Bercerita dengan Lirik Lirik dan musik yang sederhana adalah kekuatan Lighthouse Family. Kelompok ini ibarat jembatan yang pas bagi mereka yang baru mulai mengenal musik rhythm and blues.
|
Ratusan manusia menggelosor di lantai Jakarta Convention Center, awal pekan lalu. Udara ruangan sumpek dan melelahkan. Beberapa orang membunuh rasa bosan dengan memelototi goyangan beberapa artis Ibu Kota di layar televisi. Ada yang menyender ke tembok sembari tidur-tiduran, atau merumpi dengan suara rendah. Tiba-tiba ratusan manusia itu bagai tersetrum listrik, bersicepat merapat ke panggung. Yang membetot perhatian mereka adalah seorang pria gundul berkulit hitam. Tubuhnya berbalut jaket santai berwarna abu-abu yang terlalu kelabu untuk memikat mata.
Namun, saat si gundul—namanya Tunde Baiyuwe, dari kelompok musik Lighthouse Family—bernyanyi, penonton terpaku di kursi dan memberinya tepuk tangan bertalu-talu. Padahal aksi panggung penyanyi gundul ini statis, sepi dari kehebohan pertunjukan artis musik kelas internasional. Lighthouse Family bukan nama yang menggetarkan dalam dunia rhythm and blues (R&B)—seperti Aretha Franklin. Mereka sebuah kelompok yang lahir pada 1995 dari New Castle, Inggris. Musik-musiknya populer, terutama di kalangan kaum remaja. Bila gemuruh tepuk tangan dan penuhnya penonton yang jadi ukuran, pertunjukan di Convention Center malam itu tergolong sukses. Dan itu se-betulnya bisa menjadi semacam rangsangan untuk menghidupkan lagi tradisi lagu R&B yang sempat disulut oleh album pertama Reza Artamevia, Keajaiban, pada 1998.
Sejak meledaknya album Reza ini—disusul berdirinya kelompok musik Bunglon dan The Groove, yang beraliran R&B—belum ada lagi entakan baru pada pasar musik ini. Jadi, cocoklah sudah Lighthouse menjejakkan kaki di Jakarta: mereka mampir dalam rangkaian tur album mereka yang terbaru di Asia Tenggara, Whatever Gets You through the Day. Tur ini ibarat langkah yang tepat untuk mengisi pasar R&B yang sedang "butuh barang baru". Tak mengherankan jika, tanpa perlu repot-repot berpromosi di televisi, album mereka bisa terjual hingga hampir 80 ribu keping lebih di Indonesia. Bahkan album terbaru mereka yang tengah dipromosikan di atas sudah laku 25 keping lebih. "Musik mereka mudah diikuti dan akrab di kuping," Shanti Tandayu, 24 tahun, salah satu penonton, memberi komentar kepada TEMPO.
Rasa akrab terhadap musik Lighthouse memang diperlihatkan penonton malam itu. Mereka ikut menggumamkan lirik-lirik yang dinyanyikan Baiyuwe, yang malam itu hadir tanpa Paul Tucker—pemain keyboard. Tucker, yang batal datang karena sakit, adalah peletak konsep musik Lighthouse. Dia juga sosok yang menjadi identitas Lighthouse selama ini. Duo Tucker dan Baiyuwe memang belum mendunia—jika menembus pasar R&B Amerika yang menjadi syarat. Tapi, untuk kelompok R&B seusia mereka, Lighthouse Family termasuk berhasil.
Di Indonesia, misalnya, kelompok ini populer melalui jaringan radio swasta. Terutama setelah singel ketiga mereka, Lost in Space (1998), beredar. Hit-hit mereka, macam High, Postcard from Heaven, dan Lost in Space, terdengar pertama kali lewat radio Hard Rock FM di Jakarta. Tak lama kemudian menular ke radio-radio lain. "Mereka disukai karena lirik dan musiknya yang sederhana, tapi enak didengar," katas Reginald Suriasubrata, Label Manager Universal Music Indonesia—pemegang lisensi album-album Lighthouse Family di Indonesia.
Sebetulnya apa yang menjadi inti kekuatan kelompok yang masih belia ini? Pengamat musik Denny M.R. mengatakan, "Lighthouse Family adalah satu kelompok musik yang selalu berusaha menciptakan terobosan dalam setiap album mereka," ujarnya kepada TEMPO. Dalam hal unsur bunyi, misalnya. Di lagu Whatever Gets You through the Day, misalnya, permainan basnya yang funky mampu menggelitik kuping. Permainan seperti ini belum muncul dalam dua album mereka yang pertama.
Dalam pengakuannya kepada TEMPO, Tunde Baiyuwe menegaskan niat mereka untuk selalu membuat terobosan: "Kami tidak ingin terperangkap dalam tren, dan semoga musik kami yang seperti ini bisa bertahan lama," ujarnya kepada TEMPO. Selain terobosan dalam unsur bunyi, lirik mereka juga menjadi salah satu kekuatan lain. Misalnya, di saat semua artis musik ramai-ramai bicara cinta, Lighthouse mengangkat tema persahabatan. "Lirik mereka sederhana tapi sarat makna," Denny menjelaskan.
Kesederhanaan yang sama terlihat pula dalam penampilan mereka, pekan lalu. Tanpa dekorasi ataupun aksi panggung yang heboh, Lighthouse Family toh bisa memaku penonton di Jakarta Convention Center hingga akhir pertunjukan.
Arif A. Kuswardono
|