Pemulihan Ekonomi atau 'Double Dip'? Di World Economic Forum, para pemimpin dunia yakin ekonomi akan pulih dengan AS sebagai motornya. Tapi ada juga yang memperkirakan penurunan ekonomi untuk kedua kalinya.
|
World Economic Forum (WEF) tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Sejak pertama kali diadakan pada tahun 1971, forum informal bagi para tokoh bisnis, politik, akademisi, dan tokoh masyarakat dari seluruh dunia ini selalu diselenggarakan di Davos--sebuah kawasan indah di Swiss, yang terkenal dengan pusat wisata ski.
Namun, atas inisiatif pemrakarsa WEF, Klaus Schwab, tahun ini Davos diganti dengan New York. Perubahan itu merupakan manifestasi dari keprihatinan para peserta WEF terhadap tabrakan maut atas World Trade Center, yang menewaskan lebih dari 3.000 warga New York. Tragedi yang dahsyat ini bukan saja mengubah cara Amerika dalam memandang dunia, tapi juga mempercepat resesi--yang memang sudah terlihat tanda-tandanya sejak awal 2001.
Terlepas dari dukacita Amerika, pertemuan WEF di New York kali ini tetap diwarnai aksi unjuk rasa--seperti yang selalu terjadi di Davos. Tema demonstrasi juga sama, yakni antiglobalisasi. Bedanya, kini unjuk rasa berlangsung secara lebih bersahabat dan jumlah aktivisnya tidak begitu banyak. Di antara pendemo, ada sekitar 70 penganut Falun Gong yang memprotes pemerintah Cina karena melarang kegiatan mereka. Pendek kata, jauh berbeda dengan aksi demo di Davos setahun sebelumnya, yang begitu menantang dan diikuti oleh ribuan orang, demo di New York cukup lunak, sementara polisi tetap saja mengerahkan 4.000 petugas untuk mengamankan acara bergengsi ini.
Maka, dalam suasana teduh, para tokoh dalam forum WEF di Hotel Waldorf-Astoria dapat dengan tenang membahas masalah pemulihan ekonomi global, di samping soal keamanan dan terorisme. Topik pemulihan ekonomi penting sekali karena ekonomi dunia pasca-tragedi World Trade Center memang mengkhawatirkan. Terlebih karena serangan 11 September telah dengan cepat memperburuk kondisi ekonomi AS dan dunia secara keseluruhan.
Ini terlihat dari angka gross domestic product (GDP) AS, yang hanya 0,2 persen di kuartal kedua tahun lalu, bahkan minus 0,4 persen di kuartal ketiga. Dan baru kali ini The Fed menurunkan tingkat suku bunganya hingga 10 kali dalam setahun. Kebijakan ini tampaknya dilakukan untuk memacu pertumbuhan ekonomi AS. Paralel dengan itu, Gubernur Bank Sentral AS, Alan Greenspan, harus menekan suku bunga sampai 2 persen per tahun. Padahal laju belanja konsumen hanya 1,2 persen di kuartal ketiga, berarti turun dari 2,5 persen di kuartal kedua. Banyak juga perusahaan yang memecat karyawannya sehingga tingkat pengangguran di AS mencapai 5,7 persen. Dan inilah yang terburuk sejak tahun 1995.
AS, yang berperan sebagai lokomotif ekonomi dunia itu, terpukul berat gara-gara serangan teroris. Di sisi lain, ekonomi Jepang juga memburuk. Karena ekspor merosot, surplus perdagangannya dengan Asia jatuh sekitar 30 persen. Jerman, yang menjadi penggerak ekonomi Eropa, juga tidak lebih baik. Angka pertumbuhan ekonomi Inggris pun turun di bawah 2,1 persen. Pokoknya, data yang ada sama sekali tidak menjanjikan.
Namun, sebagian besar tokoh ekonomi yang berkumpul di WEF memperlihatkan optimismenya. Mereka yakin ekonomi dunia akan membaik--dengan prasyarat, ekonomi AS juga membaik. "Berita dunia tahun ini adalah berita Amerika, sebuah mesin bagi dunia," ujar Jacob Frenkel, Presiden Divisi Internasional Merryll Lynch & Co. dan mantan gubernur Bank Israel.
Klaus Zimmerman, Presiden Institute of Economic Research, memperkirakan bahwa Eropa mungkin akan pulih pada kuartal ketiga atau keempat tahun ini. "Tetapi lebih lambat dari AS," ujarnya. Dan Jepang, menurut Frankel, masih akan terpuruk. "Jepang akan terus mengalami resesi hingga masalah sistem finansial dan perbankan bisa diselesaikan dengan tepat," ia menegaskan.
Yang paling optimistis adalah pejabat senior Dana Moneter Internasional (IMF), Stanley Fisher. Katanya, AS akan segera mengakhiri resesi dalam satu atau dua bulan mendatang. "Mereka (The Fed) yakin ada banyak ekspansi yang berpangkal dari suku bunga yang sangat rendah dan ekspansi fiskal," tutur Fisher. Diperkirakannya, Eropa akan mengikuti langkah AS, tapi Jepang tetap tidak bisa diprediksikan. Dia juga menyayangkan adanya ketergantungan yang sangat besar pada AS untuk pemulihan ekonomi global ini. Pendapat Fisher ini diterima secara luas oleh para peserta WEF.
Pada saat yang sama, masih ada ekonom yang khawatir dengan kondisi ekonomi global. Alasannya, belanja konsumen masih sangat rendah dan tingkat pengangguran juga masih tinggi. Bahkan kepala ekonom Morgan Stanley, Stephen Roach, bersikeras bahwa AS dan dunia masih terancam resesi. Roach bahkan memperkirakan akan terjadi double dip alias penurunan ekonomi susulan pada musim semi nanti. Menghadapi kemungkinan ini, negara berkembang seperti Indonesia tidak bisa berbuat banyak kecuali mentunggu, sambil terus berjaga-jaga.
Purwani D. Prabandari, Supriyono (New York), dan berbagai sumber
|