercemar. Selama masa inkubasi, virus itu belum beraksi, sehingga pengidap HIV masih bisa tampil seperti orang sehat. Namun, begitu tiba masanya virus beraksi, daya tahan tubuh penderita akan rontok dan akhirnya berujung pada kematian.
Demi menghindari korban yang lebih besar, digeberlah semacam program peduli AIDS di kalangan tentara untuk menggugah kesadaran terhadap bahaya penyakit itu. Di kalangan masyarakat umum saja, yang gencar digedor kampanye AIDS, korban masih terus berjatuhan. Di Indonesia saat ini, menurut catatan resmi pemerintah, AIDS telah menggerogoti 2.575 orang. Kecenderungannya terus meningkat karena tahun lalu korban AIDS "baru" 1.624. Peningkatan penderita AIDS paling banyak terjadi di kalangan pengguna narkotik dan obat berbahaya yang menggunakan jarum suntik bersama.
Di kalangan tentara, HIV adalah oleh-oleh yang dibawa para prajurit yang ditugasi di luar negeri, antara lain yang diterjunkan sebagai pasukan penjaga perdamaian. Di daerah-daerah konflik tersebut, beberapa prajurit diperkirakan mendapatkan HIV karena tabiat suka "jajan" alias membeli seks dari pelacur. Di sana bersenang-senang, sesampai di Tanah Air, setelah darah mereka diperiksa, baru ketahuan bahwa tubuh mereka telah dihuni virus penebar maut itu.
Ketika jauh dari keluarga, melacur memang bisa menjadi pilihan yang sangat menggoda. Di Kamboja, hanya perlu US$ 1 untuk mendapatkan kepuasan seksual. Bahkan Tito sempat mendengar cerita dari tentara yang baru pulang dari Kamboja bahwa pelacur berparas ayu, yang di Jakarta tarifnya bisa sampai Rp 1 juta, di Kamboja bisa ditebus cukup dengan US$ 3 atau sekitar Rp 30 ribu. Buat yang tak kuat iman, godaan semacam itu agaknya terlalu menarik untuk dilewatkan begitu saja. Apalagi bila mereka telah berbulan-bulan jauh dari istri. Misi pengiriman pasukan ke luar negeri sebenarnya hanya 3 bulan. Tapi, karena belum ada pasukan pengganti, banyak pasukan yang terus diperpanjang masa dinasnya hingga 1-2 tahun.
Apa boleh buat, HIV pun sukses menyusupi lingkungan tentara. Kasus penyusupan ini sebenarnya telah dideteksi beberapa tahun lalu. Dan menurut aturan militer, pembawa oleh-oleh virus itu bisa dikenai sanksi. Namun, menurut Tito, Departemen Pertahanan memilih menggunakan pendekatan ilmiah kesehatan. Jadi, mereka dianggap sebagai korban. Karena itu, selain tetap diperbolehkan bekerja seperti biasa, mereka mendapat peng-obatan dan konsultasi rutin. Kerahasiaan penyakit mereka pun dijamin tak bocor ke luar. Pendekatan seperti ini dipilih demi mencegah tumbuhnya dendam pada diri mereka. Jika dendam itu terjadi, dikhawatirkan, mereka malah rajin "jajan" di luar dan mengobral penyakit kepada siapa saja. Kalau seperti itu, "Di Indonesia akan sangat banyak penderita HIV/AIDS," ujar Tito.
Pendekatan semacam itu diamini Ketua Pelaksana Harian Kelompok Studi Khusus AIDS Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Dr. Zubairi Djoerban. Salah satu prinsip penanganan terhadap penderita HIV/AIDS, kata Zubairi, adalah kerahasiaan terjamin. Bahkan, jika ada anggota tentara yang positif terserang HIV, atasannya pun tak perlu tahu. Kalaupun ada yang tahu, paling-paling tim medis saja. Dengan begitu, penderita tetap bisa beraktivitas tanpa dihantui berbagai kekhawatiran dan ketakutan. Lagi pula, prajurit yang lain tak perlu khawatir. Sebab, "Kerja satu barak kan tidak menjadi sumber penularan," ujar Zubairi.
Dwi Wiyana
|